Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
BUKUKABARNALAR

PID, Sang Periskop Kolonial

Desember 18, 2014
_DSC0002

© Rahquel

 

Judul                : Memata-matai Kaum Pergerakan (Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda  1916 – 1934) 

Penulis            : Allan Akbar

Penerbit         : Marjin Kiri, 2013, Tangerang

Bahasa             : Indonesia

Tebal buku   : xvii + 117

 

Berawal dari Politik Etis, yaitu sebuah kebijakan baru pemerintah kolonial di awal abad ke-20 rakyat pribumi mulai memperoleh perhatian terutama di bidang pendidikan. Akibatnya, pada masa Etis ini, muncul sebuah lapisan masyarakat baru yakni lapisan pribumi terpelajar. Namun demikian, tentu saja sebagian besar dari kalangan ini masih berasal dari lingkungan priyayi.

Sejak pendidikan mulai menyentuh sebagian rakyat pribumi, sedikit banyak hal itu telah memengaruhi pola pikir mereka terutama dalam aspek perjuangan. Secara berangsur-angsur pola perjuangan bangsa Indonesia mulai berubah tidak lagi bersifat kedaerahan, namun mulai muncul rasa kebersamaan yang menyeluruh.

Pada tahun 1908, mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) yang sadar akan kemerdekaan Indonesia membentuk organisasi dengan nama Boedi Oetomo. Organisasi ini merupakan organisasi modern pertama yang bertujuan untuk memersatukan warga pribumi dan mengupayakan sarana-sarana terbaik untuk memajukan bangsa dan Negara Hindia Belanda. Selain itu, muncul juga organisasi Sarekat Islam bentukan dari H. Samanhoedi dengan tokoh sentralnya yaitu Raden Oemar Said Tjokroaminoto.

Menyadari pergerakan sosial-politik masyarakat pribumi yang kian berkembang, maka muncul kekhawatiran dari pemerintah kolonial itu sendiri. Mereka menilai hal ini sebagai sebuah ancaman terhadap keutuhan kekuasaan kolonial. Atas dasar itu maka dibentuklah kepolisian modern di Hindia Belanda yang bertugas untuk mengawasi pergerakan-pergerakan nasional yang dianggap melampaui batas dan bersifat mengancam.

Kepolisian modern di Hindia Belanda yang dikenal dengan Politieke Inlichtingen Dienst (PID) resmi dibentuk pada Mei 1916. PID dibentuk pada saat Perang Dunia I sedang berkecamuk sehingga menyebabkan komunikasi langsung antara Hindia Belanda dengan negeri induknya terputus. Hal ini memaksa pemerintah Hindia Belanda untuk menjalankan pemerintahan secara mandiri. Kehadiran PID sebagai “periskop” yang akan membantu pemerintah kolonial untuk mengetahui perkembangan pergerakan nasional serta dianggap perlu untuk menjaga keamanan dan stabilitas Hindia Belanda.

Setelah Perang Dunia I berakhir yaitu pada tahun 1919, kehadiran PID dirasa sudah tidak diperlukan lagi. Oleh karena itu, Muurling yang merupakan pimpinan dari PID sendiri merekomendasikan agar PID dibubarkan. Atas dasar itu maka PID resmi dibubarkan pada April 1919.

Setelah PID dibubarkan, ternyata kondisi stabilitas dan keamanan Hindia Belanda oleh pemerintah dinyatakan semakin memburuk. Akhirnya beberapa bulan setelah pembubaran PID, pada tahun yang sama dibentuklah Algemeene Recherché Dienst (ARD) sebagai pengganti PID dengan kewenangan yang lebih luas. Namun demikian, masih lekat dalam ingatan masyarakat pribumi segala aktivitas pengawasan oleh ARD lebih dikenal sebagai tindakan dari PID. Padahal PID sendiri sudah dibubarkan beberapa bulan sebelumnya.

Buku ini menarik karena memberikan dekskripsi tentang kegiatan perikop di masa kolonial, bahwa ternyata  kegiatan “memata-matai” tidak hanya terjadi di era sekarang ini. Buku ini juga memberikan pemahaman kepada para pembaca tentang dunia pergerakan dari sisi yang berbeda dengan bukti-bukti yang otentik. Buku ini menyadarkan kita betapa intelijen kita hari ini mewarisi gaya kerja intelijen kolonial. Namun demikian, terdapat kekurangan dari buku ini, yaitu penulis terlalu berlebihan dalam menginterpretasikan bukti yang ada seperti saat penulis bersikukuh secara rahasia Agus Salim masih membuat sejumlah laporan tentang kegiatan Sarekat Islam untuk pemerintah padahal  Agus Salim tidak menemukan bukti konkret kebenaran kabar angin itu sehingga ia pun memutuskan hubungan dengan ARD.

Buku ini layak dibaca oleh siapapun, terutama militer,  pejabat, atau pengamat intelejen yang diharapkan mampu mencegah dan menanggulangi ancaman-ancaman pada masa sekarang seperti terorisme, spionase dan separatisme. Dinas intelejen seharusnya menyadari perannya sebagai pihak pengawal dinamika yang terjadi di dalam pemerintahan Indonesia guna menciptakan Indonesia yang adil dan sejahtera, bukan justru  memandang masyarakat Indonesia itu sendiri bahaya utama yang mesti diwaspadai. [Husnul dan Riska]

Alan AkbarDinas IntelejenHindia BelandaPID
1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Muhidin M. Dahlan: Ekosistem Aktivis Pengaruhi Disorientasi Aktivisme

Firhandika Santury: Perjuangan Hak Pekerja Seks Bukan Sekadar...

Fatia Maulidiyanti: Penempatan Militer di Papua Itu Ilegal

Perangai Egois di Balik Aksi Heroik

Demotivasi: Alat Menyingkap Motivasi yang Manipulatif

Karel Tuhehay: Bayang-Bayang Masalah Struktural dalam Penanganan Kesehatan...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026
  • Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

    Maret 11, 2026
  • Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam Konflik Agraria PSN Banten

    Maret 7, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM