Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi
Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan
Kuliah Kerja Ngapusi!
Yang Mati dari Hukuman Mati
Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATERKABARKILASREDAKSI

Aksi Solidaritas untuk Wadas Tuntut Buka Jalan dan Jaringan

Februari 10, 2022

©Winda/Bal

Ratusan massa aksi yang bersolidaritas dengan warga Wadas berhimpun di depan Gedung Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS-SO) pada Rabu (9-2). Aksi solidaritas tersebut merupakan respons atas represi yang dilakukan polisi, penutupan akses jaringan, dan penutupan jalan di Desa Wadas sejak 7 Februari. Orasi “Hidup rakyat Indonesia, tanah untuk rakyat” berkumandang, disinyalir untuk mendesak pemberhentian pengukuran tanah untuk penambangan di Wadas.

Serangkai dengan aksi sebelumnya di Polda DIY, terdapat tiga tuntutan yang dilayangkan oleh massa aksi kepada pihak BBWS-SO. Dua di antaranya merajuk BBWS-SO sebagai pelaksana teknis. Pertama, hentikan pengukuran tanah untuk penambangan batu andesit demi pembangunan Bendungan Bener. Kedua, pembukaan akses jalan menuju Desa Wadas. 

Terjadi pemadaman listrik sejak Senin malam (7-2) dan pelumpuhan sinyal sejak Selasa pagi (8-2) di Desa Wadas. Era Harefa, perwakilan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, menduga kedua hal tersebut dilakukan untuk memutus komunikasi antarwarga. “Itu suatu bentuk kesengajaan karena melihat fakta bahwa desa-desa sebelahnya itu masih hidup,” tutur Era.  Pada Selasa (8-2) pukul 10.30, sepanjang jalan Desa Wadas dikuasai oleh ratusan polisi yang berjalan kaki dan mengendarai sepeda motor memasuki Wadas. Mereka mencopoti spanduk penolakan warga, jalan-jalan akses menuju Wadas dijaga polisi, dan warga Wadas sepenuhnya terkepung.

Tindakan penutupan akses jalan menuju Wadas melantarkan aksi solidaritas oleh ratusan massa di kantor BBWS-SO. “Karena masih dikepung polisi jadi kawan-kawan solidaritas berinisiatif untuk memberikan dukungan melalui aksi di sini dan satu lagi di Polda DIY,” jelas Era. Ia menilai aksi ini sebagai aksi simbolik bahwa aparat kepolisian tidak harus melakukan tindakan kekerasan kepada warga negara.

Bayu, massa aksi, berpendapat bahwa penutupan akses jaringan dan jalan adalah tindakan berlebihan. “Polisi dengan senjata lengkap dan berbagai armadanya mendirikan barak seakan-akan warga desa mau melepaskan diri dari Indonesia,” ungkap Bayu. Ia berharap aksi massa di BBWS-SO dapat mendesak pihak terkait untuk menjelaskan linimasa terkait penambangan sekaligus menunda pengukuran tanah di Wadas.

Senada dengan Era, Sam, perwakilan massa aksi dari Himpunan Mahasiswa Papua juga menyuarakan pendapat mengenai pentingnya mendengar suara warga Wadas. “Pihak terkait harus bertanggung jawab, jangan sembunyi tangan,” ujar Sam. Ia menyayangkan pengukuran lahan, padahal banyak warga yang menolak..

Dilansir dari akun Instagram Gerakan Masyarakat Peduli Alam Wadas, sampai Kamis (10-2), warga Wadas masih menerima represi. Walau jaringan sudah mulai pulih, listrik masih dipadamkan ketika malam hari. Akses jalan pun masih belum dibuka. Bahkan, warga juga didatangi aparat dan petugas yang memaksa penandatanganan surat persetujuan tambang. Pengukuran lahan selama tiga hari juga masih terus dilakukan. 

Reporter: Dhestia Arrizqi dan Ilham Maulana
Penulis: Kartika Situmorang
Penyunting: Alfredo Putrawidjoyo
Fotografer: Winda Hapsari

Redaksi

See author's posts

2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan

Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...

Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...

Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

    April 27, 2026
  • Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan

    April 24, 2026
  • Kuliah Kerja Ngapusi!

    April 15, 2026
  • Yang Mati dari Hukuman Mati

    April 14, 2026
  • Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

    April 10, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM