
©Timurangin/Bal
“Prabowo? Jancuk! MBG? Jancuk! Kopdes? Jancuk!” seru Teplok, salah satu orator aksi teatrikal bertajuk “FIB Merah” yang diadakan di pertigaan Jalan Sosio Humaniora, kawasan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Kamis (11-06). Aksi yang digelar oleh sejumlah mahasiswa FIB UGM tersebut dihadiri oleh berbagai mahasiswa dari dalam dan luar kampus. Agenda inti dalam aksi tersebut menampilkan pertunjukan teatrikal bertema gaib sebagai bentuk perlawanan terhadap keduanya. Adapun aksi teatrikal tersebut berisi monolog seorang dukun dan aksi santet.
Di awal aksi, salah seorang massa menampilkan monolog dukun yang mengecam kondisi negara saat ini. Selanjutnya, massa melakukan penyembelihan ayam cemani di atas poster bergambar Prabowo-Gibran. Jack, salah satu massa aksi, menjelaskan bahwa ayam cemani dipilih karena melambangkan situasi negara saat ini yang sedang suram, seperti warnanya yang hitam. Selain itu, terdapat pula sesajen berupa tujuh telur ayam yang kemudian dipecahkan. “Jadi kemarin juga ada telur, nah telur itu dipecah. Telur itu simbol harapan, jadi mecahin telor itu supaya harapannya keluar.” ujarnya
Setelah menyembelih ayam cemani, aksi dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama di sekeliling sesajen dan lilin yang menyala. Mahi, peserta aksi lain, berharap pertunjukan teatrikal ini dapat membangkitkan kesadaran mahasiswa atas isu-isu nasional. Ia juga menyayangkan terkait kebijakan pemerintah yang dianggap menguntungkan kelas-kelas tertentu. “Menurut saya, ini suatu pengkhianatan bangsa yang cukup besar, semua orang harus menyadari pengkhianatan yang terjadi saat ini,” pungkas Teplok.
Menurut Jack, pemilihan waktu aksi yang bertepatan dengan malam Jumat Kliwon tersebut sengaja dilakukan untuk meneguhkan aspek gaib pertunjukan. Ia menjelaskan bahwa malam Jumat kliwon dipandang sebagai malam yang sakral dan magis dalam kepercayaan Jawa. “Kita ingin menembus semua kepercayaan itu dengan jalur langit pada malam Jumat Kliwon ini,” ujar Jack
Osbourne (bukan nama sebenarnya), pemeran tokoh dukun dalam aksi teatrikal tersebut, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk pengawalan mahasiswa Ilmu Budaya terhadap isu-isu politik dan ekonomi terkini. Menurutnya, pemahaman mereka terhadap kebudayaan dapat diukur dari kepekaannya terhadap ketimpangan sosial, politik, dan budaya. Jack mengatakan bahwa aksi ini menjadi bentuk protes yang relate dengan mahasiswa Ilmu Budaya karena menggunakan jalur kultural sebagai medianya. “Kita kan belajar ilmu budaya, kita pakai kebudayaan-kebudayaan itu untuk aksi,” tegasnya. Jack merasa kebudayaan yang dipelajari mahasiswa seharusnya tidak berhenti di ruang kelas saja, melainkan bisa diterapkan sebagai perlawanan lewat aksi kebudayaan.
Teplok mengatakan bahwa aksi teatrikal ini juga dimaksudkan sebagai upaya membangkitkan perlawanan. Ia menjelaskan bahwa dalam 6 bulan terakhir, tensi perlawanan mengalami penurunan eskalasi. Oleh sebab itu, ia merasa “Ini bentuknya aksi simbolik untuk mengolah rasa lagi dan mengolah ‘bola panas’” ujar Teplok.
Aksi tersebut menandai kedua kalinya aksi simbolik yang diadakan di lingkungan kampus UGM. Setelah aksi pembakaran boneka berbentuk Prabowo-Gibran yang diadakan pada Minggu, (07-06) silam, Osbourne mengatakan bahwa aksi simbolik seperti ini dimaksudkan untuk membangun kesadaran politik yang lebih luas. “Untuk marah juga punya bekal atau dasar yang cukup,” ujar Osbourne.
Penulis: Raditya Mainaka Timurangin
Penyunting: Ahmad Arzani
Fotografer: Raditya Mainaka Timurangin
Kurator: Adhitia Sutanto