Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Mahasiswa FIB UGM Gelar Pertunjukan Santet Prabowo-Gibran
Pelindung atau Musuh dalam Selimut?
Mahasiswa UGM Gelar Aksi Simbolik Pemakaman Prabowo-Gibran
Darurat Kriminalisasi Aborsi
Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji...
Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...
Tertiban Pemimpin, Sakit
Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam...
Ilusi Keadilan dalam Pidana Mati
Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Mahasiswa FIB UGM Gelar Pertunjukan Santet Prabowo-Gibran

Juni 16, 2026

©Timurangin/Bal

“Prabowo? Jancuk! MBG? Jancuk! Kopdes? Jancuk!” seru Teplok, salah satu orator aksi teatrikal bertajuk “FIB Merah” yang diadakan di pertigaan Jalan Sosio Humaniora, kawasan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Kamis (11-06). Aksi yang digelar oleh sejumlah mahasiswa FIB UGM tersebut dihadiri oleh berbagai mahasiswa dari dalam dan luar kampus. Agenda inti dalam aksi tersebut menampilkan pertunjukan teatrikal bertema gaib sebagai bentuk perlawanan terhadap keduanya. Adapun aksi teatrikal tersebut berisi monolog seorang dukun dan aksi santet. 

Di awal aksi, salah seorang massa menampilkan monolog dukun yang  mengecam kondisi negara saat ini. Selanjutnya, massa melakukan  penyembelihan ayam cemani di atas poster bergambar Prabowo-Gibran. Jack, salah satu massa aksi, menjelaskan bahwa ayam cemani dipilih karena melambangkan situasi negara saat ini yang sedang suram, seperti warnanya yang hitam. Selain itu, terdapat pula sesajen berupa tujuh telur ayam yang kemudian dipecahkan. “Jadi kemarin juga ada telur, nah telur itu dipecah. Telur itu simbol harapan, jadi mecahin telor itu supaya harapannya keluar.” ujarnya

Setelah menyembelih ayam cemani, aksi dilanjutkan dengan pembacaan doa bersama di sekeliling sesajen dan lilin yang menyala. Mahi, peserta aksi lain, berharap pertunjukan teatrikal ini dapat membangkitkan kesadaran mahasiswa atas isu-isu nasional. Ia juga menyayangkan terkait kebijakan pemerintah yang dianggap menguntungkan kelas-kelas tertentu. “Menurut saya, ini suatu pengkhianatan bangsa yang cukup besar, semua orang harus menyadari pengkhianatan yang terjadi saat ini,” pungkas Teplok.

Menurut Jack, pemilihan waktu aksi yang bertepatan dengan malam Jumat Kliwon tersebut sengaja dilakukan untuk meneguhkan aspek gaib pertunjukan. Ia menjelaskan bahwa malam Jumat kliwon dipandang sebagai malam yang sakral dan magis dalam kepercayaan Jawa. “Kita ingin menembus semua kepercayaan itu dengan jalur langit pada malam Jumat Kliwon ini,” ujar Jack

Osbourne (bukan nama sebenarnya), pemeran tokoh dukun dalam aksi teatrikal tersebut, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk pengawalan mahasiswa Ilmu Budaya terhadap isu-isu politik dan ekonomi terkini. Menurutnya, pemahaman mereka terhadap kebudayaan dapat diukur dari kepekaannya terhadap ketimpangan sosial, politik, dan budaya. Jack mengatakan bahwa aksi ini menjadi bentuk protes yang relate dengan mahasiswa Ilmu Budaya karena menggunakan jalur kultural sebagai medianya. “Kita kan belajar ilmu budaya, kita pakai kebudayaan-kebudayaan itu untuk aksi,” tegasnya. Jack merasa kebudayaan yang dipelajari mahasiswa seharusnya tidak berhenti di ruang kelas saja, melainkan bisa diterapkan sebagai perlawanan lewat aksi kebudayaan.

Teplok mengatakan bahwa aksi teatrikal ini juga dimaksudkan sebagai upaya membangkitkan perlawanan. Ia menjelaskan bahwa dalam 6 bulan terakhir, tensi perlawanan mengalami penurunan eskalasi. Oleh sebab itu, ia merasa “Ini bentuknya aksi simbolik untuk mengolah rasa lagi dan mengolah ‘bola panas’” ujar Teplok.

Aksi tersebut menandai kedua kalinya aksi simbolik yang diadakan di lingkungan kampus UGM. Setelah aksi pembakaran boneka berbentuk Prabowo-Gibran yang diadakan pada Minggu, (07-06) silam, Osbourne mengatakan bahwa aksi simbolik seperti ini dimaksudkan untuk membangun kesadaran politik yang lebih luas. “Untuk marah juga punya bekal atau dasar yang cukup,” ujar Osbourne.

Penulis: Raditya Mainaka Timurangin
Penyunting: Ahmad Arzani
Fotografer: Raditya Mainaka Timurangin
Kurator: Adhitia Sutanto

Redaksi

See author's posts

2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Mahasiswa UGM Gelar Aksi Simbolik Pemakaman Prabowo-Gibran

Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji...

Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...

Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam...

Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung...

Aksi Hari Buruh Yogyakarta Tuntut Pengesahan UU Ketenagakerjaan...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Mahasiswa FIB UGM Gelar Pertunjukan Santet Prabowo-Gibran

    Juni 16, 2026
  • Pelindung atau Musuh dalam Selimut?

    Juni 11, 2026
  • Mahasiswa UGM Gelar Aksi Simbolik Pemakaman Prabowo-Gibran

    Juni 10, 2026
  • Darurat Kriminalisasi Aborsi

    Juni 7, 2026
  • Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji Hari Buruh

    Mei 29, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM