Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...
Tertiban Pemimpin, Sakit
Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam...
Ilusi Keadilan dalam Pidana Mati
Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung...
Aksi Hari Buruh Yogyakarta Tuntut Pengesahan UU Ketenagakerjaan...
Diskusi SPK Soroti Beban Ganda Akademisi Perempuan
Rubuh Perkara Industrialisasi
Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi
Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATERKABARKILAS

Seniman Suarakan Aspirasi dalam Aksi Ruang Rakyat

Oktober 21, 2020

©Thalia/Bal

Selasa (20-10), berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) kembali melaksanakan aksi bertajuk “Ruang Rakyat: Semua Adalah Warga”. Bertempat di Bundaran UGM, aksi tersebut dimaksudkan sebagai bentuk penolakan atas disahkannya UU Cipta Kerja atau sering disebut Omnibus Law. Setelah aksi #JogjaMemanggil pada 8 Oktober, ARB kembali mengadakan aksi dengan tema panggung aksi. Beberapa penampilan musik dari band lokal seperti Nada Bicara, KEPAL SPI, Spoer, Fuli, Keiland Boy, dan Sampar mengiringi jalannya aksi.

Lusi, Humas dari ARB menyampaikan bahwa pagelaran seni dilakukan sebagai salah satu bentuk ketidakpercayaan kepada DPR. Menurutnya, bentuk pagelaran seni yang disajikan pada aksi sore itu menunjukkan persepsi masyarakat terhadap DPR. “Kami sudah tidak mengakui dewan sebagai perwakilan, sehingga kami bertindak sebagai dewan perwakilan,” imbuh Lusi.

Dari kalangan seniman musik, Nada Bicara membawakan lagu tentang pencegahan kekerasan seksual dan ruang aman bagi perempuan. Disampaikan oleh vokalisnya, Erlina Rahmawati, “Nada Bicara” memang terkenal membawakan isu sosial dalam setiap karyanya. Menurut mereka, lagu menjadi salah satu cara nir kekerasan untuk menyampaikan kritik dan protes seluas mungkin. Erlin menyampaikan bahwa, seniman perlu membungkus supaya narasi yang di bawa massa aksi bukan menjadi narasi kekerasan. “Lagu itu sangat cair dan fleksibel, ia bisa menembus relung hati yang gelap,” pungkas Erlin.

Selain itu, Leo Bambang Heru Prasetyo sebagai salah satu seniman jalanan berkesempatan menyanyikan lagu berjudul “Tulu”. Lagu yang ia akui terinspirasi dari Almarhum Didi Kempot itu berisi keresahannya mengenai pemerintah dengan berbagai RUU yang tidak jelas. Pria yang akrab disapa Mbah Bambang tersebut menuturkan bahwa semangat perjuangan harus tetap menggelora. “Meskipun umur saya sudah lebih dari 60 tahun, tetapi saya tetap rajin mengikuti aksi untuk
menginspirasi generasi muda,” tegasnya.

Sebelum massa bubar sekitar pukul 17.00 WIB, Sampar menyanyikan dua buah lagu. Lagu pertama berjudul “Bernafas Teruslah Kawan Kau Tak Sendiri” dan lagu kedua berjudul “Rebut Kembali Kehidupan”. Dalam kesempatan wawancara, Sampar menjelaskan bahwa dirinya ikut serta dalam aksi bukan hanya karena mereka seniman. Namun, mereka merasa menjadi bagian yang sangat dirugikan dengan disahkannya UU Cipta Kerja oleh Pemerintah. “Kami juga terancam, maka dari itu kami punya alasan untuk ikut menolak,” lanjutnya.

Sampar sepakat bahwa aksi yang dikemas melalui media seni dapat mendekatkan diri dengan isu-isu sosial. Menurut mereka, seniman memang seharusnya mengangkat isu- isu sosial, bukan hanya mementingkan eksistensi pribadi. “Tidak sedikit seniman yang menjual isu sosial untuk keperluan pribadinya,” imbuh Sampar. Bagi mereka karya seharusnya dapat menyuarakan aspirasi publik dan membantu menyelesaikan persoalan yang ada.

Reporter: Affan Asyraf, Alysia Noorma Dani, Bangkit Adhi Wiguna, dan Isabella
Penulis: Anis Nurul Ngadzimah
Penyunting: Ayu Nurfaizah

Redaksi

See author's posts

aliansi rakyat bergerakseniTolak UU Cipta Kerja
1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...

Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam...

Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung...

Aksi Hari Buruh Yogyakarta Tuntut Pengesahan UU Ketenagakerjaan...

Diskusi SPK Soroti Beban Ganda Akademisi Perempuan

Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status Mitra

    Mei 20, 2026
  • Tertiban Pemimpin, Sakit

    Mei 17, 2026
  • Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam RUU Sisdiknas

    Mei 10, 2026
  • Ilusi Keadilan dalam Pidana Mati

    Mei 10, 2026
  • Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung PN Magelang

    Mei 8, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM