Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATER

Ada ‘Laskar Pelangi’ di Posko Pengungsi

November 8, 2010

Tatapan Alan tak beranjak dari gambar bergerak yang dilihatnya. Sambil mengunyah makanan ringan berlapis cokelat, ia dan teman-temannya terlihat serius menonton film yang diproyeksikan ke dinding. Bocah yang turut menempati pos pengungsian di Gelanggang Mahasiswa UGM ini tak ingin kelewatan menonton film yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Kemarin  malam, Minggu (7/11), ada pemandangan berbeda di hall Teater Gadjah Mada. Sejak pukul 20.00, tempat yang biasa digunakan untuk salat bagi para pengungsi itu diisi pemutaran film Laskar Pelangi. Tak hanya menyihir jutaan penonton di seluruh Indonesia, film besutan Riri Riza ini turut pula menarik perhatian sejumlah pengungsi korban letusan Merapi. Selain anak-anak, tampak pula seorang ibu yang ikut menonton sambil menimang bayinya.

Kegiatan nonton film bareng itu diprakarsai oleh kelompok mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UGM. Seorang penggagas acara ini, Yustan, mengatakan, ide ini muncul saat mereka berencana memberi bantuan bagi pengungsi di gelanggang. “Pas ngumpul bareng buatngasih bantuan, kita mikir, apa ya yang bisa kita beri selain materi?” ungkap mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM 2007 ini. Setelah berkonsultasi dengan relawan pendamping pengungsi di Gelanggang Emergency Response (GER) UGM, akhirnya mereka bersepakat mengadakan nonton film bareng. “Ini juga menjadi salah satu cara trauma healing buat anak-anak,” imbuh Yustan.

Acara nonton bareng ini direspons baik oleh pengungsi. Musidi, salah satu orang tua, mengatakan, kegiatan seperti ini bermanfaat bagi seorang putranya yang tengah duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. “Bagus. Filmnya menjurus ke pelajaran, supaya bisa memotivasi anak saya untuk rajin belajar,” tutur warga Pakembinangun ini. Musidi mengakui, meski jago bermain sepak bola dan tenis meja, anaknya kurang teratur dalam belajar. “Kalau pas lagimood aja bisa rajin belajarnya.”

Selain nonton bareng, kemarin siang juga digelar kegiatan bermain bersama bagi anak-anak yang difasilitasi sebuah sekolah menengah kejuruan di Yogyakarta. Anak-anak korban pengungsi Merapi pun diperkenalkan dengan pembelajaran bahasa Inggris oleh tim relawan GER. Hingga kemarin, kegiatan-kegiatan semacam ini belum dijadwalkan secara rutin. Selain kebutuhan pokok, berbagai aktivitas positif sangat dibutuhkan oleh para pengungsi. Kerelaan berbagi dari berbagai pihak masih dinanti tim relawan GER UGM guna mendukung proses pemulihan pengungsi. [Rony]

gelangganggerlaskar pelanginonton barengteater gadjah madaugm
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Kicau Riuh Kampus Hijau UGM

SSPU Tetap Jalan, Aksi Tolak Uang Pangkal Hasilkan...

Habis SSPI, Terbitlah SSPU dalam Dialog Panas Mahasiswa...

Bebani Mahasiswa dengan Biaya Mahal, UGM Bersembunyi di...

Penerapan Uang Pangkal, Neoliberalisasi Berkedok Solusi

Pedagang Kaki Lima Stasiun Wates Digusur Tanpa Dasar...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM