Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi SPK Soroti Beban Ganda Akademisi Perempuan
Rubuh Perkara Industrialisasi
Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi
Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan
Kuliah Kerja Ngapusi!
Yang Mati dari Hukuman Mati
Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Diskusi SPK Soroti Beban Ganda Akademisi Perempuan

Mei 2, 2026

©Alima/Bal

Dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Hari Buruh, Serikat Pekerja Kampus (SPK) mengadakan diskusi daring bertajuk “Kartini-Kartini Berserikat” pada Kamis, (29-04). Diskusi yang disiarkan langsung melalui akun Instagram @serikatpekerjakampus ini menghadirkan tiga dosen perempuan sebagai narasumbernya, yaitu Kanti Pertiwi dari Universitas Indonesia, Nabiyla Risfa Izzati dari Universitas Gadjah Mada, dan Fitri Oktaviani dari Universitas Brawijaya. Diskusi ini berangkat dari artikel kolaborasi ketiga narasumber yang bertajuk “From Ibuism to Pengabdian? Exploring Invisible Work among Women Academics in Neoliberalised Indonesian Higher Education”. Artikel tersebut membahas ekspektasi dan beban kerja yang harus dihadapi oleh akademisi perempuan di Indonesia melalui ideologi ibuisme.

Diskusi diawali dengan cerita Kanti mengenai konten media sosial yang sempat ramai diperbincangkan di lingkungan akademisi. Konten tersebut menyatakan banyaknya tugas yang harus ditanggung oleh dosen perempuan. “Nggak cuma mengajar, meneliti, tapi dia juga menjadi penjaga gizi keluarga, perawat anak-anak,” ungkap Kanti. Ia memandang hal tersebut sebagai masalah yang tidak boleh dinormalisasi.

Menambahi Kanti, Nabiyla turut membahas  double burden ‘beban ganda’ yang dialami oleh dosen perempuan. Nabiyla menilai dosen perempuan harus menghadapi sulitnya menjadi akademisi di Indonesia sembari memikul beban dari identitasnya sebagai seorang perempuan.  Salah satu bentuk double burden yang dicontohkan Nabiyla adalah tanggungan kerja yang harus dibawa dosen perempuan saat cuti melahirkan. “Dia  dianggap yang penting nggak ke kampus. Tidak meng-acknowledge bahwa ketika di rumah, masih harus kelas online, masih harus ngebimbing. Itu ya bekerja,” tuturnya. Bagi Nabiyla, pada akhirnya dosen perempuan tidak benar-benar mendapatkan hak cuti melahirkan.

Terlebih, menurut Fitri, banyak dosen perempuan yang terpaksa mengambil pekerjaan tambahan untuk menambah penghasilan. Ia mencontohkan teman dosennya yang merangkap kerja sebagai event organizer. Ia menilai kondisi ini membuat dosen tidak memiliki cukup waktu untuk memenuhi tuntutan publikasi tulisan. “Minta tuntutan publikasi setinggi langit, tapi kita disini tidak bisa, tidak punya waktu,” ucap Fitri. 

Tekanan lain terhadap dosen perempuan yang disampaikan oleh Kanti berkaitan dengan reputasi atau branding kampus. Menurutnya, upaya pengejaran akreditasi kampus menciptakan jenis pekerjaan tambahan baru yang turut membebani dosen perempuan. “Nggak jarang mereka tuh nggak bisa nolak,” ungkap Kanti. Ia bercerita bahwa para dosen melakukannya karena status kerjanya yang masih rentan sembari berharap dapat diprioritaskan menjadi dosen tetap.

Beban tambahan akreditasi yang diceritakan Kanti, salah satunya adalah pembuatan unit seperti Health Promoting University. Nabiyla mengatakan bahwa pengurusan unit ini dibebankan pada akademisi perempuan. “Karena lagi-lagi [dosen perempuan-red] dianggap lebih nurturing, lebih cocok untuk mengurus isu-isu seperti ini,”  tutur Nabiyla.

Pada akhir sesi diskusi, Kanti  turut mengajak audiens untuk mendenormalisasi masalah-masalah yang dialami dosen perempuan. Salah satu upaya yang ditawarkannya adalah perlawanan kolektif dengan cara berserikat. “Berserikat menurut saya adalah salah satu cara untuk bisa membantu mengakomodasi kebutuhan yang selama ini belum bisa tersuarakan,” ujarnya.

Penulis: Eunica Amanda dan Fairuz Shakti
Editor: Chuzaima B.
Illustrator: Alima Tasnim
Kurator: Hawa Muzayyinah

Redaksi

See author's posts

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan

Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...

Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...

Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi SPK Soroti Beban Ganda Akademisi Perempuan

    Mei 2, 2026
  • Rubuh Perkara Industrialisasi

    Mei 2, 2026
  • Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

    April 27, 2026
  • Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan

    April 24, 2026
  • Kuliah Kerja Ngapusi!

    April 15, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM