Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi
Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan
Kuliah Kerja Ngapusi!
Yang Mati dari Hukuman Mati
Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

Maret 17, 2026

©Kahfi/Bal

Petang hari menjelang berbuka puasa, Suara Ibu Indonesia mengadakan aksi solidaritas dan doa bersama pada Sabtu, (14-03) di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM). Aksi yang dihadiri sejumlah elemen masyarakat ini diselenggarakan sebagai dukungan kepada Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Sebelumnya, Andrie menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal setelah melakukan perekaman siniar di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI), Jakarta, pada Jumat, (13-03) malam. 

Federasi KontraS dan International Service for Human Rights (ISHR) dalam siaran persnya menyebutkan bahwa penyiraman air keras terhadap Andrie ini merupakan upaya intimidasi untuk membangun teror dan ketakutan pada masyarakat sipil. Selanjutnya, Suara Ibu Indonesia mengadakan aksi ini untuk menuntut Kepolisian Negara Kesatuan Republik Indonesia (POLRI) agar mengungkap pelaku teror kepada Andrie Yunus. Mereka berharap tuntutan itu dipenuhi dalam waktu selambat-lambatnya tujuh hari ke depan. Selain itu, aksi ini juga menuntut adanya transparansi kepada publik terkait identitas serta motif pelaku teror kepada aktivis-aktivis pro-demokrasi. Cilla, salah satu peserta aksi mengatakan, “Kita sama-sama berharap bahwa negara bisa memberikan jaminan, keamanan dan perlindungan kepada masyarakat sipil dan pejuang HAM.”

Di awal aksi, Kalis Mardiasih sebagai perwakilan Suara Ibu Indonesia mulai membacakan surat yang ditujukan kepada Andrie Yunus. Ia menceritakan isi surat yang berisi kronologi teror yang didapat Andrie. Sebelum penyiraman air keras, Andrie sempat mendapatkan teror dan ancaman lewat pesan dan panggilan telepon. Kalis menilai bahwa rentetan teror tersebut tidak mungkin dilakukan oleh masyarakat biasa. “Bukan, ini bukan peristiwa kriminal jalanan. Ini memang state terrorism atau teror yang dikirim oleh negara,” jelas Kalis dalam suratnya.

Surat yang dibacakan dengan semangat membara oleh Kalis menyoroti adanya dugaan keterlibatan pemerintah dalam rentetan aksi teror tersebut. Menurutnya, kehidupan warga sipil biasa dapat berakhir bukan hanya karena sakit keras, mengakhiri hidup, ataupun dibunuh oleh pelaku kriminal biasa. “Tapi oleh state terrorism atau kekerasan yang dilakukan oleh negara,” jelas Kalis. Ia juga menilai bahwa teror semacam ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipicu oleh impunitas yang membuat kasus-kasus serupa terus berulang tanpa penyelesaian.

Merespons pola teror semacam ini, Kalis menilai posisi warga sipil menjadi timpang karena negara memiliki sumber daya dan kekuasaan yang jauh lebih besar. Menurutnya, negara memiliki akses lebih terhadap data, informasi, pendanaan, hingga instrumen kekerasan. “Kita cuma bisa teriak, kita cuma punya suara dan kehadiran,” tambah Kalis.

Inun, moderator aksi yang turut mendampingi Suara Ibu Indonesia, menyebut peristiwa penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus bukanlah kejadian pertama. Ia menilai sudah banyak intimidasi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap masyarakat sipil yang bersuara, mulai dari teror simbolik berupa pengiriman kepala babi hingga penangkapan sejumlah tahanan politik. Rentetan kasus-kasus ini telah memicu kemarahan masyarakat yang kemudian mencapai puncaknya dalam insiden terbaru yang mengorbankan Andrie Yunus. “Ini sudah terjadi sejak lama dan kita berdiri di sini untuk mengingatkan bahwa kita enggak takut,” jelas Inun.

Senada dengan Inun, Masitoh Nur Rohma, seorang peserta aksi dari UII, juga menyoroti terkait kekerasan yang dilakukan oleh negara belakangan ini. “Negara itu sebenarnya memiliki kewajiban untuk menciptakan keamanan bagi semua pihak yang ada dalam wilayah teritorinya, ketika state terrorism ini terjadi, maka fungsi pengamanan itu menjadi dipertanyakan,” jelas Masitoh. Ia menilai tindakan tersebut adalah pelanggaran keras yang dilakukan negara. Masitoh menyebutkan, semestinya masyarakat mempunyai hak mendasar untuk bersuara selama tidak melanggar hukum dan tidak merugikan orang lain. 

Selain dari pembacaan pidato dan surat, di akhir aksi, massa turut melakukan doa bersama yang dipimpin oleh Masitoh, serta Risang Anggoro, pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Condongcatur dan Zaki, anggota Suara Ibu Indonesia. Melalui doa ini, mereka berharap agar Andrie Yunus dapat diberi kesembuhan dan kekuatan untuk terus berani dalam melawan pembungkaman. “Jangan biarkan percobaan pembunuhan, kekerasan, kezaliman terjadi kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang selalu bersuara lantang saat terjadi ketidakadilan,” ucap Zaki dalam doanya.

 

Penulis: Aditya Fernando dan Chuzaima B.
Penyunting: Lidwina Laras
Fotografer: Muhammad Al Kahfi
Kurator: Aiken Gimnastiar

Redaksi

See author's posts

1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan

Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...

Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

    April 27, 2026
  • Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan

    April 24, 2026
  • Kuliah Kerja Ngapusi!

    April 15, 2026
  • Yang Mati dari Hukuman Mati

    April 14, 2026
  • Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

    April 10, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM