Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...
Tertiban Pemimpin, Sakit
Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam...
Ilusi Keadilan dalam Pidana Mati
Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung...
Aksi Hari Buruh Yogyakarta Tuntut Pengesahan UU Ketenagakerjaan...
Diskusi SPK Soroti Beban Ganda Akademisi Perempuan
Rubuh Perkara Industrialisasi
Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi
Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Keterbatasan Bukan Penghalang Kreativitas

Desember 10, 2015
©Charlien.bal

©Charlien.bal

Para penyandang disabilitas tiba di Hanggar Sekolah Vokasi (SV) Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Sabtu, (05/12). Tempat itu telah dipenuhi beberapa stan dan kursi yang tertata rapi. Beberapa lukisan dan kerajinan tangan dipajang di tempat pameran. Malam itu sedang berlangsung Pameran Karya Luar Biasa (Pakar Lubis). Acara ini diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) SV UGM, untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember lalu.
Salah satu rangkaian acara malam itu adalah talk show interaktif bersama Mukhanif Yasin Yusuf, pendiri Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Peduli Difabel UGM dan Eko Darmanti, Kepala Bidang Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Dinsos DIY. Menurut Mukhanif, masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa penyandang difabel merupakan orang yang tidak mampu, tidak normal, dan menjadi sumber masalah sosial. Perspektif masyarakat yang negatif Ini mengakibatkan banyak dari mereka hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah menengah. “Mereka kesulitan melanjutkan pendidikan karena sekitar tujuh puluh persen perguruan tinggi menutup kesempatan untuk penyandang difabel,” ujar Mukhanif.
Menanggapi pernyataan Mukhanif, Eko menyampaikan bahwa DIY sudah menetapkan Perda No. 4 Tahun 2014 tentang perlindungan dan hak-hak penyandang disabilitas. Berdasarkan peraturan tersebut, mereka memiliki hak dalam bidang pendidikan, kesehatan, politik, dan ketenagakerjaan. Salah satunya yaitu hak untuk dapat hidup di dalam masyarakat dengan pilihan yang setara, dan keterlibatan serta partisipasi penuh dalam masyarakat. “Perda ini bertujuan untuk mendorong pemerintah dan masyarakat agar lebih ramah dengan kaum difabel,” jelas Eko.
Selain talk show, dihadirkan pula beberapa komunitas difabel seperti Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA), Braille’iant, dan sebagainya. Kehadiran mereka di sana untuk mewujudkan hak-hak penyandang disabilitas dan mengajak orang lain untuk ikut serta. Acara itu turut dimeriahkan oleh pantomin dan Hail Jhon band. Selanjutnya ada pula penampilan dari band Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam dan gamelan oleh Panti Asuhan Bina Siwi.
Penampilan dari Panti Asuhan Bina Siwi dilakukan oleh sekitar 20 anak penyandang disabilitas. Salah seorang anak memainkan gamelan dengan menggunakan kakinya. Penampilan mereka membuat kagum Ketua BEM SV UGM. “Saya melihat mereka memainkan gamelan dengan ceria, bahkan saya sebagai nondifabel tidak bisa memainkannya,” tutur Raimon Siregar.
Menurut Leonardus Kevin selaku ketua panitia, acara Pakar Lubis ini bertujuan untuk menyadarkan orang-orang nondifabel yang selalu merasa kekurangan. Ia menambahkan, masih banyak orang yang lebih berkekurangan namun dapat hidup positif. “Karena itu mari kita bersama-sama mensyukuri hal-hal yang ada di sekitar kita,” pungkas Kevin. [Dewi Wijayanti]

Redaksi

See author's posts

difabeldisabilitasHari DifabelSV UGM
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...

Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam...

Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung...

Aksi Hari Buruh Yogyakarta Tuntut Pengesahan UU Ketenagakerjaan...

Diskusi SPK Soroti Beban Ganda Akademisi Perempuan

Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status Mitra

    Mei 20, 2026
  • Tertiban Pemimpin, Sakit

    Mei 17, 2026
  • Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam RUU Sisdiknas

    Mei 10, 2026
  • Ilusi Keadilan dalam Pidana Mati

    Mei 10, 2026
  • Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung PN Magelang

    Mei 8, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM