Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATERKABAR

Membincangkan Rokok dalam Konsep Panjang Umur

Januari 16, 2014
Slide1

Dalam salah satu bagian film, Mbah  Aman terlihat kuat meski sudah lanjut usia.

Rokok bukan menjadi faktor utama penyebab kematian. Ada konsep lain yang mempengaruhi umur dan hidup mati seseorang. Demikian penuturan Darwin Nugroho dalam acara diskusi dan pemutaran film bertajuk “Narasi Lokal tentang Panjang Umur” di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta. Diskusi ini digelar sebagai bagian dari roadshow buku dan film dokumenter berjudul “Mereka yang Melampaui Waktu” pada Rabu (15/1). Dalam film tersebut, Darwin mengisahkan pengalaman hidup para perokok lansia yang masih produktif meski sudah lanjut usia.

Mengawali diskusi, Darwin berpendapat bahwa argumen yang dipakai pemerintah untuk melarang peredaran rokok tidak tepat. Menurutnya, regulasi yang diterapkan selama ini hanya berdasarkan pada pertimbangan kesehatan saja. “Bahkan dalam iklan rokok, himbauan tentang bahaya rokok dengan ancaman dapat membunuh seseorang sudah semakin tegas,” jelasnya. Padahal, tambah Darwin, ada faktor sosial lain yang mungkin dapat menjadi penyebab orang cepat mati. “Misalnya gaya hidup dan pola makan yang tidak teratur,” terangnya. Faktor-faktor inilah yang sering luput diperhatikan pemerintah. “Film ini coba membantah logika itu, kami menghadirkan narasi lain sebagai pembanding,” jelas Darwin.

Hairus Salim, Peneliti LKiS, sependapat dengan penuturan Darwin. Menurutnya, panjangnya usia para lansia itu sangat bergantung pada konsep hidup yang mereka anut. “Ada kearifan lokal yang mereka terapkan,” ujarnya. Ia kemudian mencontohkan kisah Mbah Aman, salah satu narasumber dalam film tersebut. Meski ia perokok berat, janda yang tinggal di Gunung Kidul itu masih sehat bugar menjalankan aktivitas sehari-hari sebagai petani dan menghidupi ternaknya. Mbah Aman sendiri yang mencangkul lahan, memanen singkong, hingga mengangkutnya ke lumbung. “Ia sudah menganggap proses itu sebagai kegiatan menyenangkan dan kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan,” ujarnya. Walau demikian, lanjut Salim, bukan berarti karena merokok orang-orang itu bisa panjang umur.

Di sisi lain, Lono Simatupang, Dosen Antropologi UGM, coba mengkritik film ini. Menurutnya, seluruh fakta-fakta yang terdapat di dalam buku tidak diwujudkan dalam bentuk audio visual. Misalnya, dari 22 narasumber yang dituliskan, hanya enam yang masuk dalam alur cerita. “Padahal ada bagian-bagian menarik dalam tulisan yang dapat divisualkan,” ujarnya. Selain itu, ia memberi saran agar film ini tidak hanya menggambarkan cerita sukses hidup sang tokoh. Tetapi juga perjuangan orang itu bergelut dengan rokoknya. “Proses menampilkan hal biasa menjadi luar biasa inilah yang menjadi nyawa film ini,” tegasnya. [Khairul Arifin]

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Kicau Riuh Kampus Hijau UGM

SSPU Tetap Jalan, Aksi Tolak Uang Pangkal Hasilkan...

Habis SSPI, Terbitlah SSPU dalam Dialog Panas Mahasiswa...

Bebani Mahasiswa dengan Biaya Mahal, UGM Bersembunyi di...

Penerapan Uang Pangkal, Neoliberalisasi Berkedok Solusi

Pedagang Kaki Lima Stasiun Wates Digusur Tanpa Dasar...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026
  • Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

    Maret 11, 2026
  • Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam Konflik Agraria PSN Banten

    Maret 7, 2026
  • Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat

    Maret 1, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM