Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi
Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan
Kuliah Kerja Ngapusi!
Yang Mati dari Hukuman Mati
Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATERKABAR

Menanam Adalah Bentuk Perlawanan

April 3, 2013
Dewi Kharisma M

Dewi Kharisma M

Ada pemandangan tak biasa di kawasan pesisir Kulon Progo pada Minggu (31/3) pagi. Alih-alih menggarap lahan, justru tumpah ruah konvoidaripara petani Kulon Progo Karangsewu (Galur) menuju Karangwuni (Wates). Tak ingin ketinggalan, Warsito, salah satu pemuda Kulon Progo juga turut serta dalam rombongan tersebut. Mengenakan kaus merah bertuliskan “Granat: Tolak Tambang Pasir Besi”, Warsito menempuh jarak sekitar 10 kilometermenuju padukuhan IV Karangwuni. “Ada pesta petani di Karangwuni, Mbak. Nanti kita makan-makan dan syukuran di sana,” tutur Warsito.

Hari itu memang tengah dihelat acara perayaan hari jadi Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo yang ketujuh. Setelah diawali dengan konvoi dan arak-arakan gunungan hasil panen, acara dilanjutkan dengan potong tumpeng, orasi, dan makan-makan bersama. Menurut Warsito, prosesi potong tumpeng berjalan cukup khidmat. Potongan tumpeng diberikan kepada RM Ajikusumo, Lembaga Bantuan Hukum, perwakilan petani, dan pihak kepolisian setempat. “Ada kejadian lucu saat polisi enggan maju ke panggung untuk mengambil seserahan potongan tumpeng. Malu mungkin atau takut dimarahi bosnya,” duga Warsito sambil tergelak.

Setelah prosesi potong tumpeng usai, acara dilanjutkan dengan orasi. Warsito dan ribuan petani lainnya berkumpul di bawah tenda besar untuk mendengarkan orasi tersebut. Tak hanya petani setempat, dalam acara itu hadir pula beberapa simpatisan termasuk Watin anggota gerakan masyarakat agraria Parangtritis yang konon April ini akan mengalami penggusuran lahan oleh pemerintah Yogyakarta.

Warsito mendengarkan dengan saksama rangkaian orasi dari RM Ajikusumo, kerabat Pakualaman Yogyakarta. Ia sepakat dengan Ajikusumo bahwa perlawanan nomor satu adalah dengan tetap bertani di lahan pesisir. Ajikusumo sendiri dalam orasinya berkata, “Jika Sultan dan keluarganya tetap bersikeras mengeksukusi proyek tambang pasir besi, niscaya akan tercoreng nama baik Sultan di mata internasional.” Pasalnya, hingga saat ini PPLP sudah memperoleh dukungan dari dunia internasional seperti Australia, Filiphina, Tiongkok, Yunani, dan Jepang.

Bentuk penggalangan dukungan ini tampak saat Widodo, anggota PPLP turut serta dalam forum internasional di University of Philipinespada Maret silam. Dalam forum tersebut Widodo menumpahkan segala ketertindasan yang PPLP rasakan akibat investasi tambang. “Saya juga mengatakan kepada forum, sejauh mana keterlibatan Sultan dan keluarganya di proyek ini,” ujarnya. Sepulang dari Filiphina, diwacanakan dalam waktu dekat, akan ada pengiriman anggota PPLP ke Inggris atau Belanda untuk membahas bentuk dan mekanisme perlawanan.

Di luar penggalangan dukungan, baik Ajikusumo maupun Widodo menghimbau agar para petani tetap mempertahankan lahan agar tidak tergusur oleh kepentingan kaum pemodal. “Lahan ini harus kita jaga. Tolak tambang pasir besi dan segala moda kapitalisme di tempat kita,” seru Widodo.

Dijumpai di tempat terpisah, Kus Sri Antoro, pengamat cum peneliti agraria mengamini strategi dari PLLP untuk melawan proyek tambang. Menurutnya, perjuangan agraria bagi kaum tani dapat diterjemahkan sebagai okupasi tanah, redistribusi lahan dari tuan tanah, atau peneguhan hak komunal atas masyarakat adat. “Dalam kasus di Kulon Progo, apa yang dilakukan petani sudah sangat tepat. Jika perlawanan lewat jalur birokrasi sudah mampat, cara satu-satunyaadalah dengan memperpanjang konflik itu agar para investor enggan menggelontorkan modalnya di proyek tambang,” urainya.

Logika pemodal, menurut Kus, adalah logika untung rugi. “Jika proyek tambang seret karena banyak konflik, otomatis cash flow tak berjalan lancar. Padahal pemodal membutuhkan hasil balik modal dengan segera,” ungkapnya. Lantas, bagaimana cara memperpanjang konflik? “Ya dengan tetap bercocok tanam, karena memanam adalah salah satu bentuk perlawanan,” tambahnya. Warsito sepakat, bagaimana dengan Anda? [Purnama Ayu Rizky]

 

Administrator

See author's posts

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Kicau Riuh Kampus Hijau UGM

SSPU Tetap Jalan, Aksi Tolak Uang Pangkal Hasilkan...

Habis SSPI, Terbitlah SSPU dalam Dialog Panas Mahasiswa...

Bebani Mahasiswa dengan Biaya Mahal, UGM Bersembunyi di...

Penerapan Uang Pangkal, Neoliberalisasi Berkedok Solusi

Pedagang Kaki Lima Stasiun Wates Digusur Tanpa Dasar...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

    April 27, 2026
  • Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan

    April 24, 2026
  • Kuliah Kerja Ngapusi!

    April 15, 2026
  • Yang Mati dari Hukuman Mati

    April 14, 2026
  • Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

    April 10, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM