Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi Buku Tersungkur dan Tetap Melawan Rekam Perlawanan...
Interupsi Mahasiswa UGM dalam Diskusi Tiga Menteri Bukan...
Sivitas Akademika Fisipol Desak UGM Ambil Sikap Tegas...
Bara Akar Rumput Aksi Gejayan Tantang Kesewenangan Rezim...
Mahasiswa FIB UGM Gelar Pertunjukan Santet Prabowo-Gibran
Pelindung atau Musuh dalam Selimut?
Mahasiswa UGM Gelar Aksi Simbolik Pemakaman Prabowo-Gibran
Darurat Kriminalisasi Aborsi
Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji...
Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILASMagang

Tantangan Konservasi dan Pelestarian Lingkungan dalam Diskusi Ekspedisi Arah

November 12, 2025

©Nadhira/Bal

“Bahwa apa yang kita perjuangkan, kita menyelamatkan manusia dan itu ternyata berdampak juga untuk alamnya,” ungkap Daru ketika memaparkan harapannya terhadap konservasi penyu dalam diskusi Bincang Asik (BISIK): Siapa yang Perlu Kita Selamatkan, Manusia atau Alam? Kegiatan yang diinisiasi oleh komunitas TelusuRI ini dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan Ekspedisi Arah Singgah Makan Key Almig. Berlangsung selama kurang lebih dua jam, diskusi tersebut diselenggarakan di Omah Budoyo pada Sabtu (08-11). Diskusi tersebut menghadirkan Daru Aji Saputro, Ketua Yayasan Aksi Konservasi Yogyakarta (4K Yogyakarta), sebagai narasumber dan Muhammad Ulul Absor sebagai moderator.

Mengawali diskusi tersebut, Daru menyebutkan tentang pentingnya manusia untuk belajar hidup selaras dengan pelestarian lingkungan. “Punya tanggung jawab, kita pengin menyelamatkan diri kita, kita ingin menyelamatkan manusia,” ungkap Daru. Upaya tersebut, menurutnya, dilakukan lewat edukasi dan ajakan kepada sekolah, komunitas, hingga mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan konservasi. Ia berharap, melalui keterlibatan tersebut, kegiatan konservasi memperoleh dukungan dana dari kampus dan partisipasi publik yang lebih luas.

Daru juga menyinggung soal cara menyelamatkan manusia melalui konservasi. Dalam persoalan pencurian penyu, misalnya, ia mencontohkan upaya preventif yang telah dilakukannya, seperti melalui pengarsipan data pencurian penyu dan patroli keliling. Selain itu, ia juga berupaya memaksimalkan sumber daya yang ada supaya publik dapat tahu dan bisa membantu. “Ini salah satu cara untuk bagaimana kita menyelamatkan manusia tadi untuk memberikan pengetahuan,” ungkapnya.

Namun, di balik upaya konservasi yang telah dijalankannya sejak 2020 tersebut, Daru mengakui masih banyak tantangan, terutama perihal pendanaan. “Di dunia konservasi itu pasti yang pertama adalah enggak ada uangnya,” ujar Daru. Menanggapi itu, Daru menyebut bahwa yayasan yang dipimpinnya tetap bekerja sesuai kebutuhan yang ada, sebab tujuan utamanya adalah mengupayakan konservasi tetap dapat berjalan di lapangan.

Menanggapi tema diskusi, salah seorang peserta diskusi, Eva, menyoroti pilihan menyelamatkan manusia. Menurutnya, pilihan antara menyelamatkan manusia atau alam merupakan sesuatu yang harus berjalan bersamaan. Ia menambahkan bahwa dua hal tersebut akan membawa kepada keseimbangan alam. “Menyelamatkan alam atau manusia itu bukan pilihan, tapi ya dua-duanya,” terang Eva. 

Selain itu, Eva juga menceritakan pengalamannya ketika berencana mengajak siswa-siswanya belajar mengenai konservasi di Pantai Pelangi. Rencananya tersebut batal karena rekannya menilai bahwa Pantai Pelangi dianggap sudah terlalu komersil. “Apa-apa sudah ada harganya. Misal, biaya segini yang harus dibayar, terus untuk makan sudah ada segini,” terang Eva.

Menanggapi hal itu, Daru menyebutkan bahwa keterbatasan dana membuat mereka mengandalkan sumber daya swadaya. Ia mencontohkan pengalaman Pak Sarwidi, pegiat konservasi di Pantai Pelangi, yang menggelontorkan dana hingga 30 juta rupiah dari dana pribadinya. “Karena cinta, karena sayang dengan alam itu,” ujar Daru menyebut motivasi di balik berbagai upaya konservasi yang dilakukan Pak Sarwidi di tengah keterbatasan ekonomi yayasan. 

Daru juga menyinggung ketidakoptimalan dukungan pemerintah terhadap aktivitas konservasi. Menurutnya, sesuai Undang-Undang No. 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, kegiatan konservasi berhak mendapatkan bantuan dana melalui skema-skema tertentu dari pemerintah. Ia mengatakan bahwa bantuan tersebut sangat membantu keberlangsungan kegiatan konservasi tanpa penarikan donasi atau bayaran dari publik. “Berarti ‘kan seharusnya konservasi tidak harus sampai defisit biaya kayak gitu,” pungkas Daru.

Penulis: Anisa Cahya, Azmy Aisyata, Eunica Amanda (Magang)
Editor: Azmi Hanief
Fotografer: Wimala Nadhira (Magang)

Redaksi

See author's posts

2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Buku Tersungkur dan Tetap Melawan Rekam Perlawanan...

Interupsi Mahasiswa UGM dalam Diskusi Tiga Menteri Bukan...

Sivitas Akademika Fisipol Desak UGM Ambil Sikap Tegas...

Bara Akar Rumput Aksi Gejayan Tantang Kesewenangan Rezim...

Mahasiswa FIB UGM Gelar Pertunjukan Santet Prabowo-Gibran

Mahasiswa UGM Gelar Aksi Simbolik Pemakaman Prabowo-Gibran

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku Tersungkur dan Tetap Melawan Rekam Perlawanan Warga Terdampak Proyek Negara

    Juli 2, 2026
  • Interupsi Mahasiswa UGM dalam Diskusi Tiga Menteri Bukan Kerusuhan Impulsif

    Juni 22, 2026
  • Sivitas Akademika Fisipol Desak UGM Ambil Sikap Tegas terhadap Situasi Nasional

    Juni 16, 2026
  • Bara Akar Rumput Aksi Gejayan Tantang Kesewenangan Rezim Prabowo-Gibran

    Juni 16, 2026
  • Mahasiswa FIB UGM Gelar Pertunjukan Santet Prabowo-Gibran

    Juni 16, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM