Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
ANALEKTAKABAR

Kontras Bukan Kontra di Ruang Rakyat

Oktober 22, 2020

©Ananta/Bal

©Ananta/Bal

©Ananta/Bal

©Ananta/Bal

©Ananta/Bal

©Ananta/Bal

©Ananta/Bal

©Ananta/Bal

Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) menggelar aksi bertajuk “Ruang Rakyat: Semua Adalah Warga” pada Selasa (20-10) di Bundaran UGM. Aksi tersebut tidak hanya menghadirkan mereka yang berunjuk rasa. Seiring berjalannya aksi, banyak tokoh yang terlihat kontras berada di sana. Hadirnya mereka di sana mewarnai segala aktivitas yang dilangsungkan massa aksi. Mereka adalah para pedagang kaki lima, tim medis, dan juga warga negara asing.

“Sebagai sesama rakyat mari dilariskan dagangan para pedagang yang ada di sini!” Merupakan seruan di antara orasi yang diteriakkan dari panggung aksi. Mereka yang berdagang di antaranya pedagang asongan, pedagang sate, pedagang minuman dingin, pedagang es krim, dan pedagang kacang rebus. Walaupun tidak tergabung dalam massa aksi, para pedagang tetap mendukung tuntutan yang dibawa oleh massa aksi. Samadi Abdullah, seorang pedagang es krim menyampaikan bahwa aksi ini sangat berpihak kepada masyarakat. “Aksi mahasiswa di Jogja itu selalu berawal dari kepentingan rakyat kecil,” ujar Samadi. 

Di sebelah barat Bundaran UGM, terlihat sebagian massa aksi berkumpul dan mendirikan posko medis. Ega dari tim medis ARB, menjelaskan bahwa keikutsertaan teman-teman tim medis karena ingin membantu para massa aksi. Latar belakang sebagai mahasiswa dari jurusan medika merupakan salah satu alasan dari Ega dan teman-temannya untuk menjadi tim medis di tengah aksi. Ega menceritakan bahwa menjadi tim medis dalam sebuah aksi massa ada baik dan buruknya. Pada satu sisi lebih aman daripada massa aksi, tapi pada sisi lain dapat terkena imbasnya kalau situasi berubah ricuh. “Pasti ada persiapan untuk menghadapi kericuhan, walaupun niatnya aksi damai tapi tidak ada yang tahu,” tambah Ega.

Dari mereka yang terlihat berbeda dari massa aksi, mungkin kehadiran Pablo menjadi yang paling kontras. Pablo merupakan seorang warga negara Polandia yang sedang menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Airlangga. Dirinya mengaku tertarik dengan apa yang disampaikan oleh mahasiswa pada aksi ini. “Permasalahan UU Cipta Kerja ini menurut saya letak kekurangannya ada pada partisipasi publik, jadi mahasiswa merasa kalau mereka kurang mendapat dialog,” ujar Pablo.

Mereka yang berbeda dari massa aksi menjadi bukti dari aksi kali ini yang membawa semangat keterbukaan. Sebagaimana dinyatakan oleh Samadi, aksi massa di Yogyakarta selalu dimulai dari inisiatif yang arif dan bijaksana. Kerusuhan yang terjadi pada aksi tanggal 8 Oktober 2020 lalu di DPRD menurut Samadi bukan disebabkan oleh massa aksi, terutama mahasiswa. “Kerusuhan yang terjadi sebelumnya bukan disebabkan oleh mahasiswa, tetapi para pecundang,” tutupnya. 

Foto oleh Ananta Widi Rayhan
Kurator: Rizky Ramadhika
Reporter: Affan Asyraf, Alysia Noorma Dani, Bangkit Adhi Wiguna, dan Isabella
Teks: Affan Asyraf
Penyunting: Rizal Zulfiqri

aliansi rakyat bergerakmasyarakat sipilPedagangSisi lain Aksi Dewan RakyatTolak UU Cipta Kerja
2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Masyarakat Pesisir Tuban Kian Terpinggir

Ekspresi Ruang dan Waktu di ARTJOG 2024

Penutupan TPST Piyungan Mengakibatkan Jalanan Penuh Sampah

Nyaman Kita adalah Luka Mereka

Gunungan Hasil Bumi dan 17 Tahun Perjuangan Warga...

Bangunan Sebagian Kawasan Kerohanian

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

    April 10, 2026
  • Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap Jurnalis Perempuan

    April 9, 2026
  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM