Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji...
Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...
Tertiban Pemimpin, Sakit
Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam...
Ilusi Keadilan dalam Pidana Mati
Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung...
Aksi Hari Buruh Yogyakarta Tuntut Pengesahan UU Ketenagakerjaan...
Diskusi SPK Soroti Beban Ganda Akademisi Perempuan
Rubuh Perkara Industrialisasi
Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Mengkaji Peran Perempuan dalam Industri Pariwisata

November 27, 2016
©Azizil.bal

©Azizil.bal

 

Puluhan orang duduk membentuk lingkaran di Plaza lantai 1 Gedung C Fakultas Ilmu Budaya pada Rabu sore, (23/11). Diiringi rintik hujan, diskusi Selasar Aksara Sore (Selaras) digelar oleh Kementerian Kajian Strategi (Kastrat) LEM FIB UGM. Selaras mengambil tema “Gender in Tourism” dengan tujuan membuka pandangan baru peserta diskusi. “Setelah diskusi ini diharapkan kita mengetahui apakah ada perbedaan perlakuan terhadap wisatawan laki-laki dan perempuan atau motivasi perempuan untuk berwisata,” ujar Farid Mahya, Menteri Kastrat LEM FIB. Dua pembicara yang dihadirkan sebagai pemantik diskusi adalah Dr. Wiwik Sushartami M.A., dosen prodi Pariwisata FIB UGM dan Nadroh Nur Amalia, mahasiswa Pariwisata ’12.

Diskusi diawali oleh Wiwik yang menjelaskan pengertian gender. Menurutnya, gender merupakan peran sosial dan peran budaya yang diberikan kepada manusia berdasarkan ciri biologis antara laki-laki dengan perempuan. Gender dalam pariwisata sering dimaknai sama dengan jenis kelamin. Di tengah masyarakat, sering terdapat konstruksi bahwa laki-laki dan perempuan sudah memiliki peran masing-masing yang tidak dapat diganggu gugat. Dalam industri pariwisata, kaum perempuan masih memiliki peran yang terbatas dan belum bisa terlibat dalam hal-hal besar seperti pengambilan keputusan. “Padahal seharusnya perempuan dapat dihargai sederajat dengan kaum laki-laki. Perempuan juga bisa melakukan peran penting seperti pengambilan keputusan yang selama ini didominasi oleh laki-laki,” tutur Wiwik. Keterlibatan perempuan harus bisa memberikan ruang bagi mereka untuk menunjukkan kemampuannya. Wiwik berharap perempuan dapat terlibat lebih aktif dalam pengambilan keputusan guna menguatkan posisi mereka dalam industri pariwisata. Menurutnya, isu ini penting untuk diangkat karena ketimpangan gender dalam industri pariwisata belum mendapat banyak sorotan.

Isu gender dalam pariwisata dapat dikaji dalam beberapa aspek. Aspek yang paling sering berkaitan adalah mobilitas dan sex tourism karena kedua aspek ini sering dijumpai. Aspek mobilitas yang diangkat dalam isu ini adalah kesulitan perempuan dalam mengakses dan berekspresi di industri pariwisata. Menurut Wiwik, terbatasnya akses kendaraan yang dapat menjamin keamanan perempuan akan mengakibatkan mereka kesulitan mendapatkan kesempatan untuk berwisata. “Kalau untuk keluar saja perempuan tidak bisa, bagaimana dia bisa menambah keberdayaannya?” ucap Wiwik.

Sedangkan permasalahan sex tourism banyak disebabkan oleh adanya ketimpangan ekonomi antara negara asal wisatawan dan negara tujuan wisata dilihat dari segi pendapatan. Adanya jurang perbedaan tersebut mengakibatkan wisatawan dari negara maju menganggap rendah para orang lokal. Orang lokal ini diibaratkan sebagai komoditas yang dapat diperjualbelikan. Hal inilah yang kemudian memicu tindakan pelecehan, eksploitasi, human trafficking terhadap orang lokal. “Buruknya lagi, tindakan-tindakan ini cenderung didiamkan akibat ketakutan korban akan hilangnya pekerjaan mereka apabila berusaha melawan,” ujar Wiwik.

Penjelasan Wiwik didukung oleh pemaparan Amalia tentang hambatan yang dialami wisatawan perempuan dalam berwisata. Umumnya, keterlibatan perempuan dalam industri pariwisata hanya sebatas pada aktivitas membersihkan penginapan atau memasak. Akibatnya, keinginan perempuan untuk berwisata menjadi sulit terlaksana. Perempuan kerap dijadikan  sebagai subjek penjaga atau pengelola fasilitas pariwisata dan bukannya sebagai pelaku aktif. “Kaum perempuan kurang mendapatkan kesempatan untuk melakukan aktivitas yang sesuai keinginannya untuk berwisata,” jelas Amalia.

Menurut Dwi Kurnia Sandy, mahasiswa Departemen Arkeologi ’15 yang mengikuti diskusi, isu gender dalam pariwisata menarik karena isu ini belum banyak dikaji. Ia berharap isu ini tidak hanya dikaji secara akademis saja, melainkan juga membawa manfaat bagi dunia pariwisata Indonesia. “Mungkin adanya kajian ini dapat membuka akses bagi perempuan untuk melakukan kegiatan-kegiatan diluar ruangan. Harapannya, minat perempuan untuk mengikuti wisata-wisata ekstrem seperti diving, climbing, atau mendaki gunung juga meningkat,” pungkasnya. [Monica Bening, Sandy Maulana]

Administrator Magang

See author's posts

##Kilas #Pariwisata #Gender #Perempuan
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji...

Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...

Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam...

Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung...

Aksi Hari Buruh Yogyakarta Tuntut Pengesahan UU Ketenagakerjaan...

Diskusi SPK Soroti Beban Ganda Akademisi Perempuan

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji Hari Buruh

    Mei 29, 2026
  • Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status Mitra

    Mei 20, 2026
  • Tertiban Pemimpin, Sakit

    Mei 17, 2026
  • Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam RUU Sisdiknas

    Mei 10, 2026
  • Ilusi Keadilan dalam Pidana Mati

    Mei 10, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM