Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...
Tertiban Pemimpin, Sakit
Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam...
Ilusi Keadilan dalam Pidana Mati
Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung...
Aksi Hari Buruh Yogyakarta Tuntut Pengesahan UU Ketenagakerjaan...
Diskusi SPK Soroti Beban Ganda Akademisi Perempuan
Rubuh Perkara Industrialisasi
Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi
Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Mewujudkan Smart City, Konsep Alternatif Penataan Kota

Mei 7, 2015
©Amsa.bal

©Amsa.bal

Kota-kota di dunia mengalami tantangan yang kurang lebih sama, peningkatan pertumbuhan penduduk yang pesat harus dibarengi dengan perencanaan yang tepat. Apalagi, jika kota menjadi sasaran urbanisasi, seperti Yogyakarta. Tantangan tersebut dapat diatasi dengan konsep penataan kota “ Smart City”. Konsep Smart City merupakan konsep penataan kota dengan peningkatkan peran infrastruktur publik serta pembangunan yang tidak ego sektoral. Pembangunan ego sektoral merupakan pembanguan yang cenderung tidak memperhatikan dampak terhadap lingkungan sekitar. Smart city memiliki beberapa indikator, diantaranya smart culture dan smart transport management”. ungkap Prof Dr. Achmad Djunaedi, guru besar Arsitektur dan Perencanan UGM, dalam diskusi publik ‘Tantangan Smart City untuk Yogyakarta Berbudaya’, Sabtu (2/5).

Penerapan smart culture menurut Adjun, sapaan Prof. Dr. Achmad Djunaedi, dapat dilakukan dengan memperkuat nilai budaya pada infrastruktur perkotaan. Nilai budaya dapat diterapkan seperti bus Trans Jogja yang diberi hiasan motif batik. Hal ini dapat membuat kota mempunyai identitas yang akan menarik wisatawan dan menambah pendapatan daerah.

Lebih lanjut, Adjun menambahkan dalam mewujudkan kota cerdas perlu transportasi yang waktu dan rutenya saling terintegrasi. Hal inilah yang disebut smart transport management. Menurutnya, pemerintah saat ini dirasa kurang maksimal dalam mengurangi kemacetan. Himbauan penggunaan transportasi publik tidak diimbangi dengan peningkatan layanan. Sebagai contoh, masyarakat masih menyambung moda transportasi dari bus ke angkutan untuk menjangkau rumahnya. “Oleh karena itu, jumlah kendaraan pribadi semakin bertambah dari tahun ke tahun” tutur Adjun.

Berbeda dengan Adjun yang menekankan tanggung jawab smart city pada pemerintah. M Aditya Arief Nugroho, Presiden Gamatechno Indonesia, menjelaskan untuk mewujudkan smart city merupakan tanggung jawab semua, tidak harus bergantung pada pemerintah. “Contohnya, komunitas dimana pengendara mobil dapat memberi tumpangan ke orang lain yang memiliki tujuan sama lewat sebuah group twitter, Nebenger’s,”. Komunitas ini mampu mengurangi kemacetan perkotaan, salah satunya yang diterapkan di Jakarta.

Menurut Adjun, berbagai permasalahan terkait pembangunan yang terjadi di Yogyakarta salah satunya dikarenakan karena kota ini belum menerapkan konsep smart city. Seperti pembangunan hotel di Yogyakarta yang menyebabkan keringnya sumur warga. “Pembangunan infrastruktur harus efisien dan membuat masyarakat nyaman, itu kuncinya kota cerdas” tutur Adjun.

Ni Made Dwipanti, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) DIY, menuturkan bahwa implementasi Smart City harus dilakukan bertahap. Hal ini dikarenakan dana yang dibutuhkan besar dan perlu dukungan dari masyarakat. Namun, dukungan tersebut terkadang terkendala pemahaman yang kurang. Untuk itu, kedepannya Bappeda akan mengusulkan pendirian Urban Planning Exhibition. Pendirian ini dimaksudkan untuk mengedukasi serta sebagai sarana aspirasi masyarakat tentang tata ruang, khususnya Smart City. [Ardianto]

Redaksi

See author's posts

arsitektursmart citysmart culturetata kota
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...

Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam...

Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung...

Aksi Hari Buruh Yogyakarta Tuntut Pengesahan UU Ketenagakerjaan...

Diskusi SPK Soroti Beban Ganda Akademisi Perempuan

Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status Mitra

    Mei 20, 2026
  • Tertiban Pemimpin, Sakit

    Mei 17, 2026
  • Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam RUU Sisdiknas

    Mei 10, 2026
  • Ilusi Keadilan dalam Pidana Mati

    Mei 10, 2026
  • Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung PN Magelang

    Mei 8, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM