Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Cabut Peraturan Rektor No. 408 Tahun 2010

Februari 28, 2011

Senin (28/02) siang, Gerakan Tolak Komersialisasi Kampus (GERTAK) menyelenggarakan diskusi publik  yang bertajuk “Parkir Berbayar dan Komersialisasi Kampus di UGM”. Dalam diskusi yang berlangsung sekitar dua jam di Ruang Seminar Timur FISIPOL UGM itu, terdapat empat orang pembicara yaitu Eko Prasetyo (direktur Pusham UII), Miftah Adi Susanto (dosen UGM), Natalia Kristyanto (LBH Yogyakarta), dan Wisnu Prasetya Utomo (mahasiswa UGM).

Sebagai perwakilan mahasiswa yang menolak Kartu Identitas Kendaraan (KIK), Wisnu memaparkan kronologis kebijakan kontroversial ini. Penuturan selengkapnya dapat dibaca dihttps://www.balairungpress.com/2010/07/upaya-melawan-lupa-tolak-kebijakan-kartu-identitas-kendaraan-di-ugm-share/ “Tidak ada korelasi antara tarif parkir berbayar dan keamanan kampus. Bahkan pada Desember tahun lalu, ada kasus pembacokan yang terjadi di UGM pasca pemberlakukan KIK,” tutur perwakilan GERTAK ini. (baca:https://www.balairungpress.com/2010/12/mahasiswa-diserang-perampok-bersenjata-tajam-di-kampus/)

Terkait pemberlakuan KIK, Natal mencoba bersikap skeptis terhadap arah aliran dana. “Pemasukan sekitar delapan juta per hari tentu berpotensi menimbulkan penyelewengan dana,” tegas alumnus Fakultas Hukum UGM ini. Menurutnya, kebijakan kampus harus memuat unsur-unsur nirlaba, akuntabilitas, dan transparansi.

Miftah menyorot fakta bahwa UGM adalah ruang publik yang bebas diakses tanpa pungutan biaya. Pendapat itu diperkuat oleh Eko Prasetyo, “Apakah warga harus membayar jika ingin sholat di masjid kampus atau berolahraga di sekitar GSP?”. Eko prihatin dengan sikap mahasiswa yang acuh tak acuh terhadap berbagai kebijakan kampus. “Rektorat tahu sasaran kebijakannya. Bagi mahasiswa UGM, membayar seribu rupiah tentu tidak masalah, daripada berurusan panjang,” keluhnya. Menurutnya, mahasiswa harus melawan segala bentuk komersialisasi kampus karena itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap pendidikan.

Sulistio Mardiatmo, direktorat pengelolaan dan pengembangan aset UGM, yang dihubungi Balairung seusai memantau jalannya diskusi, mengeluhkan pernyataan dari keempat pembicara yang tidak satu pun pro kebijakan kampus. Perbedaan pendapat dan data yang diperoleh dianggapnya sebagai hal biasa. “Mau bagaimana lagi, begitulah respons wajar dari sebuah proses pembelajaran,” ujarnya.

Pada akhir diskusi, keempat pembicara sepakat dengan tuntutan GERTAK untuk mencabut kebijakan KIK yang didasarkan pada Surat Keputusan Rektor No 408 tahun 2010. Tarif seribu rupiah untuk sepeda motor dan dua ribu rupiah untuk mobil yang tidak bisa menunjukkan KIK rencananya akan mulai diberlakukan per 1 Maret 2011. “Besok (hari ini, red) kami mengajak rekan-rekan untuk ikut serta dalam aksi tolak KIK,” pungkas Wisnu.

[Ay, Rista]

gertakkikkomersialisasi kampusugm
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM