Minoritas: (Tak) Melulu Citra Marginal

Petang itu, Titik Anomali terujud dalam potret dengan kumpulan noktah pada suatu preparat. Di antara belasan noktah yang didominasi merah jambu, kuning, dan jingga itu; dua titik secara kebetulan kehilangan warna. Dua titik berbeda di tengah bintik-bintik pancaragam itu mengajak pengunjung untuk berpikir, bahkan memancing mereka untuk bertemu langsung dengan Dian Ayu Aryani, sang fotografer. Untuk menghasilkan potret dari objek mikroskopis itu, dia mengaku memotret dengan bantuan mikroskop dan memfokuskannya pada preparat. Dian menjelaskan betapa dua titik tersebut menggambarkan kaum minoritas yang walaupun sudah disorot namun tetap saja menjadi kaum yang termarginalkan.

Keunikan pameran pun semakin tampak dengan ditampilkannya potret seorang gadis difabel yang dengan gigih melakukan gerakan tari balet. Perspektif diambil dari seorang gadis difabel di tengah bayang-bayang para balerina yang sedang menari dengan moleknya. Penggambaran emosi terekspresikan semakin kuat dengan latar belakang gelap dan air muka sedih yang tertampil dari wajah si balerina. Efek tersebut dengan sempurna menggambarkan pergolakan batin sang gadis difabel untuk menjadi bintang. Karena itulah potret yang berjudul Wish Upon a Star buah karya Satria Dewi Anjaswari ini menjadi adibintang dalam pameran tersebut.

Semakin larut, semakin berjubel pengunjung memenuhi Ruang Sidang I Gelanggang Mahasiswa UGM, Sabtu (31/3). Secara bergantian mereka mencerap satu persatu potret yang dipamerkan. Sesekali, mereka menghentikan langkah untuk melihat bagaimana potret kaum minoritas tertampil melalui alat musik undergroundyang berdampingan dengan karya sang fotografer. Pun, panitia penyelenggara berhasil menyulap ruang pameran dengan penuh nuansa sentimental. Lampu remang setinggi ubun-ubun pengunjung digantung di depan setiap karya. Potret-potret saling berangkaian antara objek manusia dan objek benda dalam wujudnya sebagai yang terlupakan.

Selama ini, “Minoritas” menjadi istilah yang cukup populer dalam menggambarkan golongan yang justru tidak populer. Persoalan dari golongan yang diminorkan selalu muncul ke permukaan, namun pada akhirnya mereka akan selalu menjadi kelompok yang terpinggirkan. Inilah yang membuat UKM UFO mengangkat “Minoritas” sebagai tema yang layak diusung dalam pameran foto mereka.

Sebagian besar karya dalam pameran ini berefleksi pada keseharian yang berkelindan dengan betapa majemuknya aspek kehidupan masyarakat. Beragam sudut pandang ditonjolkan dari kaum minoritas. Fotografer berhasil menuangkannya ke dalam potret-potret yang membidik komunitas, musik, lingkungan, budaya, difabel, gender dan keagamaan menjadi karya yang patut diapresiasi. Dari segi pengambilan potret yang detail, fotografer mengantarkan pesan-pesan itu dengan tanpa berusaha menjadi patron.

Seperti misalnya, di sudut kiri ketika memasuki ruang pameran, terlihat dua potret sepasang kekasih homoseksual berdekapan di bawah shower. Kisah homoseksual tersebut dirangkaikan dengan lanjutan potret, sepasang kekasih homoseksual lainnya yang bercumbu di dalam gelap. Adalah Tidak Bisa di Luar,jepretan Meirani Indrihastuti Khalik, yang mengisahkan bagaimana kaum homoseksual masih menjadi pergunjingan di tengah masyarakat Indonesia. Akibat ketatnya norma-norma sosial, mereka tidak mampu menunjukkan ekspresi mereka yang sesungguhnya; tampilan vulgar hanya bisa termanifestasikan di depan orang-orang yang bisa memahami mereka.

Modernitas yang menenggelamkan masyarakat ke dalam rutinitas dan kehidupan yang menjemukan pun turut menjadi sasaran potret. Tak khayal, potret buah karya Nur Aditya Rizali menyuguhkan nostalgia terhadap permainan tradisional. Ketapel, yoyo, gangsing, dan pistol kayu mewakili bentuk-bentuk dolanan yang kian terpinggirkan. Potret berjudul Mainanku ini seakan hendak menceritakan bagaimana dolanan khas daerah tersisih dari arus perkembangan teknologi dengan membandingkannya pada permainan modern stickPlaystation.

Tak berhenti pada konflik kesenjangan sosial, kesenjangan bentuk tubuh pun menjadi pilihan objek potret. Seorang pria obesitas didaulat sebagai model dalam pameran kali ini. Potret dengan ukuran besar itu dipajang di tengah fitting room dengan ornamen dua celana jeans berukuran small tergantung di depannya.Selain bersesakan di tengah fitting room, di sana ia terlihat kesulitan menarik risleting celananya. Potret yang berjudul “No Size for Me” buah karya Faizal Afnan ini menceritakan bagaimana orang-orang dengan ukuran tubuh besar acapkali kesulitan mencari pakaian karena bentuk tubuhnya yang tidak umum.

Kerja keras para fotografer dalam mengumpulkan kisah-kisah minoritas ini merefleksikan kepedulian atas fenomena mereka yang terpinggirkan dan terlupakan dalam realita masyarakat. Melalui potret-potret itu, para fotografer hendak membangun kesadaran pengunjung untuk saling mengapresiasi keragaman, sekalipun dalam bentuknya sebagai minoritas.[Danny Izza, Farah Dinna Pratiwi]

Tulisan Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>