Meneropong Polemik Bumi Cenderawasih

Minggu (4/12) Tim KKN PPM Papua 2011 bekerjasama dengan PKKH menyelenggarakan sarasehan yang bertajuk “Mengintip Indonesia Lewat Papua” di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjosoemantri. “Kegiatan ini bertujuan untuk membuka cakrawala mahasiswa Indonesia untuk secara riil beraksi menghidupkan semangat kemajuan masyarakat lokal di pelosok-pelosok Indonesia” tutur Suke selaku ketua panitia.

Acara ini dibagi dalam dua sesi. Talkshowmenjadi sesi pembuka dari acara Sarasehan Budaya yang menghadirkan beberapa narasumber.  Di antaranya tokoh asal Papua Trifonia Nafrubenan, seorang musisi sekaligus pengamat budaya Papua Edo Kondologit serta Prof. Dr. Ikhwanuddin Mawardi, M. Sc selaku Deputi Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) BAPPENAS. Sesi ini semakin menarik dengan adanya perdebatan antara dua kubu, yaitu kubu pemerintah yang diwakili oleh Ikhwanuddin Mawardi serta kubu dua yang diwakili oleh Edo dan Fonia.

Perdebatan itu diawali dengan adanya pesimisme Edo mengenai UP4B yang dicanangkan pemerintah dalam rangka meningkatkan keadaan sosial, politik, dan ekonomi Papua. “Di dalam forum ini saya berusaha untuk bersikap netral, namun terus terang saya pesimis dengan program UP4B” ujar Edo. Senada dengan Edo, Fonia mengatakan bahwa otsus yang dicanangkan pemerintah tidak menyentuh masyarakat Papua secara langsung. Mananggapi pernyataan tersebut, Ikhwanuddin menyampaikan pembelaannya. “Pemerintah sudah semaksimal mungkin memberdayakan SDM Papua dengan dicanangkannya program pendidikan gratis serta pelatihan kerja bagi putra daerah” tutur Ikhwanuddin.

Selanjutnya sesi kedua bertajuk “Mengabdi di Bumi Cenderawasih. Sesi ini bersisi sosialisasi  KKN PPM oleh dosen pembimbing lapangan dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UGM serta paparan pengalaman oleh para mahasiswa KKN PPM. Selain itu, sarasehan ini menjadi lebih hidup dengan adanya pemutaran film dokumenter yang berjudul “Kitong Pu Harapan”, film ini menggambarkan secara jelas kepada peserta tentang kehidupan riil masyarakat lokal di Papua. Ada pula pertunjukkan kesenian khas Papua yang dibawakan oleh mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Di akhir acara diluncurkan buku tentang catatan kehidupan masyarakat lokal di Papua Barat yang berjudul “Meretas Harapan di Kampung Petatas” dan “Terempoi” oleh Tim KKN PPM.

Papua bukan hanya sekedar koteka, rambut keriting kulit hitam, dan tambang emas di Grasberg dan Ertsberg. Namun bumi Papua merupakan secuil surga yang dianugerahkan Tuhan dari langit”, ujar Edo Kondologit. Eksotisme papua selalu menarik perhatian orang-orang untuk datang kesana. Meskipun banyak orang-orang yang sadar akan eksotisme papua, hanya segelintir saja yang menyadari kompleksitas sosial budaya masyarakat Papua.

Banyak persoalan krusial di tanah Papua, seperti: sejarah dan status politik tanah Papua. Kekerasan negara dan pelanggaran HAM, marjinalisasi dan efek diskriminatif modernisasi dan migrasi terhadap warga asli Papua. Kegagalan pembangunan yang terlihat dari kemacetan pendidikan dasar, pelayanan kesehatan di tingkat kampung, dan ketiadaan program pemberdayaan ekonomi kampung yang memadai.

“NKRI merupakan harga mati”, ungkap Edo. “Mari memahami mereka, bukan sekedar soal tau, tapi melihat Indonesia sebagai Papua. Mereka juga berhak ‘memiliki’ Indonesia yang besar itu”, ajak Azmi. Sarasehan Budaya ini adalah sebentuk ikhtiar untuk merajut kembali sekaligus merakit lebih erat narasi persaudaraan itu. Demi Papua Baru di dalam Indonesia baru yang sejahtera, damai, dan berkeadilan. [Adriansyah Dhani Darmawan, Aziz Rahmat, Danny Izza]

 

 

Tulisan Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>