Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji...
Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...
Tertiban Pemimpin, Sakit
Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam...
Ilusi Keadilan dalam Pidana Mati
Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung...
Aksi Hari Buruh Yogyakarta Tuntut Pengesahan UU Ketenagakerjaan...
Diskusi SPK Soroti Beban Ganda Akademisi Perempuan
Rubuh Perkara Industrialisasi
Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Program MBG Timbulkan Keracunan Massal, Ibu-Ibu Gelar Aksi

September 30, 2025

©Arfa/Bal

Komunitas Suara Ibu Indonesia bersama gerakan kolektif Ibu Berisik menggelar aksi pada Jumat (26-09) sebagai bentuk protes terhadap program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang terus menimbulkan korban keracunan massal. Puluhan massa serentak membawa panci dan berkumpul di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai ungkapan penolakan mereka terhadap kebijakan tersebut. “Hari ini, kami, para ibu di Yogyakarta, memukul-mukul panci yang biasa kami gunakan untuk memasak makanan sehat, tapi tanpa racun bagi anak-anak kami,” seru salah satu orator aksi.

Dalam aksi ini, terdapat empat tuntutan aksi yang digaungkan. Pertama, menuntut program prioritas MBG yang sentralis dan militeristik untuk diberhentikan. Kedua, menuntut pertanggungjawaban pemerintah, Badan Gizi Nasional (BGN), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan Dapur Penyelenggara MBG yang menyebabkan ribuan korban keracunan dari Januari sampai September 2025. Ketiga, menuntut kasus keracunan massal dan korupsi dalam pelaksanaan program MBG. Keempat, menuntut pengembalian pemenuhan gizi anak ke komunitas dan daerah. 

Aksi diawali dengan massa yang memukul panci secara serentak. Seiring dentingan panci yang menggema, seorang orator menyampaikan keresahannya atas lonjakan korban keracunan MBG. Ia menyoroti jumlah korban di Indonesia yang meningkat drastis dari 5.626 orang menjadi 6.618 orang hanya dalam dua hari. “Bagi mereka, angka 4.000, 5.000, 6.000 hanya data statistik. Mereka lupa bahwa satu anak itu ada nyawa. Ada tangis, ada sedih, dan ada kerepotan orang tua,” tuturnya. 

Jumlah korban yang terus meningkat tersebut menjadi kekhawatiran para ibu akan keselamatan anak-anaknya di sekolah. Hal ini dikeluhkan oleh Arum, salah satu massa aksi. Ia mendapati cerita temannya, seorang guru sekolah dasar, yang kerap menemukan aroma tak sedap dan serangga di hidangan MBG. “Bukan lagi ulat yang kecil, tapi sebesar kelingking. Terus bau, baunya enggak enak gitu,” ujar Arum.

Massa aksi lain, Inun, juga menyampaikan keresahan para guru yang merasa terbebani oleh program MBG. Ia menyoroti guru yang sering kali disalahkan saat terjadi kasus siswa keracunan di sekolah. Terlebih lagi, Inun merasa gaji guru yang rendah tidak sebanding dengan beban tambahan yang mereka ampu tersebut. “Padahal, gajinya juga enggak seberapa, tapi dia harus menanggung beban juga,” imbuh Inun.

Lebih lanjut, Inun, sebagai moderator aksi, juga mempermasalahkan tata kelola MBG yang dinilai tidak jelas dan tidak transparan. Akibatnya, warga pun kebingungan pihak mana yang bisa dimintai pertanggungjawaban atas kasus keracunan massal akibat MBG. Menurutnya, tidak mungkin menuntut SPPG yang hanya bertindak sebagai pengelola dapur. “Paling mungkin menuntut presiden karena itu [program MBG-red] nawacitanya mereka,” tegas Inun. 

Selain tata kelola, anggaran dana untuk program MBG juga menjadi masalah tersendiri. Riska, salah seorang massa aksi, mempertanyakan program MBG yang justru mengambil dana pendidikan. Ia merasa ada kontradiksi antara tujuan MBG untuk menyukseskan pendidikan anak dengan dipangkasnya dana pendidikan untuk mendanai program tersebut. “Padahal, sebenarnya, kalau mau seperti itu [MBG dijalankan-red], seharusnya pemerintah perlu melakukan perbaikan dulu pendidikannya,” ungkap Riska.

Aksi diakhiri dengan bunyi dentingan panci yang kian menggema bersamaan dengan dibacakannya tuntutan aksi. Senada dengan tuntutan tersebut, Inun menyuarakan aspirasinya agar program MBG segera dihentikan. Ia juga menuntut pertanggungjawaban atas korban keracunan massal MBG. “Sampai kami aja enggak tau harus ke siapa menuntut pertanggungjawaban atas korban-korban yang telah berjatuhan,” terang Inun.


Reporter: Gulma Zahra Auradatu, Azmi Hanief, dan Ashfa Nayla
Penulis: Ashfa Nayla dan Gulma Zahra Auradatu
Penyunting: Leoni Nevia
Fotografer: Arfa Zhafif 

Redaksi

See author's posts

4
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji...

Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status...

Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam...

Putusan Sidang Tapol Diwarnai Kejanggalan, Massa Aksi Kepung...

Aksi Hari Buruh Yogyakarta Tuntut Pengesahan UU Ketenagakerjaan...

Diskusi SPK Soroti Beban Ganda Akademisi Perempuan

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji Hari Buruh

    Mei 29, 2026
  • Aksi “Matikan Aplikasi” Pekerja Platform Tuntut Penghapusan Status Mitra

    Mei 20, 2026
  • Tertiban Pemimpin, Sakit

    Mei 17, 2026
  • Pendidikan Penghayat Hadapi Tantangan Akibat Ketiadaan Aturan dalam RUU Sisdiknas

    Mei 10, 2026
  • Ilusi Keadilan dalam Pidana Mati

    Mei 10, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM