Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Partisipasi Publik Makin Terbatas, Ruang Sipil Kena Imbas

September 3, 2025

©Kahfi/Bal

Sabtu (30-08) Yayasan Partisipasi Muda (YPM) bersama KOMAP (Korps Mahasiswa Politik dan Pemerintahan) FISIPOL UGM menggelar diskusi publik bertajuk “Spill the Research, PoV Orang Muda Soal Ruang Sipil: Indonesia Gelap atau Terang”. Diskusi publik yang diadakan dalam rangka merespon temuan riset soal kekhawatiran generasi muda terhadap penyempitan ruang sipil tersebut, dimulai tepat pukul 13.00 WIB di Aula Timur FISIPOL UGM. Diskusi ini menghadirkan lima orang narasumber berbeda, yaitu Alfath Bagus Panuntun El Nur, Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan; Neildeva Despendya, Co-Founder Yayasan Partisipasi Muda; Nadya Zafira, Peneliti Institute of International Studies UGM;  Muhammad Fajar,  dan Rahardika Utama, Peneliti dari Northwestern University. 

Membuka diskusi, Neildeva menyebutkan bahwa  sekalipun ruang sipil berperan sentral bagi demokrasi, keberadaan ruang sipil di Indonesia kerap kali menuai ancaman lewat berbagai serangan digital, seperti doxing dan buzzer. “Data dari SafeNet tahun 2025, ada 137 serangan digital sejak awal tahun dan 60 persennya menyerang aktivis,” tegas Neildeva. Baginya, penyempitan ruang sipil tersebut membawa dampak signifikan bagi keleluasaan generasi muda untuk bersuara, utamanya untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan politik pemerintah yang tidak berpihak kepada masyarakat.

Kekhawatiran generasi muda ini diamini Fajar. “74 persen dari 515 responden dengan jangkauan usia 20-30 tahun, mereka khawatir untuk bersuara di ruang publik, seperti media sosial,” papar Fajar. Padahal baginya, media sosial merupakan ruang sipil yang paling mudah diakses dan seharusnya menjadi ruang aman bagi generasi muda. 

Alfath, lantas melanjutkan pemaparan riset Fajar mengenai penyempitan ruang sipil. Baginya, ada banyak faktor yang melanggengkan penyempitan ruang sipil di Indonesia. Salah satu yang utama adalah tingkat pendidikan masyarakat. “Orang yang kemudian ingin berdemokrasi dengan baik, berasal dari orang-orang yang punya tingkat pendidikan yang lebih tinggi,” terang Alfath.

Alfath melanjutkan masyarakat dengan pendidikan tinggi  lebih kritis terhadap keadaan. Berbeda dengan masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah yang lebih mudah dimobilisasi menurut kehendak kekuasaan. “Mereka yang punya tingkat pendidikan yang lebih rendah, kemampuannya lebih banyak dimobilisasi,” ujar Alfath. 

Menurut Alfath, hal itu juga diperparah dengan kebijakan pemerintah yang juga tidak mendukung keterbukaan ruang sipil. “Kita seringkali bertemu dan melihat kebijakan, tapi bukan kebajikan,” terang Alfath. Baginya, pembuatan kebijakan publik begitu eksklusif dan dikuasai oleh kalangan tertentu sehingga regulasi yang dibentuk hanya menguntungkan segelintir elit semata.

Selepas Alfath, Nadya Zafira memulai pemaparannya mengenai democratic burnout. Baginya, democratic burnout adalah kondisi penurunan taraf demokrasi suatu negara melalui penyempitan ruang sipil, yang belakangan terjadi bukan hanya dalam skala nasional, melainkan internasional. “Ini tidak [hanya -red] terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di Amerika Serikat misalnya,” ujar Nadya. Ia juga menambahkan bahwa adanya momentum democratic burnout merupakan bagian dari pembelajaran demokrasi suatu negara.

Sebab menurut Nadya, demokrasi bukan hanya soal pemilu dan partai politik. Baginya, demokrasi adalah ruang sipil, tempat berekspresi bahkan pertengkaran ide dan gagasan yang harus senantiasa dijaga keberadaannya. “Intinya adalah kita melakukan pemantauan ruang sipil yang lebih analisis, lebih periodik,” terang Nadya. 

Penulis: Reza Faza A. A.
Penyunting: M.Nabeel Fayyaz
Fotografer : Muhammad Al Kahfi

2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...

Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...

Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

    April 10, 2026
  • Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap Jurnalis Perempuan

    April 9, 2026
  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM