Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Logika Dominasi di Balik Upaya Transisi Hijau
Diskusi Buku Tersungkur dan Tetap Melawan Rekam Perlawanan...
Interupsi Mahasiswa UGM dalam Diskusi Tiga Menteri Bukan...
Sivitas Akademika Fisipol Desak UGM Ambil Sikap Tegas...
Bara Akar Rumput Aksi Gejayan Tantang Kesewenangan Rezim...
Mahasiswa FIB UGM Gelar Pertunjukan Santet Prabowo-Gibran
Pelindung atau Musuh dalam Selimut?
Mahasiswa UGM Gelar Aksi Simbolik Pemakaman Prabowo-Gibran
Darurat Kriminalisasi Aborsi
Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Ekspresi Nasionalisme Para Seniman dalam Karya Seni Rupa

November 5, 2024

©Nabillah/Bal

Pada Jumat (01-11), Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mengadakan diskusi daring bertajuk “Nasionalisme dalam Seni Rupa, Apa Perlu?” dalam rangka memperingati 86 tahun berdirinya Persatuan Ahli Gambar Indonesia. Diskusi ini menghadirkan tiga seniman yakni Tisna Sanjaya, Santi Ariestyowanti, dan Samsul Arifin. Diskusi yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom ini membuka ruang bagi para seniman untuk berbagi pandangan tentang bagaimana nasionalisme dihadirkan dalam karya mereka.

Mengawali diskusi, Tisna memulai paparannya dengan menggambarkan pendekatan pribadinya terhadap nasionalisme dalam seni. Ia menegaskan bahwa nasionalisme dalam seni rupa sebaiknya memiliki cakupan luas, berakar pada nilai-nilai demokrasi, rasa kemanusiaan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini menginspirasi Tisna untuk menciptakan karya seni yang berakar dari kondisi lingkungan di desa tempat tinggalnya. Ia merasa perlu memberikan kontribusi yang bermanfaat melalui karya seni yang relevan dengan masyarakat setempat. “Sawah-sawah menjadi tempat mencuci plastik-plastik, padi berubah menjadi plastik,” ujar Tisna. 

Lebih lanjut, menurut Santi, penggunaan elemen budaya lokal dapat menjadi cara untuk mengenali jati diri di tengah pengaruh budaya populer dari luar. “Kebutuhan-kebutuhan untuk mengenal jati diri ini akhirnya berlanjut dengan eksplorasi visual,” jelas Santi. Ia pun mencontohkan beberapa karyanya yang menggunakan budaya lokal seperti wayang dan kain lurik.

Menyambung Santi, Samsul yang dikenal karena penggunaan karung goni sebagai medium utama dalam karyanya, turut membagikan perspektif. Menurut Samsul, pilihan material itu mengingatkannya pada masa-masa kelam kolonialisme Jepang ketika rakyat jelata sering dipaksa menggunakan karung goni sebagai pakaian. ”Bagi saya, karung goni bukan semata-mata material yang tidak bernilai, ada nilai sejarah yang mengingatkan kita betapa getirnya perjuangan saat itu,” jelasnya. 

Selain karung goni, Samsul juga sering menggunakan medium boneka dalam karyanya. Salah satunya yaitu seri “Kabinet Goni” dengan konsep menghadirkan boneka dari goni yang mewakili penderitaan dan pembodohan rakyat. “Boneka dari goni adalah sebuah karya untuk mengingatkan kita pada penjajahan, sebuah bentuk pembodohan yang masih relevan dalam berbagai konteks hari ini,” ujarnya. 

Tidak hanya itu, bagi Tisna, seni rupa adalah ruang untuk menyuarakan keresahan terhadap masalah sosial sekaligus sarana untuk melibatkan masyarakat dalam dialog tentang masa depan yang lebih baik. Dengan demikian, ia meyakini bahwa seni bukan hanya alat ekspresi personal. “Seni dapat pula menjadi medium refleksi dan kritik budaya yang lebih luas dalam masyarakat,” tegas Tisna. 

Penulis: Indira Zahra Mustika
Penyunting: Titik Nurmalasari
Illustrator: Nabillah Faisal

Redaksi

See author's posts

1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Logika Dominasi di Balik Upaya Transisi Hijau

Diskusi Buku Tersungkur dan Tetap Melawan Rekam Perlawanan...

Interupsi Mahasiswa UGM dalam Diskusi Tiga Menteri Bukan...

Sivitas Akademika Fisipol Desak UGM Ambil Sikap Tegas...

Bara Akar Rumput Aksi Gejayan Tantang Kesewenangan Rezim...

Mahasiswa FIB UGM Gelar Pertunjukan Santet Prabowo-Gibran

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Logika Dominasi di Balik Upaya Transisi Hijau

    Juli 7, 2026
  • Diskusi Buku Tersungkur dan Tetap Melawan Rekam Perlawanan Warga Terdampak Proyek Negara

    Juli 2, 2026
  • Interupsi Mahasiswa UGM dalam Diskusi Tiga Menteri Bukan Kerusuhan Impulsif

    Juni 22, 2026
  • Sivitas Akademika Fisipol Desak UGM Ambil Sikap Tegas terhadap Situasi Nasional

    Juni 16, 2026
  • Bara Akar Rumput Aksi Gejayan Tantang Kesewenangan Rezim Prabowo-Gibran

    Juni 16, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM