Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Logika Dominasi di Balik Upaya Transisi Hijau
Diskusi Buku Tersungkur dan Tetap Melawan Rekam Perlawanan...
Interupsi Mahasiswa UGM dalam Diskusi Tiga Menteri Bukan...
Sivitas Akademika Fisipol Desak UGM Ambil Sikap Tegas...
Bara Akar Rumput Aksi Gejayan Tantang Kesewenangan Rezim...
Mahasiswa FIB UGM Gelar Pertunjukan Santet Prabowo-Gibran
Pelindung atau Musuh dalam Selimut?
Mahasiswa UGM Gelar Aksi Simbolik Pemakaman Prabowo-Gibran
Darurat Kriminalisasi Aborsi
Diskusi Publik Ketenagakerjaan DIY Tuntut Prabowo Tepati Janji...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Jelang Pergantian Rezim, Aksi Kamisan Refleksikan Penuntasan Pelanggaran HAM Berat

Oktober 18, 2024

©Izzudin/Bal

Jelang berakhirnya kepemimpinan sepuluh tahun Jokowi, Aksi Kamisan merefleksikan penyelesaian kasus pelanggaran HAM yang tak kunjung selesai dalam agenda Dialog Hak Asasi Manusia: Senjakala Penuntasan Pelanggaran HAM di Indonesia pada Selasa (15-10). Agenda ini menghadirkan Yati Andriyani, pendamping korban pelanggaran HAM; Usman Hamid, perwakilan Amnesty Internasional; Bivitri Susanti, ahli hukum tata negara; dan Maria Katarina Sumarsih, salah satu ibu korban tragedi Semanggi I. Dialog yang bertempat di Yayasan LBH Pusat, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat ini disiarkan melalui kanal YouTube Jakartanicus. 

Dalam dialog tersebut, Usman merenungkan persoalan penegakan HAM pada masa kepemimpinan Jokowi. Ia mengatakan bahwa Jokowi pernah berjanji tentang penyelesaian pelanggaran HAM di masa lalu yang membuatnya berbeda dari pasangan calon pemilu lainnya. Namun, janji tersebut tidak pernah dipenuhi. “Janji itu janji palsu, usaha-usaha yang pernah dibuat Jokowi tidak lebih dari strategi penyangkalan,” tambahnya.

Sumarsih turut menambahkan bahwa Jokowi hanya pernah mengakui adanya 12 pelanggaran HAM berat pada 11 Januari 2023. Namun, belum ada pertanggungjawaban secara yudisial sehingga menurutnya hal tersebut harus terus diperjuangkan. Sumarsih merasa peluang penyelesaian pelanggaran HAM berat akan selalu ada. Ia lalu menyebut Pasal 46 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 terkait Pengadilan HAM yang menyebutkan penanganan pelanggaran HAM berat tidak memiliki status kedaluwarsa. “Inilah yang terus kami perjuangkan agar negara bertanggung jawab,” ucapnya.

Lebih lanjut, Sumarsih menuturkan bahwa sumpah jabatan presiden dapat menjadi dasar pertanggungjawaban atas penyelesaian pelanggaran HAM berat. Ia menyebutkan bahwa dalam sumpah tersebut, presiden memegang teguh undang-undang dasar, menjalankan undang-undang, dan peraturannya dengan selurus-lurusnya. “Siapa pun presidennya, bisa dituntut untuk mempertanggungjawabkan pelanggaran HAM berat ini. Termasuk Prabowo Subianto,” tegasnya.

Sebagai pendamping korban, Yeti lalu mengungkapkan bahwa korban adalah kompas moral dari gerakan HAM. Tanpa kompas moral tersebut, gerakan HAM akan menjadi sia-sia. “Ketika gerakan HAM berpacu pada kompas tersebut, saya meyakini bahwa dalam keadaan iklim politik apapun kita bisa menghadapinya,” ungkapnya.

Pada akhir dialog, Bivitri Susanti mengungkapkan pendapatnya mengenai masa depan HAM di Indonesia. Menurutnya, perjuangan HAM harus terus berlanjut, khususnya Aksi Kamisan. Ia juga menambahkan bahwa pergantian rezim jangan dianggap sebagai harapan baru. “Institusi formal [pemerintah-red] itu belum bisa kita baca sebagai suatu kebaruan selama belum ada pengadilan HAM bagi pelanggar HAM berat,” tambahnya. Ia lalu menegaskan untuk selalu memperjuangkan pertanggungjawaban hukum dari orang-orang yang berkuasa. 

Penulis: Irene Manggar, Muhamad Syukron Hidayat, dan Naura Saraha (Magang)
Penyunting: Alfiana Rosyidah
Ilustrator: Izzudin Azzam Hermawan (Magang)

Redaksi

See author's posts

6
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Logika Dominasi di Balik Upaya Transisi Hijau

Diskusi Buku Tersungkur dan Tetap Melawan Rekam Perlawanan...

Interupsi Mahasiswa UGM dalam Diskusi Tiga Menteri Bukan...

Sivitas Akademika Fisipol Desak UGM Ambil Sikap Tegas...

Bara Akar Rumput Aksi Gejayan Tantang Kesewenangan Rezim...

Mahasiswa FIB UGM Gelar Pertunjukan Santet Prabowo-Gibran

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Logika Dominasi di Balik Upaya Transisi Hijau

    Juli 7, 2026
  • Diskusi Buku Tersungkur dan Tetap Melawan Rekam Perlawanan Warga Terdampak Proyek Negara

    Juli 2, 2026
  • Interupsi Mahasiswa UGM dalam Diskusi Tiga Menteri Bukan Kerusuhan Impulsif

    Juni 22, 2026
  • Sivitas Akademika Fisipol Desak UGM Ambil Sikap Tegas terhadap Situasi Nasional

    Juni 16, 2026
  • Bara Akar Rumput Aksi Gejayan Tantang Kesewenangan Rezim Prabowo-Gibran

    Juni 16, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM