Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Ancaman Krisis Kesadaran dan Kerusakan Lingkungan, Buntut dari Modernitas

November 7, 2022

©Logissa/Bal

Jumat (04-11) Jaringan Intelektual Berkemajuan mengadakan diskusi daring yang bertajuk “Capitalocene: Modernitas, Kehancuran Lingkungan, dan Kita.” Diskusi ini dipantik oleh Musa Maliki, dosen Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, dan Fathun Karib, dosen Sosiologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Ditayangkan pada platform YouTube, diskusi ini berfokus pada realitas isu lingkungan dan keterkaitannya dengan kehidupan sosial ekonomi. 

Membuka sesi diskusi, Karib membahas mengenai dampak modernisasi terhadap kerusakan lingkungan. Ia mengatakan bahwa modernisasi mengakibatkan kondisi bumi yang semakin hari semakin rusak. Argumen tersebut diperkuat dengan fakta yang ada di lapangan yang didukung berbagai kajian yang selama ini ia telusuri. 

Kemudian, Musa menambahkan terkait modernitas yang memengaruhi berbagai tuntutan hidup sesuai dengan peradaban materialisme barat atau kapitalisme global. Dua hal tersebutlah yang dianggapnya telah memengaruhi laju kerusakan lingkungan. Menimpali pendapat Musa, Karib menyebut adanya dua pendapat terkait penyebab kerusakan lingkungan, yaitu oleh manusia dan bukan hanya manusia. “Kapitalisme bukan hanya menyangkut tenaga kerja dan kerja, tetapi bagaimana alam dipaksa untuk turut bekerja,” ucapnya.

Karib juga menyebutkan bahwa lingkungan dijadikan sebagai sebuah masalah dalam penyangkalan sistematik. Ia juga menuturkan, dalam mengatasi masalah penyangkalan sistematik tersebut, dibutuhkan tiga penyangkalan. Penyangkalan itu terdiri dari penyangkalan keseharian, politik, dan ilmu pengetahuan. 

Lebih lanjut, Karib memberi contoh terkait penyangkalan keseharian yang dapat dilihat dari masalah sampah di Sidoarjo. “Sampah tersebut digunakan oleh orang Sidoarjo untuk bahan bakar dalam memasak tahu, padahal sampah tersebut sebelumnya hasil pembuangan dari Eropa ke Indonesia,” ungkapnya. Pada kesimpulannya, Karib turut mengungkapkan bahwa secara tidak langsung, dalam pembakaran sampah, akan terjadi percampuran mikroplastik sehingga berdampak buruk bagi kesehatan manusia yang mengonsumsinya. 

Pada akhir diskusi, Karib menyebutkan ada berbagai komunitas yang berfokus pada isu-isu lingkungan. Melalui pernyataan tersebut, Karib mempertanyakan eksistensi partai politik dalam mengambil andil, bahkan cenderung tidak ada satu pun partai yang menyinggung isu politik lingkungan. “Jika ada satu partai politik yang membahas soal lingkungan, maka hal itu sangat mengakibatkan perubahan yang sangat baik,” tungkas Karib sebagai pernyataan akhir diskusi. 

Penulis: Siti Fatria Pelu, Francois Ryansher Mamarimbing, dan Vita Zulfidayanti (Magang)
Penyunting: Lindra Prastica
Fotografer: Logissa Sukmana (Magang)

1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...

Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...

Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

    April 10, 2026
  • Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap Jurnalis Perempuan

    April 9, 2026
  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM