Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Kuliah Kerja Ngapusi!
Yang Mati dari Hukuman Mati
Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Siasat Gerakan Kampus atas Neoliberalisasi Pendidikan

Juni 20, 2022

Selasa (14-06), MAP (Magister Administrasi Publik) Corner UGM menyelenggarakan diskusi bertajuk “Mampukah Gerakan Kampus Bertahan di Tengah Neoliberasi Pendidikan?”. Diskusi ini diselenggarakan dalam rangka 11 tahun berdirinya MAP Corner UGM. Diskusi ini dimoderatori oleh Alnick Nathan, mahasiswa MAP UGM. Narasumbernya antara lain: Max Lane, dosen tamu Institute of South East Asian Studies (ISEAS) Yusof Ishak Singapura; Joko Susilo, peneliti NALAR Institute; dan Herlambang Wiratraman, dosen Fakultas Hukum UGM. 

Diskusi diawali oleh Josu, panggilan Joko Susilo, mengenai implikasi neoliberalisme terhadap pendidikan. Menurut Josu, pendidikan neoliberal menggiring institusi pendidikan menjadi tempat reproduksi kelas sosial. Hal ini didukung dengan riset dari Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional tahun 2020 bahwa 62% mahasiswa berasal dari kelas ekonomi atas. Josu menambahkan, implikasi kedua ialah manufakturisasi kurikulum yang membuat kampus sibuk mengejar jumlah lulusan dan peringkat global. Manufakturisasi kurikulum juga membuat kampus fokus pada pencapaian individu alih-alih kolektif. 

Ada tiga bentuk perlawanan terhadap pendidikan neoliberal yang umumnya ditemui di Indonesia, kata Josu. Pertama, pertarungan wacana lewat tesis, disertasi, dan kelompok-kelompok diskusi. Kedua, judicial review terhadap kebijakan yang dianggap bermasalah. Terakhir, aksi massa. 

Josu juga menambahkan bentuk perlawanan di negara-negara lain. Salah satunya adalah aksi turun ke jalan oleh serikat beranggotakan pelajar, wali, dan tenaga pendidik di Chile. Mereka menuntut korporasi agar, secara tidak langsung, membiayai pendidikan lewat skema pajak progresif. “Konsolidasi rakyat ini secara struktural mengubah kebijakan di parlemen dan undang-undang,” paparnya. 

Terkait aksi massa, Herlambang selaku mantan Koordinator Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pelarangan aksi massa mahasiswa oleh Mendikbudristek pada 2019. Baginya, tindakan tersebut mengingkari kebebasan akademik. Herlambang menambahkan, keresahan mahasiswa juga perlu disuarakan oleh akademisi, begitupun sebaliknya. Salah satu bentuk menyuarakan keresahan dan pendapat yang dilakukan akademisi adalah membangun kerja sama dengan aliansi-aliansi strategis.

Syahrul Ramadhan, peserta diskusi dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh, mengungkapkan kesenjangan antara gerakan kampus “pusat”, seperti Jakarta dan Yogyakarta, dengan kampus “pinggiran” seperti Aceh. Kesenjangan tersebut berupa kurangnya ekspos terhadap gerakan kampus di “pinggiran” sehingga dampaknya kurang signifikan. Menanggapi hal ini, Max Lane menekankan bahwa gerakan lokal harus menjadi bagian dari gerakan nasional yang terstruktur. Apabila gerakan masih terpecah-pecah, maka tidak ada keseimbangan antara daerah satu dengan yang lain. “Masalah pendidikan neoliberal hanya bisa dipecahkan dengan gerakan nasional, bukan lokal,” tegas Max.

Senada dengan Max, Alnick pun menggarisbawahi soal pengorganisasian gerakan secara struktural. Alnick mencatat bahwa perlu dibangunnya gerakan yang terorganisasi di dalam dan luar kampus yang dapat membangun agenda lintas sektoral. Dia menambahkan, diperlukan basis massa yang memadai untuk mencapai agenda lintas sektoral. “Harapannya, organisasi gerakan di dalam dan luar kampus mampu membangun basis massa dan mewujudkan agenda-agendanya,” pungkasnya.

Penulis: Tiefany Ruwaida Nasukha
Editor: Ardhias Nauvaly Azzuhry

Redaksi

See author's posts

Neoliberalisasi Pendidikanpendidikanperguruan tinggiUniversitasUniversitas Gadjah Mada
1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...

Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...

Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Kuliah Kerja Ngapusi!

    April 15, 2026
  • Yang Mati dari Hukuman Mati

    April 14, 2026
  • Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

    April 10, 2026
  • Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap Jurnalis Perempuan

    April 9, 2026
  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM