Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KABARKILASREDAKSI

Perkembangan dan Tantangan Bahan Bakar Nabati di Indonesia

November 19, 2021

©Risa/Bal

Rabu (16-11), Mongabay Indonesia berkolaborasi dengan Yayasan Madani Berkelanjutan mengadakan lokakarya bertajuk “Pangan vs Energi: Menelaah Kebijakan Bahan Bakar Nabati Indonesia”. Acara  tersebut dilaksanakan secara daring dan dimoderatori oleh Sapariah Saturi, penyunting senior Mongabay Indonesia. Beberapa narasumber hadir pada acara tersebut, yakni Herbert Wibert Victor Hasudungan, Subkoordinator Supervisi Biofuel Direktorat Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Giorgio Budi Indarto, Deputi Direktur Yayasan Madani Berkelanjutan; Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia; dan Alin Halimatussadiah, Kepala Tim Kajian Ekonomi Lingkungan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia. 

Acara diawali dengan pemaparan materi oleh Giorgio Budi Indarto mengenai kebijakan Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai kebijakan energi dan iklim. Giorgio atau akrab disapa Jojo menerangkan bahwa kebijakan BBN diproyeksikan dapat mencapai komitmen iklim dan net zero emission di Indonesia. Menurut Jojo, Indonesia merupakan negara pertama di Asia Tenggara yang membuat kebijakan iklim. Oleh karena itu, Indonesia perlu memenuhi komitmen iklim dengan memanfaatkan BBN yang tidak hanya bergantung pada BBN berbahan bakar kelapa sawit.

Selanjutnya, Herbert Hasudungan menyebutkan bahwa pengurangan emisi dari sektor energi berfokus pada pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai, Pembangkit Listrik Tenaga Surya, dan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT), termasuk biofuel, serta pengembangan industri berbasis energi bersih. Pemanfaatan EBT sebagai sumber energi ramah lingkungan masih rendah, yakni 11,2% pada 2020. Angka ini diharapkan dapat meningkat hingga 23% pada 2025 seiring dengan meningkatnya kebutuhan energi oleh masyarakat.

Herbert juga menjelaskan bahwa Indonesia sudah menetapkan ketentuan khusus untuk mengembangkan BBN. BBN di Indonesia diharapkan memenuhi 30% biodiesel, 20% bioethanol, dan 20% minyak nabati murni pada tahun 2025. Peningkatan biodiesel akan berdampak pada penghematan devisa, peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, pengurangan emisi gas rumah kaca, dan peningkatan kualitas lingkungan. “Indonesia harus mencapai target tersebut untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat,” ujar Herbert.

Alin Halimatussadiah membuka pembicaraan tentang minyak sawit yang merupakan suatu produk yang populer, sehingga Indonesia dapat menjadi negara yang dominan dalam ekspor minyak sawit. Kebergantungan Indonesia terhadap sawit terlihat dari dipercepatnya kebijakan biodiesel yang progresif. Skenario biodiesel ini membutuhkan ekspansi lahan skala masif. “Kebijakan tersebut akan membutuhkan ekspansi lahan yang cukup besar,” ucap Alin. 

Mitigasi ekspansi lahan sawit yang diusulkan oleh Alin adalah peremajaan sawit, penggunaan bahan baku lainnya, dan moratorium sawit. Alin juga menyebutkan bahwa Indonesia memiliki komitmen iklim yang cukup tinggi. Indonesia termasuk negara yang responsif dan memberikan dukungan jangka panjang terhadap karbon sampai 2050. Pada tahun 2060, Indonesia ditargetkan mencapai 0% emisi dan hanya mengandalkan forestry and other land use sebagai karbon.

Sebagai pungkasan materi, Alin membeberkan tantangan keberlanjutan industri sawit di Indonesia yang mencakup sertifikasi, pencemaran air, udara, dan kebakaran hutan, sawit di kawasan hutan, dan tuntutan transisi energi. Selain itu, Jojo dan Paulus mengajak semua pihak untuk bekerja sama dalam mengembangkan energi terbarukan di akhir acara. Alin menambahkan bahwa multi objek dalam pengembangan bioenergi ini hendaknya dikelola agar tidak saling bersenggolan. “Pangan, energi, dan ekspor harus dikelola bersama-sama agar mendorong keberlangsungan lingkungan,” pungkas Alin.

Penulis: Denok Widyaningsih, Tiefany Ruwaida Nasukha, dan Cindra Karunia Putri
Penyunting: Aldyth Nelwan Airlangga
Fotografer: Noor Risa Istanto

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026
  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM