Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
DIALEKTIKAKABAR

Memaknai Inisiasi Bina Damai Indonesia

Maret 4, 2012

Jumat (2/3), Institute of International Studies (IIS) UGM menggelar konferensi pers bertajuk Kepentingan Luar Negeri Indonesia dalam Pendirian Indonesia Peace and Security Center (IPSC). Pembicara dalam pertemuan ini adalah Dafri Agussalim, MA selaku penelitiĀ clusterProgram on Diplomacy and Foreign Policy IIS UGM. Konferensi pers ini diadakan sebagai bentuk respon terhadap pendirian IPSC pada 19 Desember 2011 lalu di kawasan Santi Dharma, Bogor.

Dafri membuka diskusi dengan memaparkan beberapa alasan di balik inisiasi IPSC. Menurutnya, kondisi perdamaian dunia yang semakin penuh dengan konflik ini membuat Indonesia harus mengubah paradigma keamanannya, karena sudah hampir berpuluh tahun Indonesia hanya memfokuskannya pada bidang pertahanan negara.

Pendirian IPSC ini menandai bahwa Indonesia mulai bergerak dalam bidang humaniter,ā€ tutur Dafri. ā€œSelain itu, pendirian IPSC ini juga bertujuan untuk mengembangkanĀ soft powerĀ guna mengatasi masalah terorisme.ā€ Dafri menambahkan.

IPSC sendiri adalah organisasi tempat pelatihan dan pendidikan bina damai bagi personel Tentara Nasional Indonesia (TNI). ā€œPersonel TNI ini nantinya akan terlibat dalam intervensi humaniter dan pasukan perdamaian,ā€ ujar Dafri.

Dalam pendirian IPSC, beberapa pihak asing juga turut mengambil peran. Sebagai contoh, Amerika Serikat yang berkontribusi sebesar 15 juta dólar melaluiĀ Global Peace Operation InitiativesĀ untuk pembangunan barak dan berbagai fasilitas di IPSC. Sementara Australia turut membantu dalam hal pembangunan pusat bahasa. ā€œKeterlibatan negara-negara ini harus kita manfaatkan untuk mencari modal secara lebih efektif,ā€Ā kata Dafri.

Program ini, selain bermanfaat untuk upaya bina damai di Indonesia, juga bertujuan untuk memobilisasi TNI. Menurutnya, TNI akan sangat partisipatif dalam IPSC lantaran prestise dan gaji di IPSC yang terbilang besar. ā€œTNI yangĀ nganggurĀ umumnya akan terjun ke politik dan berpotensi untuk kudeta.ā€ Dafri mengungkapkan. ā€œUntuk itulah, mereka perlu diberiĀ mainan(wadah komunitas—red.) agar tidakĀ  melakukan kudeta.ā€ Dafri menyimpulkan. Hal ini cukup memantik tawa peserta konferensi.

Ketika disinggung mengenai citra Indonesia yang sempat buruk dalam bidang HAM, Dafri optimis IPSC dapat dijadikan solusi. Kenyataannya, di era Orde Baru, Indonesia sempat dituding sebagai negara pelanggar HAM berat dalam kasus Timor Timur. Namun baru-baru ini,Ā imageĀ Indonesia membaik, seiring terpilihnya Indonesia sebagai ketua Dewan HAM di Perserikatan Bangsa-Bangsa. ā€œIni menandakan bahwa sudah saatnya Indonesia lebihĀ concerndengan pencitraan sebagai negara yang cinta damaiā€ tutup Dafri.Ā [Ferdi Febianno Anggriawan]

 

 

Indonesia Peace and Security Center (IPSC)Institute of International Studies (IIS) UGMTentara Nasional Indonesia (TNI)
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Peringatan Hari Perempuan Sedunia 2022 Tuntut Bebaskan Perempuan...

Tuntut Audiensi dan Pencabutan IPL, Aksi untuk Wadas...

Penyintas Kekerasan Tuntut Keadilan Lewat Karya Tulis

Di Balik Kampanye Antitembakau, Industri Farmasi Monopoli Nikotin

Pelarangan Senjata Nuklir Kian Mendesak di Tengah Konflik...

Survei LSI: Masyarakat dan Partai Politik Kompak Menolak...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap Jurnalis Perempuan

    April 9, 2026
  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026
  • Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

    Maret 11, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM