Hari ke hari, kegiatan jurnalisme semakin lekat dengan pandangan antroposentrisme. Arus informasi dalam kanal-kanal jurnalisme seringkali hanya menampilkan manusia sebagai aktor kuncinya, dengan latar yang bernuansa positivistik. Padahal, dalam berbagai pengetahuan masyarakat lokal, subjek-subjek non-manusia ini punya peran penting dalam laku kehidupan mereka. Pohon, Batu, dan Hantu-Hantu mengungkap sebagian kecil upaya alam untuk berkomunikasi melalui kejadian-kejadian yang dianggapĀ supranatural.
Melalui liputan-liputan yang dilakukannya, Titah AW, seorang jurnalis, menegaskan bahwa alam hidup bersama manusia dan dapat memberikan respons terhadap aktivitas manusia. Dalam karya-karyanya, ia berusaha mengangkat pembicaraan mengenai pengetahuan lokal dengan perspektif non-human narrative. Untuk mengulik warna baru jurnalisme ini secara lebih mendalam, BALAIRUNG berkesempatan mewawancarai Titah AW pada Jumat (24/10) lalu. Untuk menilik lebih lanjut gagasan Titah AW dalam jurnalismenya, silakan simak wawancara berikut!Ā
Kami menemukan perspektif baru yang dibawa laporan jurnalisme Anda berjudul Pohon, Batu, dan Hantu-Hantu. Apa yang sebenarnya ingin Anda sampaikan melalui reportase-reportase ini?Ā
Yang aku mau suarakan di liputan itu adalah, bahwa mereka (subjek non-manusia -red) itu ada. Dan masyarakat yang gaya hidupnya tradisional, menganggap bahwa alam itu hidup. Ada agensi-agensi di luar manusia. Jadi, ketika kita mau bikin proyek pembangunan yang mempengaruhi lanskap dalam skala yang gede, suara mereka itu ada loh. Kok bisa kamu enggak menganggap? Dan jangan-jangan perilaku enggak menganggap suara mereka itu ada dan valid, itu menggambarkan hal yang lebih besar soal paradigma pembangunan kita. Soal pengetahuan kita yang tidak memvalidasi pengetahuan lokal. Soal cara hidup kita sekarang, yang makin menganggap alam itu bisa diapa-apain.
Dan ternyata setelah aku rilis liputan itu, aku mendapat beberapa respon dari teman-teman di lokasi lain yang ada di luar Jawa. Setiap masuk Proyek Strategis Nasional (PSN), ada kejadian-kejadian (yang dianggap supranatural-red). Cuma karena seperti yang sudah kita ketahui, jurnalisme itu sangat positivistik, dan enggak banyak jurnalis yang meliput āhantuā sepertiku, jadi lewat saja, fenomenanya enggak dianggap. Padahal, aku memaknainya sebagai respon alam, karena dengan cara apa lagi alam bisa ngerespon, kalau enggak dengan cara-cara yang mereka tahu. Itu menurutku cara paling nyaring yang bisa diberikan alam ke kita sebelum akhirnya mereka memberi bencana.Ā
Menurut Anda, bagaimana posisi subjek-subjek non-manusia di dalam isu lingkungan?Ā
Kalau yang sekarang terjadi ini ya, alam tuh dianggap sebagai objek mati yang bisa kita apa-apakan lewat segala macam manipulasi yang bisa kita lakukan. Posisinya ya sedih karena mereka enggak diperhitungkan, dan dampaknya sekarang bukan ke alamnya lagi, tapi kayak balik ke kita lagi. Maksudnya, apa yang kita lakukan ke alam sekarang tuh bukan hanya mencederai alam tapi mencederai manusia juga. Posisinya ya mereka masih dianggap sebagai muted being dan diskusi soal non-human narrative, non-human journalism ākan sebenarnya masih sangat minoritas. Diskusi itu masih sangat sedikit.Ā
Sayangnya adalah, bahkan orang media pun belum bisa melihat ini sebagai cara pandang baru untuk melihat alam. Karena menurutku tugas jurnalis tuh enggak cuman memberitakan apa yang terjadi. Sebagai jurnalis, aku mau menawarkan cara pandang baru. Menawarkan jembatan. Kalau selama ini dilihat sebagai āhantu-hantuā sendiri, ekonomi sendiri, fisika sendiri, kapitalisme sendiri. Aku pengen tulisanku jadi jembatan untuk menyadarkan orang bahwa semua ini nyambung loh, dan hantu-hantu tuh bicara lebih banyak, enggak cuman soal mistis gitu.
Mengapa pengetahuan lokal mempunyai posisi sendiri dalam isu lingkungan?
Pengetahuan lokal biasanya lahir dan applicable untuk setiap lanskap yang berbeda. Sains yang populer saat ini dipakai untuk menjustifikasi eksploitasi yang mengekstraksi bumi, sementara pengetahuan lokal setahuku menjurus ke relasi supaya hidup manusia dan alam harmonis, seimbang, enggak menjurus ke eksploitasi.Ā Banyak yang bilang ketika aku ngomongin āhantuā, aku enggak saintifik. Padahal, aku sangat suka baca artikel sains, tetapi yang pengen aku omongin sains alone its not enough, karena dia enggak ada pertimbangan etika atau moral. Jadi pengetahuan lokal yang benar-benar dipahami bisa membantu kita melakukan konservasi dengan cara yang customize, relevan di masingāmasing tempat.
Bagaimana pandangan Anda mengenai peran pengetahuan lokal dalam menjaga keseimbangan ekologi, terutama bagi komunitas adat di Indonesia?
Secara alamiah, sebenarnya semua pengetahuan lokal yang jadi bagian dari cara hidup masyarakat adat secara otomatis arahnya ke keseimbangan. Hasilnya adalah menjaga ekosistem, karena bagaimanapun masyarakat adat itu bisa lebih merasakan, bukan hanya tahu. Ada relasi yang sangat nyata, yang mana akhirnya kalau alamnya rusak, mereka sangat bisa merasakan kalau mereka terdampak. Itu alasan kenapa pengetahuan lokal biasanya memang secara otomatis menjaga alamnya. Mereka paham itu karena mereka bisa melihat siklus. Pengetahuan lokal adalah pengetahuan yang hadir dari mereka yang sangat kenal dengan lingkungan mereka dan mereka paham betul kalau alam rusak mereka akan kena.
Pengetahuan adat itu secara otomatis akan menjaga ekologi karena manusia part of ecosystem. Pengetahuan adat dalam wujud mitos, local wisdom, cerita nenek moyang biasanya punya nilai etis, ethical value. Punya nilai moral yang enggak ada di pengetahuan modern. Jadi itu kenapa kalau pengetahuan lokal ujungnya akan buat kita hormat ke alam, respek ke alam, jadi otomatis akan membentuk kebiasaan yang membuat kita tidak eksploitatif ke alam.Ā
Apakah ada ruang bagi jurnalisme menjadi media belajar untuk mewariskan nilai-nilai ekologis masyarakat adat?
Bisa, produk jurnalisme bisa jadi alat buat belajar ketika liputan yang kita hasilkan bukan hanya ngomongin satu momen, tetapi liputannya itu revealing the pattern. Jadi melihat dalam jangka panjang gitu. Sementara, informasi yang kita dapat itu biasanya sepatah-patah, sedikit-sedikit, yang mana itu banyak tapi kadang nggak menunjukkan apa-apa. Aku berusaha menjalankan sebuah model jurnalisme yang artikel-artikelnya itu lama keluarnya, tetapi sekali keluar, harapanku orang itu bisa memahami satu fenomena bukan di saat itu saja, tetapi polanya gimana sih, fenomena ini ngomongin apa.
Jadi, artikel yang memperlihatkan hubungan satu fenomena dengan pola atau yang sedang terjadi di dunia. Sebenarnya jurnalisme itu bisa kok ngomongin pola, ngomongin struktur. Sistem yang terjadi, mulai dari masalah satu ini bagian dari apa sih, sampai ke mental model. Jadi, ketika produk jurnalisme dimungkinkan mendalam, produk jurnalisme bisa untuk belajar karena berbeda dengan buku, jurnalisme di Indonesia kebanyakan masih gratis, artinya ini kanal yang sangat bagus buat belajar.
Apakah jurnalisme mempunyai obligasi untuk mereproduksi ulang atau menyebarluaskan pengetahuan lokal terlebih yang berkaitan dengan isu lingkungan?
Punya, sangat gede sebenarnya, karena jurnalisme itu salah satu pondasi untuk kebijakan, kupikir karena geraknya di intelektual, harusnya tidak terlepas dari pengetahuan, jurnalisme bisa jadi kanal untuk pengaplikasian pengetahuan lokal supaya dia dianggap serius dalam pengambilan kebijakan.Ā
Bagaimana jurnalisme bisa menjembatani sains dan pengetahuan lokal di masyarakat luas, terutama di masyarakat adat?
Pertama-tama, aku pikir keterbukaan dari jurnalisnya untuk melihat ini dalam skala yang lebih besar. Bisa dipikirkan keterbukaan jurnalisme untuk tidak mengoposisikan antara pengetahuan lokal dan sains. Karena kalau jurnalisnya sudah sudah sinis dengan pengetahuan lokal semata sebagai mitos, pasti dia enggak akan cari jembatannya. Kedua, jurnalis punya tugas untuk menerjemahkan baik itu sains maupun pengetahuan lokal. Jadi sains kan juga sering dipahami orang dengan bahasanya yang tinggi, jurnalis punya tugas untuk mempopulerkannya, membuat itu jadi pengetahuan bite size yang bisa dicerna oleh pembaca. Begitu juga mitos, jurnalis harus bisa menerjemahkan apa artinya, kalau orang desa jangan dekat-dekat pohon besar karena pohon besarnya berhantu, ya jurnalis harusnya menerjemahkan kenapa. āOh, dari sisi sains pohon besar menyimpan karbon, pohon itu menopang banyak spesies kecil sampai ujungnya, kalau kamu ganggu pohon, kamu ganggu makhluk.ā Jurnalis harus mampu menerjemahkan maksud dari suatu mitos dan sains ini apa dan menemukan makna. Kita enggak butuh lagi orang yang membeda-bedakan satu hal dengan hal lain. Pengetahuan kita sudah sangat parsial, terpisah-pisah, kita butuh jurnalis atau siapapun untuk menciptakan narasi yang menghubungkan.
Adakah tantangan ketika membawa narasi nonāmanusia dalam ranah jurnalisme? Dan mengapa menurut Anda non-human narative ini bisa di suara kanal jurnalisme?
Kenapa aku terus merasa ini penting untuk ku taruh di jurnalistik dibanding produk tulisan yang lain. Kalau di fiksi, kita udah nemu banyak soal hantu-hantu. Tapi karena dia fiktif, dia jadi enggak dianggap sebagai sesuatu yang nyata. Jadi orang tuh nganggepnya, wah ini fiktif, ini imajinasi orang. Aku pengen membawanya ke ranah jurnalistik, karena jurnalisme itu dianggap sebagai produk yang valid. Dan dia dianggap sebagai pilar keempat demokrasi. Dan jurnalisme masih dijadikan salah satu rujukan ketika orang-orang bikin kebijakan. Jadi aku tuh pengen supaya āhantu-hantuā ini, yang sedang banyak di fiksi, tapi kayak enggak pernah dianggap serius ada, masuk ke jurnalisme yang punya kesempatan untuk dianggap serius. Aku merasa itu penting untuk terus ada di jurnalisme, karena cuma ini yang bisa mengangkat hantu menjadi obrolan yang legitimate.
Penulis: Anggun Ravisti, Aulia Nafisatun Ramadhani, dan Reza Faza A.A.
Penyunting: Annisa Dwi Nurhidayati
*tulisan ini telah melalui proses penyuntingan ulang atas pertimbangan dapur redaksiĀ danĀ narasumber
