Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • Masterhead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • Masterhead
  • ENEN
  • IDID
KONTRIBUSIKontribusi: Covid-19SASTRA

Puisi-Puisi Arafik Nur F

Mei 22, 2020

Cerita Pasien Dalam Pengawasan, Suatu Ketika

/1/
“Kau perlu disuntik dua puluh kali, aku ambil
darahmu kita periksa, semoga kau tak kena corona,”
dokter itu berkata.

Isolasi melumat pikiran pelan-pelan,
ketika kita bangun dari pemeriksaan
yang melelahkan.

/2/
Rasa sepi tak pernah disapu
Kabar keluarga jadi pelukan terhangat
Kecemasan & waktu telah menjadi bias
hingga datang hari keempat belas

/3/
Pada akhirnya memang,
ada mati, ada takdir, sesuatu
yang harumnya seperti mawar
kita menyebutnya: harapan.

(Purbalingga, Mei 2020)

 

Indonesia & Wabah dalam Tiga Paragraf

HIDUP telah direnggutnya juga mimpi, cinta, angka, kebohongan-kebohongan,
data, berita palsu atau hal paling remeh bernama harapan. Orang-orang lucu
–di negeri ini, mendamba ruang yang sempurna setelah wabah bertalu-
talu menyerang; setelah pandemi membubuhkan takdirnya di sendi sebuah
negeri; setelah penguasa kehabisan akalnya; setelah ekonomi jadi
sebuah janji sementara petani dilengserkan dari ketercukupan, sementara
pejabat-pejabat lucu diagungkan dari segala omong kosong itu lagi.

Luka-luka menawarkan ingatannya di setiap sudut kepala manusia.
Orang-orang desa tak bisa lagi bersembunyi dari saudaranya di luar kota
Pertanyaan dilafalkan seumpama dirinya menenteng virus yang penuh
nyeri & kejam itu. Tapi apa arti kejam? Kematian selalu dekat, orang-orang
kota menimpalinya demikian.

Ketika kemudian neraka & surga dibentangkan dari pucuk-pucuk pohon
belimbing. Dengan langgamnya bocah-bocah memanjatnya dan meneriakinya
dari dahan-dahan yang licin pada pagi hari yang sebentar. Dengan nafas yang
tak pernah diracuni kekhawatiran untuk mati dari pandemi. Semoga masih,
mereka katakan di sepertiga malam, ada matahari esok pagi.

(Purbalingga, Mei 2020)

 

Wabah dan Kehilangan-kehilangan Lain

Guratan nasib seperti berdentum
di antara raut muka
akhir-akhir ini: teriak wabah.

“Tak ada kesendirian, tak ada lafal
untuk menahan fajar dari barat,” ajal menjadi
wewangian yang tak sempat disesapnya.
Ajal menjadi tak berarti.

Orang-orang mengurung diri, membuat
dirinya menjaga orang lain.
Seperti luka, seperti kehilangan
tapi kehilangan –kau pikir, bukankah ajal?
teramat dekat, yang sering kita lupa
akhir-akhir ini.

(Purbalingga, Mei 2020)

 

Kontributor: Arafik Nur Fadliansah. 

Tulisan ini merupakan kontribusi dalam “Berbagi dalam Pandemi”, sebuah proyek penggalangan dana untuk pihak terdampak COVID-19. Proyek ini merupakan kerja sama dengan Clapeyron dan BPPM Equilibrium dan tulisan-tulisan kontribusi lainnya dapat dibaca dengan mengunjungi situs tersebut.

COVID-19
6
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Ruang-Ruang Untuk Kami dan Puisi-Puisi Lainnya

Rumah Api

Jejak Tan dan Puisi-Puisi Lainnya

Kota Kata

Cita-Cita Karima

Surat Pengadilan

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026
  • Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

    Maret 11, 2026
  • Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam Konflik Agraria PSN Banten

    Maret 7, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM