Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
Latest post
Katrin Bandel: Konstruksi Gender dan Perempuan dalam Wacana...
Kiamat Kecil di Timbulsloko
Berat Sebelah Kuasa Poligami
Difabel
APATIS Soroti Lonjakan Biaya Pendidikan, Serukan Mahasiswa Terus...
Perempuan Tagih Janji Puan Sahkan RUU PPRT
Rajam Norma Hetero Melintang Zaman
balpress
balpress
Pesan Teror dan Intimidasi Menghiasi Aksi #KawalPutusanMK di...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
ALMAMATERKABARKILAS

Rangkaian Orasi Hari Buruh di Jogjakarta

Mei 4, 2014
©Tama.bal

©Tama.bal

Kamis (1/5) menjelang pukul 10.00, Titik Nol Km Yogyakarta nampak semakin padat. Sekelompok pemuda dari Aliansi Rakyat Indonesia Tertindas (ARIT) melakukan orasi disertai aksi membakar ban dan membawa keranda. Sedangkan dari arah Malioboro, gabungan dari berbagai aliansi yang menamakan diri Koalisi Rakyat Bersatu (KRB) berorasi secara bergantian. Selain itu terdapat juga pembacaan puisi, pentas musik, dan teatrikal jalanan. Aksi gabungan tersebut terkait dengan peringatan hari buruh yang mana sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi buruh yang masih tertindas.

ARIT menuntut agar perusahaan memberikan upah yang layak dan tidak mengeksploitasi buruh. Selain itu, ARIT menolak Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Bagi mereka, kebijakan yang demikian justru akan menunjukan keberpihakan pemerintah terhadap pemodal asing.

Sementara itu, Koalisi Rakyat Bersatu (KRB) meminta pemerintah untuk memperbaiki sebelas hal. Diantaranya adalah penghapusan sistem kerja kontrak dan outsourcing. Keberadaan serikat buruh juga harus dilindungi dari usaha pemberangusan dan kekerasan. Selain itu, perempuan juga harus diberi hak reproduksi. Bagi difabel pun harus diberikan tempat setidaknya 1% di tiap perusahaan. Di masa mendatang juga perlu adanya Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.

KRB terdiri dari beberapa gerakan baik intra maupun ekstra kampus, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM, Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM, dan Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) cabang UII. Namun tidak semua berorasi bersama. Akhirnya hanya HMI cabang UII yang melanjutkan orasi di Titik Nol Km. Senada dengan ARIT, HMI pun menolak MP3EI. Sementara itu, aliansi yang tergabung dalam KRB lainnya berorasi di depan Gedung Agung. ā€œTurun ke jalan dan membakar ban bukan budaya kami (mahasiswa UGM),ā€ jelas Aditya Herwin selaku ketua BEM KM UGM terkait orasi di depan gedung agung.

Isu relokasi Sunmor juga tidak ketinggalan untuk diorasikan. BEM KM UGM menuntut pihak UGM untuk segera menyelesaikan relokasi sehingga masalah ini tidak berlarut. Mereka mengklaim bahwa UGM meraup keuntungan hingga Rp2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) dari relokasi tersebut.

Namun tidak bisa menyatukan semua masa untuk berorasi. Padahal, sebelum hari H sudah ada komunikasi untuk menggelar orasi bersama. ā€œNamun masih ada golongan tertentu yang hanya ingin mencari nama dan turun ke jalan sendiri,ā€ ujar Zim Nales, salah satu anggota ARIT.

Bahkan serikat buruh juga menolak untuk berorasi di jalan dan melakukan long march. Mereka lebih memilih untuk mengikuti acara yang diadakan di gedung DPRD Yogyakarta. ā€œKami sudah melakukan koordinasi dengan Serikat Buruh, tetapi mereka menolak melakukan long march karena menyusahkan. Lebih baik diadakan jalan santaiĀ  bersama dan diakhiri dengan pemberian door prize,ā€ tambah Zim Nales.

Serikat buruh memang tidak ikut serta dalam aksi bersama mereka. Namun, mereka memutuskan untuk tetap turun ke jalan. ā€œToh perjuangan tidak harus dilakukan semua orang,ā€ kata Zul Mukti, salah satu anggota ARIT. [Auviar Wicaksanti, Dimas Syibli M. Haikal, Erbha Nurfidya, Kevin M.]

aksiARITBEM KM UGMDema Fisipol UGMHari BuruhKRBMEAMP3EI
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

SEJAGAD, Serikat Pekerja Kampus Pertama di Indonesia, ResmiĀ Didirikan

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...

Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Katrin Bandel: Konstruksi Gender dan Perempuan dalam Wacana Pascakolonial

    Maret 12, 2026
  • Kiamat Kecil di Timbulsloko

    Maret 12, 2026
  • Berat Sebelah Kuasa Poligami

    Maret 12, 2026
  • Difabel

    Maret 12, 2026
  • APATIS Soroti Lonjakan Biaya Pendidikan, Serukan Mahasiswa Terus ā€œBerisikā€

    Maret 12, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Sepah Pemerintah Ditadah Bank Sampah

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM