Sekoteng, Menghadirkan Kehangatan di Saat Santai

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada tampak berbeda dari biasanya. Selasa (24/4) petang,  beberapa mahasiswa berkumpul di depan panggung terbuka.Sebagian ada yang berlesehan santai, lainnya memilih berdiri sembari membeli kudapan yang tersaji. Sorot lampu nampak  menerangi panggung. Tepat pukul tujuh malam, dua pembawa acara muncul membuka acara. Pembawaan keduanya yang penuh gelora dan disertai guyonan, menyita tawa penonton. Kehadirannya mengundang orang-orang untuk duduk lebih dekat ke panggung. Suasana riuh namun tetap santai. “Sekoteng, selo seko peteng!” teriak pembawa acara saat memperkenalkan jargon acara bertajuk Sekoteng ini.

Tidak banyak basa-basi, sekelompok orang diundang naik ke atas panggung untuk berpartisipasi. Perpaduan angklung dan calung mampu membuat penonton menggoyang-goyangkan kepala mengikuti alunan musik yang ritmis. Pemainnya yang bergeraksantai sambil memainkan musik serta liriknya yang jenaka mengundang senyum penonton.  Amoeba (Antro Moesik Bambu) membawakan empat lagu dalam kesempatan itu. “Iwak Peyek” menjadi awal penampilan mereka dan ditutup dengan “Padang Bulan”.

Setelah permainan musik bambu dari mahasiswa Antropologi usai,pembawa acara memperkenalkan mereka lebih jauh. “Sebenarnya komunitas ini nggak punya nama tapi tadi temen saya nyeletuk kalau namanya Amoeba saja,” ujar Diaz Agung Pronowibowo selaku koordinator Amoeba.

Performa Jemek Supardi menjadi penampilan utama dalam Sekoteng malam itu. Pria berambut gimbal ini bergerak sigap menuju panggung. Gerakannya yang santai tetapi tetap meyakinkan. Tanpa berkata-kata, tangannya mulai bergerak naik turun seperti sedang mengerek bendera. Wajahnya yang terlihat lelahtiba-tiba kembali sumringah. Kemudian, ia bersikap seperti sedang memberi hormat. Namun, bendera tiba-tiba terbang dan tertiup angin hingga pergi jauh. Si pengerek bendera tadi kini hanya bengong dan terduduk sembari menyalakan rokok. Perlahan-lahan ia berdiri sambil makan kacang kemudian menghilang dari atas panggung.

Walaupun singkat, pertunjukan pantomim yang dibawakan Jemek mampu membius penonton dalam keheningan. Semua terdiam mencoba mengartikan maksud di balik aksi bisunya itu. Orang yang lebih senang disebut sebagai pekerja seni ini mencoba membangkitkan kembali kenangan mahasiswa ketika dulu melakukan upacara bendera. Kini, mahasiswa jarang melakukan penghormatan terhadap bendera merah putih. “SD, SMP, dan SMA ada upacara bendera tapi di lingkungan kampus sudah tidak ada lagi upacara pengerekan bendera,” ujarnya.

Jemek telah menggeluti salah satu seni teater ini sejak tahun 1971. Tidak pernah ada konsep pasti yang dirancang sebelum ia tampil. “Saya nggak ada konsep, hidup saja nggak dikonsep. Secara spontanitas saja berdasarkan pengalaman,” jelasnya.

Sebelum mengakhiri acara, Jemek memberikan pelatihan pantomim singkat kepada penonton yang besedia naik ke panggung. Dua belas penonton menunjukkan kebolehannya berpantomim satu per satu. Aksi-aksi variatif mereka yang menghibur langsung mengundang keriuhan penonton. Tawa-tawa dan keakraban  semakin menghangatkan suasana malam itu.

Acara ini  merupakan hasil kerja sama Lembaga Eksekutif MahasiswaFIB dengan komunitas seni baik di dalam maupun lingkungan kampus. “Acara ini dapat menjadi wadah unjuk gigi mahasiswa atau komunitas seni di luar kampus,” ujar Diyon Iskandar selaku koordinator lapangan.

Sekoteng berangkat dari keresahan atas sepinya FIB dari aktivitas seni. “Selama ini, FIB sepi dan tidak ada aktivitas berkesenian maka kami ingin menghidupkan lagi kesenian di FIB,” jelas Diyon. Acara ini memang dirancang serileks mungkin agar bisa menghadirkan kebersamaan antara penonton dan penampil. “Konsepnya memang sederhana dan santai sehingga ada interaksi dengan penonton,” tambahnya.

Acara yang rencananya akan diselenggarakan dua minggu sekali setiap Selasa malam ini pun mengundang perhatian dari mahasiswa. Pijar, salah seorang penonton, mengaku baru pertama kali mendengar acara seperti ini di FIB. “Acaranya bagus dan menarik, sebaiknya harus tetap ada dan diteruskan,” harap mahasiswa Sastra Jepang ’08 ini.

Layaknya minuman sekoteng, acara ini sengaja dibuat untuk menciptakan kehangatan di waktu malam. Alasannya, malam menjadi saat santai bagi mahasiswa. Melalui pertunjukan seni dan budaya, kehangatan pun tercipta. Ditambah lagi, penonton dapat menikmati sekoteng yang disajikan sambil bersantai ria. (Yuliana Ratnasari, Mukhammad Faisol Amir)

Tulisan Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published.


+ 1 = 6

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>