Saya Malu Jadi Mahasiswa UGM

©istimewa

“Kak, apa yang membedakan UGM dengan kampus lain di Indonesia?” Pertanyaan ini saya temui hampir dalam setiap kelas yang tim KKN kami masuki di SMA Negeri 1 Batauga, Buton.

 

 

 

Pertanyaan yang sederhana, tapi sulit untuk dijawab. Bagi saya, pertanyaan ini mengandung makna bahwa siswa-siswi SMA ini memiliki harapan mereka bisa masuk ke kampus tertua di negeri ini. Pilihan untuk masuk ini tentu saja didasari alasan bahwa kualitas pendidikan UGM berada di atas kampus-kampus lain di Indonesia.

Dengan mengenyam pendidikan di UGM, beberapa siswa berharap mampu kembali ke daerah di kehidupan pascakampus. Tentu saja tujuannya untuk membangun tempat tinggal mereka yang sampai saat ini kondisinya cukup ironis. Pulau ini adalah penghasil aspal terbesar di Indonesia, tapi kondisi jalanannya memprihatinkan. Ketika hujan misalnya, genangan air akan memenuhi jalanan yang berlubang dan tidak rata. Keinginan untuk membangun daerah ini menjadi salah satu alasan yang cukup banyak diberikan oleh siswa. Karena itu saya berusaha untuk menjawab pertanyaan tersebut sesederhana mungkin. Yang terpenting, bisa meyakinkan adik-adik yang sekarang duduk di kelas 12 ini untuk masuk ke UGM.

Di salah satu kelas, saya menjawab bahwa biaya pendidikan di UGM termasuk yang paling murah di Indonesia. Dengan uang SPP per semester yang “hanya” Rp 500.000,- dan uang asuransi Rp 40.000,-  masyarakat bisa mengakses pendidikan di kampus ini. Eits, tapi jawaban saya ini rupanya juga tidak memuaskan diri sendiri. Saya hampir kelewatan kalau uang SPP  ini masih ditambah dengan uang BOP yang juga dibayarkan per semester. Rp 60.000,- per sks untuk ilmu-ilmu sosial, dan Rp 75.000,- per sks untuk ilmu-ilmu alam. Kalau mahasiswa mengambil jatah maksimal 24 sks per semester, berarti mahasiswa dari jurusan ilmu-ilmu sosial akan membayar Rp 1.440.000,- . Ditambah uang SPP, jumlahnya mencapai Rp 1.980.00,- per semester.

Sementara untuk ilmu-ilmu alam, jumlahnya bisa membengkak. Mahasiswa dari jurusan ini per semester akan membayar Rp 2.340.000,- Jumlah tersebut masih ditambah dengan biaya untuk praktek lapangan yang pasti menguras kantong mahasiswa lagi. Ini belum memperhitungkan jumlah Sumbangan Peningkatan Mutu Akademik (SPMA) yang besarannya merentang dari angka 5 sampai 40 juta rupiah. Untuk isu SPMA ini, saya membaca hal yang menurut saya cukup memalukan di website resmi UGM.

Seorang mahasiswa baru Fakultas Psikologi angkatan 2011 salah menuliskan besaran SPMA yang seharusnya ia isi. Karena tidak mengetahui dengan pasti gaji kedua orang tuanya, mahasiswa ini mengisi besaran SPMA 2. Artinya, SPMA yang dibayarkan adalah 10 juta rupiah. Besaran SPMA ini diperuntukkan bagi mahasiswa yang orang tuanya berpenghasilan antara 2,5 sampai 5 juta. Belum resmi masuk UGM, mahasiswa dan orang tuanya ini kemudian mengubah besaran SPMA. Hal ini dikarenakan gaji kedua orang tua mahasiswa tersebut berkisar di angka 7 juta rupiah. Ini berarti uang yang harus dibayarkan untuk masuk UGM adalah 20 juta rupiah.

Kalau kita berbicara kejujuran, kita boleh memberikan apresiasi yang tinggi kepada mahasiswa dan orang tuanya tersebut karena mau mengubah besaran SPMA tanpa paksaan. Tapi jika kita melihat dari perspektif lain, bukankah terlihat betapa UGM lebih mengapresiasi mereka yang membayar mahal? Bahkan sampai-sampai pihak kampus bangga memajang hal tersebut di website resminya. Padahal, belum tentu kedua orang tua mahasiswa tersebut mampu membayar uang sejumlah 20 juta rupiah. Apa iya gaji mereka hanya untuk membayar biaya pendidikan di UGM saja?  Untuk daftar nilai besaran SPMA yang harus dibayarkan bisa dilihat di alamat ini um3.ugm.ac.id/index.php/page/24

Ini yang membuat saya baru menyadari bahwa penjelasan saya mengenai biaya pendidikan di UGM yang murah, patah dengan sendirinya. Meski demikian, saya masih berusaha menghibur diri sendiri dan tetap meyakinkan adik-adik supaya mau mencoba kuliah di kampus ini. Apalagi ditambah dengan banyaknya beasiswa yang bisa diakses di UGM. Ada beasiswa yang berasal dari kampus, seperti beasiswa BOP dan SPP. Ada beasiswa dari pemerintah, misalnya saja beasiswa Bidik Misi. Banyak juga beasiswa yang berasal dari yayasan maupun perusahaan-perusahaan swasta.

Tapi saya sendiri juga menjadi ragu lagi dengan keyakinan saya ini. Di tengah sulitnya akses informasi di tempat KKN saya, beberapa teman mengabari tentang plesiran pejabat UGM ke Lombok. Dalihnya, melakukan evaluasi SNMPTN 2011. Biaya perjalanannya pun diambilkan dari uang formulir pendaftaran calon mahasiswa baru yang besarnya 170 ribu rupiah per formulir. Ketika teman-teman bertanya kepada beberapa pejabat UGM mengenai kegiatan ini, semua bungkam dan memilih tidak memberi komentar. Saya heran, di kampus UGM saat ini sudah berdiri banyak gedung yang mewah dan nyaman yang bisa digunakan sekadar untuk melakukan evaluasi. Bukankah pilihan untuk melakukan kegiatan yang sekaligus mengajak keluarga ini bukanlah sesuatu yang manusiawi? Saya tak paham bagaimana pola pikir yang digunakan oleh pejabat kampus. Tapi sudahlah.

Dengan pertanyaan yang sama seperti di awal tulisan ini, saya menjawab dengan pernyataan yang berbeda di kelas lain. Dengan tegas saya mengatakan, “Yang membedakan UGM dengan kampus lain adalah mahasiswanya!” Saya menambahkan bahwa mahasiswa UGM adalah orang-orang yang berkualitas. Contoh kecilnya, tahun 2010 dan 2011 ini UGM berhasil meraih juara umum dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Saya jelaskan bahwa ini adalah ajang perlombaan di bidang penelitian mahasiswa yang pesertanya berasal dari hampir semua perguruan tinggi di tanah air. Dua kali berturut-turut menjadi juara umum sudah cukup membuktikan kualitas mahasiswa kampus ini ada di mana.

Tidak hanya itu, saya juga menjelaskan bahwa mahasiswa UGM dekat dengan masyarakat. Salah satu bentuk kedekatan itu diwujudkan dalam bentuk KKN seperti yang sedang saya dan teman-teman lain lakukan ini. KKN adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat dengan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Tidak tanggung-tanggung, tahun ini UGM mengirimkan lebih dari 4 ribu mahasiswa ke berbagai daerah di Indonesia. Harapannya tentu mahasiswa bisa membantu masyarakat untuk menemukan potensi yang selama ini belum dimanfaatkan dengan maksimal. Rupanya jawaban saya ini pun patah lagi.

Dari Buton saya juga mendengar bahwa ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) saat ini memalsukan tanda tangan pimpinan kampus dalam proposal acara yang diadakan DPM. Memprihatinkan. Saya kira iklim politik kampus di UGM beberapa tahun terakhir ini berada dalam titik terendahnya. Dari mulai kasus afiliasi dengan partai politik nasional, indeks prestasi, pencemaran nama baik, penggelembungan suara dalam pemilihan raya, sampai pemalsuan tanda tangan rutin menjadi warna yang muncul. Bagi sebagian mahasiswa, cara-cara kotor itu dianggap biasa. Bahkan ada yang menganggap bahwa “politik ya wajar seperti itu”. Tapi bagi saya tidak. Memandang mahasiswa adalah memandang masa depan Indonesia. Lantas, bisakah kita berharap akan ada Indonesia yang lebih baik jika wajah mahasiswanya saat ini begitu coreng-moreng?

Mengingat hal-hal di atas, saya semakin bertambah ragu dengan jawaban yang saya lontarkan kepada adik-adik di SMA. Kalau boleh jujur, kebanggaan terhadap UGM hanya saya rasakan di awal-awal semester saja ketika pertama kali masuk di kampus ini. Setelah itu memudar.

(bersambung)

[Oleh: Wisnu Prasetya Utomo, mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM]

Tulisan Terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published.


8 + = 15

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>