Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Nihilnya Pelibatan Masyarakat dalam Rancangan Peraturan Pendanaan Pendidikan

Mei 20, 2024

©Putra/Bal

Pada Kamis (16-05), Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Yogyakarta (AMPPY) mengadakan konferensi pers mengenai wacana Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pendanaan Pendidikan DIY. Dihadiri oleh Ide dan Analitika Indonesia (IDEA) Yogyakarta, Persatuan Orang Tua Peduli Pendidikan (Sarang Lidi), dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta. Konferensi pers yang diadakan di kantor LBH Yogyakarta itu, AMPPY menyampaikan pernyataan sikapnya terhadap pencanangan Raperda tersebut. 

Yuliani Putri, Ketua Sarang Lidi, menyampaikan bahwa Raperda tersebut akan membebani masyarakat jika disahkan. Pasalnya, Raperda akan melegalkan adanya pungutan di luar sumbangan sukarela yang sudah dilarang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 75 Tahun 2016 mengenai pendidikan. “Perda ini agak rancu cantolan hukumnya,” ucap Yuli.

Selain itu, Yuli juga menyampaikan audiensi yang telah diadakan oleh DPRD Yogyakarta dengan mengundang perwakilan AMPPY pada Senin (06-05) lalu. Menurutnya, hadirnya AMPPY dalam audiensi tersebut seolah sudah memenuhi persyaratan pelibatan masyarakat. Nyatanya, perwakilan AMPPY tidak diberi ruang untuk berbicara. “AMPPY tidak diberi kesempatan untuk ngomong dan memberikan masukan, maupun menolak itu,” tutur Yuni. 

Hal serupa juga disampaikan oleh Purnomo Sidi Tambi, anggota Sarang Lidi, yang ditolak saat ingin berbicara pada audiensi tersebut. Ia mengaku, tanggapannya dipotong oleh ketua Panitia Khusus (Pansus) Raperda saat ingin menyanggah akademisi yang menurutnya terlalu berpihak terhadap penerbitan Raperda dan tidak mendukung masukan dari masyarakat. “Saya ingin menanggapi dan akhirnya di-cut sama ketua Pansusnya,” jelas Purnomo. Menurutnya pula, alih-alih menerima masukan dan pertanyaan dari masyarakat, ketua Pansus hanya memberikan pemaparan dari narasumber lain seperti komite dan kepala sekolah. 

Selanjutnya, Purnomo menjelaskan usulan yang tidak dapat ia sampaikan saat audiensi. Ia melihat pentingnya fungsi pengawasan dalam penyusunan Raperda tersebut. Menurutnya, pengawasan harus melibatkan pihak internal, eksternal, dan fungsional. Ia melihat bahwa hanya dua fungsi pengawasan yang sudah berjalan, yaitu internal oleh komite dan fungsional oleh pemerintah. Pihaknya ingin mengusulkan pengawasan eksternal oleh masyarakat untuk pelibatan publik. “Harus ada pengawasan dari aliansi masyarakat, yaitu eksternal,” ucap Purnomo.

Purnomo tak luput untuk menyampaikan surat penolakan dari Sarang Lidi dengan mengusulkan Raperda DIY BA 6 Tahun 2024 mengenai pedoman pendanaan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31. Ia melanjutkan, sumbangan dan pungutan tidak memiliki dasar hukum yang kuat dan bertentangan dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 75 Tahun 2016 yang melarang pungutan dalam lingkungan sekolah. “Jadi ini bentuk reaksi kami untuk melaporkan ke Kementerian Dalam Negeri,” lanjut Purnomo.

Muhammad Rakha Ramadhan dari LBH menyampaikan, upaya advokasi akan dilakukan dalam mengawal Raperda ini ke depan. Ia menuturkan bahwa akan dilakukan audiensi ke Kantor Wilayah Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam waktu dekat. Surat penolakan juga sudah disiapkan untuk dikirimkan kepada Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Jangan sampai Raperda ini lolos menjadi Perda karena secara substansi sangat banyak permasalahan,” pungkasnya.

Penulis: Andreas Hanchel Parlindungan Sihombing
Penyunting: Fanni Calista
Fotografer: Cahya Saputra

4
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026
  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM