Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
Latest post
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
Katrin Bandel: Konstruksi Gender dan Perempuan dalam Wacana...
Kiamat Kecil di Timbulsloko
Berat Sebelah Kuasa Poligami
Difabel
APATIS Soroti Lonjakan Biaya Pendidikan, Serukan Mahasiswa Terus...
Perempuan Tagih Janji Puan Sahkan RUU PPRT
Rajam Norma Hetero Melintang Zaman
balpress
balpress

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
KILASREDAKSI

Peran Media Komunitas dalam Menyaring Informasi

Maret 11, 2018

Syam Terajana, salah satu pembicara dari media komunitas DeGorontalo. @Istimewa

“Cepatnya perkembangan teknologi menjadikan kita dapat mengakses informasi dengan mudah,” kata Putu, salah satu pembicara dalam diskusi “Mawas Diri Di Tengah Tsunami Informasi” pada Jumat (08-03) sore. Acara yang bertempat di Jogja National Museum ini, turut mengundang dua pembicara lain yaitu Syam Terajana dari DeGorontalo, dan Imung Yuniardi dari Combine Resource Institution. Diskusi ini merupakan salah satu rangkaian acara Jagongan Media Rakyat (JMR) 2018 yang diadakan dua tahun sekali. Mengambil Tema “Gaya Warga Berdaya”, JMR yang diselenggarakan pada 08-10 Maret merupakan ruang untuk membahas isi-isu sosial dalam masyarakat dan informasi sebagai medianya.

Putu Hendra Brawijaya, selaku perwakilan BaleBengong mengawali diskusi dengan membicarakan penyebab banjir informasi yang dikarenakan perkembangan media sosial. Ia mengatakan bahwa media sosial tanpa kita sadari telah merugikan penggunanya karena telah mengonsumsi informasi-informasi hoaks. Menurutnya, kebanyakan para penyebar hoaks hanya menyebarkan informasi tanpa membaca dan jarang sekali mencari lebih lanjut tentang kebenaran informasi. “Mereka merasa keren karena menyebarkan informasi yang sedang hangat dibicarakan dan mencari ketenaran di media sosial saja,” ungkapnya.

Putu juga memaparkan ada beberapa cara untuk menyaring informasi yaitu cek data, cek fakta, dan cek informasi. Cek data yaitu dengan mencari foto atau video bisa dilakukan dengan memeriksa waktu pengambilannya untuk mengkonfirmasi kebenaran berita. Cek fakta ialah mencari informasi yang sama di media yang lebih terpercaya. Cek informasi yaitu cari siapa penyebar, akun, dan penulisnya.

Banjir informasi juga disinggung oleh Imung. Menurutnya bukan hanya informasi hoaks saja, tapi juga banyak informasi yang tidak pada tempatnya. Ia mengatakan bahwa hal tersebut dapat diatasi dengan media komunitas. Media komunitas sebagai literasi jurnalisme warga berusaha menggerakkan warga untuk menerima informasi sesuai kebutuhan mereka. Ia menambahkan, media komunitas tidak cukup hanya dengan memilah informasi, tapi juga memproduksinya. “Media komunitas dibentuk karena kebutuhan untuk mengungkapkan hal-hal yang belum terekspos ke publik, bukan hanya sekadar alternatif semata,” ungkapnya.

Senada dengan Imung, Syam mengatakan bahwa media komunitas membantu masyarakat mengetahui informasi yang sebenarnya terjadi dan terbukti kebenarannya. Ia mencontohkan DeGorontalo sebagai media pemberi informasi seputar Gorontalo yang harusnya dikonsumsi masyarakat. Ia menyayangkan media-media nasional di Jakarta yang menerbitkan berita tidak terlalu dibutuhkan masyarakat di Gorontalo maupun daerah lain. Perbedaan perspektif masyarakat ibukota dengan masyarakat daerah menjadi penghalang masyarakat daerah untuk memahami informasi dari media-media nasional. “Contohnya seperti berita yang ‘seksi’ menurut orang Jakarta, belum tentu ‘seksi’ menurut orang Gorontalo,” ungkap Syam.

Menanggapi diskusi tersebut, Ferdi F. Putra selaku salah satu panitia mengatakan bahwa banjir informasi saat ini bergantung pada masing-masing orangnya. “Masing-masing dari kita bisa memilih mana yang penting dan mana yang tidak,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa media komunitas sering dituduh sebagai salah satu sumber penyebab banjir informasi. Hal tersebut berdampak pada media komunitas semakin terpojok karena belum memiliki legalitas seperti media nasional.

Penulis : Putri Soleha
Editor : Pungky Erfika

BaleBengonghoaksJMR 2018media komunitas
1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

SEJAGAD, Serikat Pekerja Kampus Pertama di Indonesia, Resmi Didirikan

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...

Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • Katrin Bandel: Konstruksi Gender dan Perempuan dalam Wacana Pascakolonial

    Maret 12, 2026
  • Kiamat Kecil di Timbulsloko

    Maret 12, 2026
  • Berat Sebelah Kuasa Poligami

    Maret 12, 2026
  • Difabel

    Maret 12, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Sepah Pemerintah Ditadah Bank Sampah

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM