Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATER

Kisah Penindasan dari Pesisir

Maret 9, 2011

Cerita ini terus berlanjut bak sandiwara, tarik ulur pertambangan di Kulonprogo hingga kini tak kunjung menemukan benang merah. Pihak penguasa bersikeras, adanya pertambangan di pesisir selatan Kulonprogo mampu memperbaiki penghidupan warga. Disisi lain, masyarakat yang sebagian besar petani, tidak serta merta menerima usulan tersebut.

Persoalan ini menarik minat empat pemuda yang tergabung dalamĀ Alexis Collective, sebuah kelompok solidaritas untuk petani Kulonprogo. Selasa petang (8/3) mereka mendatangi ruang sekretariat Persma Universitas Sanata Dharma (Natas) dan mengundangĀ Balairung. Feri Sirait, salah satu pegiatĀ Alexis Collective, mengawali diskusi dengan menceritakan kronologis pembukaan kembaliĀ pilot projectĀ di Desa Karangsewu oleh PT Jogja Magasa Iron (JMI) Senin (7/3) lalu.

Alumnus Filsafat UGM itu memaparkan, sebelumnya warga telah menutupĀ pilot projectĀ itu sejak 14 Desember 2010 silam. Hal tersebut berbuntut pada pelaporan PT JMI atas perusakan aset perusahaan kepada Polda DIY pertengahan Februari lalu. Hingga kini, tiga warga desa Karangsewu masih diperiksa sebagai saksi di Polda DIY.

Demi meloloskan rencananya, kemarin PT JMI mendatangkan sekitar 700 personil polisi guna mengamankan pembukaan tersebut. Tak hanya itu, Feri menyebutkan pasukan polisi itu juga membawa mobil anti huru-hara, mobil tahanan,Ā water canon, dan mobil anjing pelacak. ā€œMereka memancing warga agar melawan dan melakukan kekerasanā€, jelasnya.

Selanjutnya, Muhammad Fandi, yang juga pegiatĀ Alexis Collective, menambahkan, hingga Selasa pagi jumlah polisi di lokasiĀ pilot projectĀ terus bertambah. Diperkirakan polisi yang berada di lokasiĀ pilot projectĀ mencapai ribuan. Ke depan, bersama teman-temannya, mahasiswa pascasarjana Antropologi UGM ini berupaya menghimpun data-data kajian multi interdisipler mengenai proyek penambangan pasir besi.

Hal ini merupakan usaha membuat data tandingan yang mendukung penambangan. Misalnya, Fandi dan teman-temannya kini mengaji aspek hukum proyek penambangan. Mulai dari keabsahan penandatangan kontrak karya pada 2008 silam, hingga kontroversi klaim tanah sepihak oleh Paku Alaman.

Perhitungan dampak sosial juga tak luput dari analisis mereka, dan banyak lagi pertimbangan-pertimbangan lainnya. ā€œSaat ini media cetak dan elektronik cenderung menyajikanĀ  informasi yang tidak berpihak pada warga,ā€ imbuh pemuda yang akrab disapa Ojud tersebut.

Konflik antara petani pesisir selatan Kulonprogo dengan PT JMI bermula sejak 2006 silam. Pemerintah yang mestinya menampung aspirasi warga, justru berpihak pada korporasi. Hal ini dapat dilihat dari dukungan Pemprov kepada Pemda dengan merevisi Perda Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW) Nomor 1 tahun 2003.

Perlu diketahui pula 30% saham PT JMI dimiliki oleh PT Jogja Magasa Mining. Sisanya milik sebuah perusahaan asal Australia, Indo Mines Ltd. Hingga kini, warga yang tergabung dalam Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) tetap menolak proyek pertambangan tersebut.[Anwar Kh]

alexis collectivekulonprogonataspesisirpetaniPPLPPT JMI
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Kicau Riuh Kampus Hijau UGM

SSPU Tetap Jalan, Aksi Tolak Uang Pangkal Hasilkan...

Habis SSPI, Terbitlah SSPU dalam Dialog Panas Mahasiswa...

Bebani Mahasiswa dengan Biaya Mahal, UGM Bersembunyi di...

Penerapan Uang Pangkal, Neoliberalisasi Berkedok Solusi

Pedagang Kaki Lima Stasiun Wates Digusur Tanpa Dasar...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026
  • Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

    Maret 11, 2026
  • Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam Konflik Agraria PSN Banten

    Maret 7, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM