Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
APRESIASI

Mengungkap Rasa Mengucap Kata

Februari 28, 2011

Jumat (25/2) malam, Gelanggang Mahasiswa UGM tampak begitu ramai. Suara hujan tak lagi terdengar, hanya alunan ungkapan kata-kata indah. Orang-orang yang ingin menonton pementasan menunggu sambil menikmati penataan panggung yang minimalis. Perpaduan warna putih dan merah dengan warna dasar hitam mengisi panggung Teater Gadjah Mada (TGM). Penonton duduk beralaskan tikar ditemani sajian segelas teh panas dan kacang. Lampu mulai meredup dan acara bertema “Ungkapkan dengan Teater” pun dimulai. Lontaran kata-kata dibuka oleh angkatan baru TGM. Mereka saling menyambung kata, mendendangkan nada, dan dipadu pula dengan gerakan ritmis. Puisi “Armada Terbunuhnya Atmokarpo” terdengar begitu istimewa. Dengan suara berat dan lantang laiknya berorasi Irma, tamu dari Jakarta, membuat penonton membisu. Pakaiannya yang serba hitam menciptakan suasana berduka yang mendalam. Tak melulu ungkapan rasa melalui kata, gerakan-gerakan indah pun dipertontonkan. Seperti  orang yang sedang trans, seorang pemuda berkacamata bergerak mengikuti irama lagu. Ia meloncat ke sana ke mari, salto berulang kali. Tanpa kata, ia ingin mengungkapkan karsa. Tak mau kalah, ketiga anak TGM lain berlaga dalam kepala tertutup kotak kardus. Melalui tarian, mereka seolah merefleksikan raut wajah yang terlukis di kotak kardus. Di tengah tarian, seorang perempuan mulai melepas kotak kardus dari kepala, meletakkan di sebelahnya dan mengajaknya berbicara. Di sisi panggung yang lain, kedua teman lelakinya bergerak ritmis mengikuti nada. Ketika si perempuan selesai bercerita, salah satu lelaki membuka tutup kepalanya. Ia memperagakan kata-kata dengan jenaka sehingga membuat penonton tertawa geli melihatnya. Tawa masih membahana kala pemuda terakhir menggerakkan tubuh layaknya anggota boyband SMASH. Gerakan ala SMASH digantikan oleh nyanyian akustik dari anak Fakultas Ilmu Budaya. Penonton yang daritadi duduk juga tak mau kalah. Mereka ingin mengungkapkan rasa. Dua penonton membacakan puisi-puisinya. “Kutangkap senyummu, ku-photocopy dan ku-laminating untuk dipasang di dompetku,” ungkap seorang penonton untuk temannya. Tak hanya puisi berbahasa Indonesia yang dibacakan, puisi bahasa Arab juga mewarnai pementasan malam itu. Anak Sastra Arab UGM membacakan dengan fasih puisinya. Ia membaca setiap kata dengan penuh penghayatan seakan ingin mengungkapkan maknanya. Penampilan dari Yuniawang Setiadi turut menghanyutkan penonton dalam gelak tawa. Ia membacakan pusi sembari memainkan gitarnya. Suasana canda berganti menjadi romansa ketika puisi Sapardi Djoko Damono dibacakan pun dinyayikan. Dengan petikan gitar akustik, puisi ini menyihir penonton untuk masuk ke dunia cinta. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: Dengan kata yang tak sempat diucapkan Kayu kepada api yang menjadikanya abu Aku ingin mecintaimu dengan sederhana: Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada Romo Heru, pendiri TGM, ikut mengungkapkan perasaannya dengan membacakan cerita pendek. Sesuai dengan tema, pementasan yang disuguhkan memang ungkapan rasa dari penyajinya. Mereka boleh beraksi sebebas-bebasnya. Melalui teater, mereka berpuisi, menari, dan bernyanyi. Ungkapan rasa tak hanya milik seniman teater, semua manusia berhak menyatakannya. Lewat kata-kata indah, alunan nada, gerak berirama boleh saja dituangkan tanpa ada beban pikiran. Pementasan tak lagi menjadi sajian pemuas penonton belaka. Mereka mengungkap beribu makna dalam satu panggung sederhana. Untaian kata yang memperkenalkan rasa dan karsa manusia bergulir apa adanya. Tak ada keistimewaan untuk mereka yang menyajikan kemewahan. Tak ada hinaan bagi penonton yang awam dalam menyampaikan rangkaian katanya. Malam itu semua melebur dalam kesatuan perasaan, ingin mengungkapkan. Tertawa oleh kekonyolan tingkah-tingkah yang ada, terhanyut oleh cinta dan perihnya luka. Pertunjukkan pun usai ketika tak ada lagi asa dalam kata yang ingin diungkapkan manusia.[Abud]

aku ingin mencintaimu dengan sederhanapuisisapardi djoko darmonoteatertgmugm
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Awab Ajar Awam, Gunakan Daya dari Surya

Resistensi atas Trauma Korban Kekerasan ‘65

Belasut Puja-Puji Palsu Tubuh Perempuan dalam Kanvas

Pusparagam Perjuangan dalam Temukan Ruang Aman

Jalin Merapi Tak Pernah Ingkar Janji

Sastra untuk Semua lewat Sastra Suara

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan Energi Hijau Panas Bumi

    Februari 16, 2026
  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026
  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM