Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Menggaungkan Tuntutan Multisektoral pada International Women’s Day

Maret 9, 2020

©Erika/Bal

Minggu (8-3), berlangsung aksi “International Women’s Day Yogyakarta 2020” untuk memperingati Hari Perempuan Internasional. Massa aksi yang diestimasikan berjumlah 200 orang datang secara individual serta 28 organisasi, komunitas, dan kolektif yang mayoritas bergerak pada isu gender. Selain itu, hadir pula LBH Yogyakarta, Girl Up! UGM, AJI Yogyakarta, dan Perempuan Mahardhika dalam aksi tersebut. Massa aksi mulai melakukan longmars sepanjang Jalan Malioboro sekitar pukul 12.00 WIB.

Aksi tersebut muncul dari desakan untuk merespon kemunculan banyak isu dari berbagai sektor yang, baik secara langsung dan tidak, menyasar perempuan. Terdapat 40 tuntutan yang menyasar banyak sektor dalam masyarakat. Tuntutan tersebut menyasar baik isu yang secara langsung berdampak pada perempuan, maupun isu-isu dari berbagai sektor lainnya dengan berbagai lapisan problematika. Dalam orasi-orasi yang ditampilkan, kerap disuarakan terdesaknya dampak omnibus law dan RUU Ketahanan Keluarga pada perempuan serta RUU PKS untuk disahkan. Pembentukan ruang aman bagi perempuan di tiap-tiap kampus dan perlawanan terhadap diskriminasi dan kekerasan berbasis gender secara umum juga menjadi tuntutan massa. Di samping itu, aksi ini juga menyediakan penerjemah bahasa isyarat, bernama Aa Edo, yang menjadikan aksi ini lebih inklusif.

Poster-poster yang menyuarakan perlawanan terhadap penindasan, khususnya dengan fokus pada penindasan terhadap perempuan mewarnai kerumunan massa aksi. Seperti, “Tolak Omnibus Law!”, “Penuhi hak cuti haid dan hamil!”, dan Penuhi kesetaraan gender!”. Tak hanya itu, massa aksi juga menuntut hal-hal yang terkadang luput dalam diskursus mengenai isu gender. Misalnya, penghentian represi dan kekerasan oleh aparat militer, baik organik maupun nonorganik, di tanah Papua, penghentian eksploitasi alam oleh perusahaan tambang dan sawit, serta penghapusan subsidi untuk pejabat dan pengusaha.

“Melihat perjuangan perempuan secara multisektoral itu penting karena perempuan ada di mana-mana, di berbagai lapisan masyarakat,” ujar Dede dari Perempuan Mahardhika. Dede mengatakan bahwa penindasan yang dilangsukan terhadap perempuan terdiri dari banyak lapisan. Seorang perempuan tentu menyandang identitas lain di samping gendernya, tak luput kelas dalam struktur material-ekonomis yang melingkupinya. Dede menegaskan bahwa perlu adanya kepekaan yang tinggi dalam merespon isu perempuan dengan membaca konteks tuntutan tiap-tiap kelompok perempuan itu sendiri. Dalam satu orasi, Aprilia sebagai perwakilan dari AJI Yogyakarta menyerukan bahwa musuh perempuan ada di dinding kamarnya sendiri.

Aprilia menambahkan bahwa yang membuat perjuangan perempuan menjadi makin sulit adalah karena musuh perempuan, yakni patriarki, sulit dikenali. Dia juga menuturkan bahwa musuh perempuan secara individual seringkali orang terdekat seperti ayah atau suami. Kontinuitas gerakan perempuan, tambah Aprilia, perlu terus dilanggengkan. “Tak hanya berpusat di kampus-kampus, kita perlu memperluas diskusi dan kampanye mengenai isu-isu ini,” tukasnya.

Kayla Adisa, mahasiswa yang tergabung dalam Girl Up! UGM, menyatakan bahwa aksi ini menjadi signifikan dan darurat karena masyarakat perlu mendapatkan diskursus alternatif, khususnya mengenai kekerasan seksual. Ia mengungkapkan bahwa aksi langsung juga berfungsi sebagai sarana untuk memasyarakatkan isu, di samping melangsungkan kekuatan rakyat untuk mengintervensi pembuatan kebijakan. Namun, dia juga berpendapat otokritik terhadap gerakan perempuan itu sendiri pun penting untuk dilakukan. “Perlu ada evaluasi terhadap pendekatan dan metode yang digunakan dalam aksi seperti ini, ” pungkasnya.

Penulis: Widya Rafifa
Penyunting: Ima G. Elhasni

hari perempuan internasionalkesetaraan genderRUU Ketahanan keluarga
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...

Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...

Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026
  • Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

    Maret 11, 2026
  • Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam Konflik Agraria PSN Banten

    Maret 7, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM