Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATERKABAR

Gerakan Literasi Indonesia Gelar Diskusi Plagiarisme

Maret 4, 2014
©Ryma.bal

©Ryma.bal

 

“Perguruan tinggi itu konon menjadi petunjuk bagi masyarakat karena objektivitas keilmuannya diperkuat. Tetapi, bagaimana ketika perguruan tinggi yang seharusnya memberi contoh terkait moral intelektual, moral publik, dan juga keberanian akademik, ternyata di dalamnya banyak sekali bopeng, salah satunya kasus plagiarisme.” Sebuah kutipan dari buku Tahta Berkaki Tiga karangan ST. Sunardi menjadi pembuka Serial Diskusi Kedaulatan Pendidikan, Sabtu (1/3). Acara ini merupakan edisi ketiga dari diskusi rutin yang diselenggarakan Gerakan Literasi Indonesia. Bertempat di Warung Kopi Lidah Ibu, acara bertajuk “Plagiarisme, Eksploitasi, dan Penindasan Akademik” tersebut dihadiri sejumlah kalangan, baik akademisi maupun praktisi.

Dalam diskusi tersebut, ST. Sunardi yang hadir sebagai pembicara mengungkapkan, kasus plagiarisme memang sering terjadi di kalangan akademisi. Tidak hanya kasus Anggito Abimanyu yang belakangan ini menghebohkan publik, di Universitas Sanata Dharma tempatnya mengajar, kasus serupa juga pernah ditemui. Awalnya memang sulit dibuktikan bahwa tulisan tersebut adalah plagiat. Namun, dengan ditemukannya bukti-bukti plagiarisme, hal tersebut akhirnya diakui oleh si pelaku. “Celakanya, media yang memuat tulisan tersebut bahkan tidak sadar bahwa itu adalah tulisan plagiat,” ujar ST. Sunardi dalam paparannya.

Ia menegaskan bahwa hal tersebut erat kaitannya dengan arogansi intelektual. Masyarakat umum menilai kualitas tulisan seseorang ditentukan oleh penulisnya. “Seperti analogi seniman, kalau yang buat orang hebat, maka apapun yang dibuatnya pasti hebat,” imbuhnya.

Menambahkan pendapat ST. Sunardi, Tia Pamungkas yang juga dosen Sosiologi di Universitas Gadjah Mada mengungkapkan bahwa kasus plagiarisme tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara seperti Jerman pun masih ditemui kasus-kasus plagiarisme. Lagi-lagi, ironisnya hal itu tidak dilakukan orang awam, tetapi dari kalangan terpelajar. “Bahkan, baru tahun kemarin terjadi kasus plagiarisme yang dilakukan oleh oknum di Kementrian Pendidikan Nasional di Jerman,” tambahnya.

Dalam diskusi tersebut dipaparkan pula bahwa plagiarisme adalah suatu tindakan yang tercela dan merendahkan martabat seorang akademisi. Tidak hanya itu, plagiarisme juga merupakan perbuatan pidana karena melanggar hak cipta. Menurut Tia, dosen bukan hanya pekerja akademi, melainkan intelektual. Dia harus bisa mengatasi konflik personalnya terutama untuk prinsip-prinsip moralitas.

Meskipun demikian, Tia tidak menampik bahwa plagiarisme salah satunya dipicu oleh pengingkaran iklim kewajaran dalam sistem. Hal serupa juga dikatakan oleh ST. Sunardi. Ia mencontohkan misalnya kewajiban bagi mahasiswa untuk menulis jurnal. Hal itu perlu ditelaah kembali apakah sistem pendidikan di perguruan tinggi memang diarahkan ke sana. “Jika tidak, maka yang terjadi adalah keterpaksaan dan berujung pada plagiarisme,” tegasnya. [Ervina Lutfikasari]

 

 

 

 

diskusigerakan literasi indonesiaplagiarisme
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Kicau Riuh Kampus Hijau UGM

SSPU Tetap Jalan, Aksi Tolak Uang Pangkal Hasilkan...

Habis SSPI, Terbitlah SSPU dalam Dialog Panas Mahasiswa...

Bebani Mahasiswa dengan Biaya Mahal, UGM Bersembunyi di...

Penerapan Uang Pangkal, Neoliberalisasi Berkedok Solusi

Pedagang Kaki Lima Stasiun Wates Digusur Tanpa Dasar...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

    April 10, 2026
  • Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap Jurnalis Perempuan

    April 9, 2026
  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM