Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KABARNALARPOLLING

Dilema Partisipasi Mahasiswa dalam Pilrek

Mei 4, 2012

sheet 5 sosialisasi

Ketika sikap apatis dan pemikiran pragmatis menjadi pilihan.

Atas nama demokrasi hampir segala hal ditentukan mengikuti suara mayoritas. Berbagai demokratisasi dalam segala aspek dilaksanakan demi mencapai tujuan. Kampus kerakyatan ini pun tidak ketinggalan turut serta memeriahkan euforia demokrasi di tanah air.

Berdasarkan Pasal 45 ayat (1) Keputusan MWA UGM nomor 12/SK/MWA/2003 tentang Anggaran Rumah Tangga UGM, diadakanlah ajang pemilihan rektor (pilrek) periode 2012-2017 pada Februari lalu. Sederet prosedur pemilihan disiapkan demi menemukan sosok pemimpin yang dapat menjadi tumpuan bagi perkembangan kehidupan kampus ke depan. Siapa saja mempunyai kesempatan mencalonkan diri ataupun dicalonkan, sesuai ketentuan dan syarat.

Proses pencarian sosok pimpinan UGM dilakukan secara bertahap mulai dari minggu kedua bulan Februari lalu dengan dilakukannya persiapan oleh Panitia Ad Hoc (PAH). Sosialisasi dilakukan seminggu setelahnya, yaitu pada minggu ketiga bulan Februari hingga awal Maret. Pada tahap ini, pendaftaran bakal calon telah dimulai dengan pengiriman berkas-berkas oleh pribadi yang bersangkutan ataupun pihak yang mencalonkan.

Pada akhir masa sosialisasi tercatat 11 bakal calon rektor dengan 8 diantaranya berasal dari staf akademisi UGM. Sampai pada titik ini pun prosedur pemilihan masih berkutat pada keputusan PAH yang bertugas menjaring lima orang. Semua bakal calon yang lulus seleksi admistrasi akan diberikan kesempatan memaparkan visi dan misi mereka di hadapan Rapat Gabungan Pleno Senat Akademik (SA) dan Majelis Guru Besar (MGB). Tiga diantaranya yang mendapatkan suara terbanyak kemudian diajukan ke MWA. Seleksi diteruskan hingga akhirnya menjaring satu rektor terpilih yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan.

Serangkaian proses pemilihan tersebut mungkin tampak sempurna, atau setidaknya memenuhi standar bentuk perwujudan demokrasi. Namun jika ditilik lebih lanjut, ada bagian yang hilang dari proses tersebut. Tidak ada partisipasi yang signifikan dari mahasiswa dalam pemilihan pemimpin nomor 1 di UGM ini.

Tata cara pemilihan yang tertera pada portal akademik UGM maupun MWA hanya menyatakan adanya keterlibatan dua orang perwakilan mahasiswa saja. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mendapat satu hak pilih sebagai perwakilan mahasiswa S1, dan seorang yang lain adalah mahasiswa S2. Permasalahannya, apakah kuota dua suara tersebut sudah cukup untuk mewakili lebih dari 20 ribu mahasiswa?

sheet 3 partisipasi

Dengan menggunakan latar belakang tersebut, tim Divisi Riset BPPM Balairung memutuskan untuk mengadakan polling mengenai pendapat mahasiswa tentang pilrek tahun ini. Hasilpolling yang kami dapatkan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa merasa memiliki hak untuk harus ikut serta dalam pilrek. Sejumlah mahasiswa menyatakan bahwa sebagai objek dari kebijakan kampus, mereka seharusnya memiliki hak untuk turut andil dalam pilrek. Senada dengan pernyataan di atas, sebagian yang lain berpendapat mahasiswa adalah elemen atau bagian dari kampus. Sementara sisanya menganggap dengan pengikutsertaan mahasiswa dalam pilrek, akan menambah kepedulian mereka akan kampus.

sheet 1 alasan partisipasi

Mengenai kepedulian, fakta lain yang kami temukan yaitu hanya 15,6% dari jumlah responden yang mengetahui mekanisme pemilihan rektor, sedangkan sisa 84,4% menyatakan tidak. Hal ini dapat dikaitkan dengan sosialisasi pilrek yang tidak jelas cara maupun sasarannya. Walaupun jumlah mahasiswa yang menyatakan tahu tentang sosialisasi lebih banyak daripada yang tidak, tetapi toh perbedaan persentase antara keduanya tidak terlalu signifikan.

sheet 4 mekanisme

Pertanyaan seperti “Apa itu Pilrek?” bahkan sempat dilontarkan oleh beberapa mahasiswa. Hal tersebut sedikit banyak mengindikasikan ketidaktahuan atau bahkan ketidakpedulian mahasiswa akan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kampus. Bila dibiarkan terus berlarut-larut, tidak tertutup adanya kemungkinan muncul sikap apatis di kalangan mahasiswa.

Fenomena seperti ini seringkali timbul akibat tidak adanya hubungan harmonis antara mahasiswa dan rektor. Mahasiswa sering merasa aspirasinya tidak didengar dan dianggap. Berangkat dari situ lah aspek aspiratif muncul sebagai salah satu kriteria yang paling banyak diajukan menyangkut rektor ideal. Harapan agar keterlibatan mereka lebih dipertimbangkan dalam pencapaian tujuan bersama.

sheet 2 rektor ideal

Dengan kata lain, dua orang perwakilan mahasiswa dalam pilrek tidak cukup untuk mewadahi segala aspirasi dan pemikiran yang dimiliki mahasiswa mengenai rektor. Para mahasiswa tentu memiliki harapan sendiri akan perwujudan rektor yang ideal yang tidak tersentuh oleh kriteria persyaratan formal dari MWA. Selain aspiratif, para mahasiswa mengharapkan munculnya sosok pemimpin yang merakyat. Seseorang yang bijaksana dan dapat mempertimbangkan setiap dampak kecil kebijakan terhadap orang-orang yang dipimpinnya.

Selama ini, kebijakan-kebijakan yang ada di kampus seolah berpusat hanya pada keputusan kalangan atas saja. Tak jarang ada kesan dan perbincangan yang muncul bahwa kebijakan diambil tanpa pertimbangan yang mendalam. Banyak pula mahasiswa yang merasa terbebani bahkan dirugikan oleh kebijakan-kebijakan yang diambil rektor terdahulunya.

Hal-hal seperti itu dijadikan alasan untuk membolehkan adanya sikap tidak peduli pada kondisi kampus. Terbukti, beberapa responden menganggap partisipasi mahasiswa dalam pilrek tidak penting. Alasannya tindakan apapun yang mereka lakukan hanyalah sia-sia. Suatu pandangan mengejutkan yang tidak seharusnya datang dari seorang mahasiswa, sebagai calon praktisi perubahan masa depan. Pesimistis adalah sebuah hambatan bagi setiap kemajuan dan perbaikan.

Maka dari itu, perlu adanya solusi bersama dalam mengentaskan masalah semacam ini. Mengenai pilrek sendiri, ada baiknya bila mahasiswa dilibatkan secara riil. Bukan berarti bahwa sistem pemilihan rektor harus dirubah menyerupai pemilihan umum yang dilakukan dengan pungutan suara. Namun, bisa diwujudkan dengan cara memperbesar porsi hak suara mahasiswa dalam proses pemilihan. Setidaknya setiap fakultas mendapatkan hak untuk mengirim satu perwakilan mahasiswa.

Proses seperti itu mungkin akan memakan waktu yang lebih panjang dan lebih rumit dalam pelaksanaannya. Tetapi, anggap saja itu sebagai sedikit pengorbanan demi terwujudnya suatu keharmonisan dalam proses demokrasi ini. Tidak selayaknya prinsip pragmatis terus-menerus menguasai yang hanya ingin cepat, hanya ingin mendapat keuntungan. Sudah saatnya langkah besar perubahan diambil demi terciptanya kampus yang lebih baik. [Anisatul Muharara, Rifki Fajar]

 

apatisMWApartisipasipemilihan rektorrektorrektor ideal
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Muhidin M. Dahlan: Ekosistem Aktivis Pengaruhi Disorientasi Aktivisme

Firhandika Santury: Perjuangan Hak Pekerja Seks Bukan Sekadar...

Fatia Maulidiyanti: Penempatan Militer di Papua Itu Ilegal

Karel Tuhehay: Bayang-Bayang Masalah Struktural dalam Penanganan Kesehatan...

Made Supriatma: Intransparansi Peradilan Militer dalam Menangani Kekerasan...

Peringatan Hari Perempuan Sedunia 2022 Tuntut Bebaskan Perempuan...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara dalam Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

    Maret 17, 2026
  • Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam Aksi Mogok Kerja

    Maret 13, 2026
  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026
  • Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

    Maret 11, 2026
  • Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam Konflik Agraria PSN Banten

    Maret 7, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM