Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Reposisi Gerakan Mahasiswa dalam Napas Pancasila

Maret 21, 2011

Jumat (11/3) siang, Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM bersama Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Nation Building dan Gerakan Pemudadengan tema “Memperkokoh Pondasi Ideologis dan Reposisi Gerakan Mahasiswa dalam Menghadapi Tantangan Global”. Seminar yang bertempat di University Club ini menghadirkan tiga orang pembicara, yaitu Drs. Sindung Tjahyadi, M. Hum (Ketua PSP), Prof. Wuryadi, M.S. (Ketua Dewan Pendidikan DIY), dan Sudaryanto (alumnus Presidium GMNI).

Prof. Wuryadi mengawali diskusi dengan mengungkapkan minimnya kesadaran dan kemauan berbangsa para pemuda. Akibatnya, mereka hanya memahami, tanpa memberikan tindakan dan solusi nyata terhadap masalah berbangsa. “Pendidikan Pancasila di bangku-bangku sekolah hanya mengharuskan siswa untuk memahami, tetapi lupa menekankan pentingnya implementasi dalam kehidupan nyata,”keluh Prof. Wuryadi.

Hal itu disepakati Sindung Tjahyadi. ”Pendidikan pun tak luput menjadi ladang komersial bagi kapitalis,” ungkapnya. Menurutnya, solusi terbaik adalah dengan membangun kapasitas analisis sosial, seperti memperhatikan tren dan arah perubahan sosial. Meskipun demikian, upaya agar tak lepas dari jangkar historis harus tetap dijaga.

Sudaryanto mengamini pernyataan keduanya. Pancasila hanya “dunia bunyi-bunyian” yang nyaring diucapkan. Ironisnya, “dunia nyata” yang sering terjerumus dalam kapitalisme justru dilupakan. Sudaryanto memaparkan dua hal yang dapat mempengaruhi nasib kehidupan bangsa di masa depan. Pertama, tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap kebohongan rezim polyarchy electoralism. Kedua, transformasi geopolitik global sebagai akibat pergeseran pusat pertumbuhan dunia dari Atlantik ke Pasifik.

Para pembicara berharap agar seminar yang dilakukan tidak hanya menjadi pepesan kosong. Oleh karena itu, Sudaryanto menghimbau, “Dibutuhkan para revolusioner yang tidak hanya melahirkan revolusi semata, tetapi revolusioner, sehingga dapat melahirkan transformasi ke arah perubahan yang lebih baik”.

Sebagai penutup, moderator menyimpulkan hasil diskusi yang berlangsung selama lebih dari tiga jam ini. Pertama, masyarakat harus membangun kesadaran mengenai kondisi dan permasalahan yang terjadi. Kedua, masyarakat harus memahami kondisi zaman, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional. Ketiga, masyarakat harus menyadari bahwa negara tidak hanya berasal dari unsur rakyat, pemerintah, dan lahan saja. Aspek geopolitik juga harus diperhatikan untuk membangun eksistensi negara di kancah internasional. [Alfan T.]

GMNIPSPseminar nation buildingSindung TjahyadiSudaryantoUCWuryadi
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM