Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
ALMAMATER

Paradigma Industrial Negara Menindas Buruh

Maret 5, 2011

Sumbangan buruh terhadap Product Domestic Bruto sangat besar. Sayangnya kesejahteraan mereka kurang diperhatikan pemerintah dan perusahaan. “Berdasarkan survey Perhimpunan Solidaritas Buruh (PSB), biaya hidup layak di Bantul dan Sleman sebesar Rp 1.400.000,00, tetapi UMR yang diterima pekerja hanya Rp 800.000,00,” ungkap Julie N Nugroho, Sekretaris Eksekutif Perhimpunan Serikat Buruh (PSB) dalam diskusi publik “Buruh dan Keadilan Dalam Perspektif Pancasila”. Acara ini diadakan Persekutuan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI) di Wisma Mahasiswa Katholik, Sabtu (5/3).

Lebih lanjut Julie menjelaskan negara harus memperhatikan realitas pekerja. “Kesejahteraan pekerja telah termaktub dalam pembukaan UUD 45 dan Pancasila sila 5,” tambah alumni Universitas Islam Indonesia ini. Sedangkan menurut Rudi HB Daman dari Serikat Buruh Independen,  payung regulasi yang ada tidak bisa menjamin kesejahteraan buruh. Terlihat dari revisi UU No 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yang terlalu memihak pemilik modal. Dalam revisi itu turut berperan kalangan intelektual antara lain dari UGM, UI, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasannudin. “Kaum intelektual menjadi corong penguasa,” jelasnya.

Rudi juga berpesan kepada mahasiswa agar mempunyai konsep-konsep ilmiah yang berpihak kepada rakyat. Untuk itu mahasiswa harus memahami pokok-pokok permasalahan sosial. “Juga harus berani bersatu untuk melepaskan diri dari jerat penguasa dan kapitalis,” imbuhnya.

Sebenarnya negara mempunyai peran besar dalam mediasi buruh dan industri. “Dalam Hubungan Industrial Pancasila (HIP), buruh dan industri adalah mitra,” jelas Ari Hernawan, Dosen Fakultas Hukum UGM. Untuk menerapkan HIP dibutuhkan peran serta negara sebagai mediator. Namun hal ini sulit diterapkan karena negara juga mempunyai kepentingan dalam mengelola hubungan industrial. Ari memaparkan, Indonesia saat ini masih berparadigmadevelopmentalism, dengan pertumbuhan ekonomi sebagai basis utama. Sedangkan dunia industri paling kontributif terhadap perkembangan ekonomi. “Jadi wajar bila regulasi yang ada tidak memihak kaum buruh,” imbuhnya. Melalui regulasi tersebut, buruh dibutakan secara politis. Agar tidak terjadi gejolak sosial, karena buruh juga merupakan agen perubahan.

Diskusi ini berjalan menarik. Peserta dengan antusias menanggapi dan bertanya kepada pembicara. Salah satu tanggapan menarik diutarakan oleh Guntur Naraya. Menurutnya, perusahaan tidak hanya pelit menggaji pekerja, tetapi juga membohongi publik dengan program Corporate Social Responsibility (CSR). Keuntungan perusahaan yang dialokasikan untuk CSR hanya 2,5 %. Sedangkan citra perusahaan dapat terangkat secara signifikan. “Ironisnya para pegiat CSR kebanyakan alumni UGM yang notabene kampus kerakyatan,” tukasnya.

Ketua PMKRI cabang Yogyakarta, Luciana Bintang Siregar mengharapkan, acara ini dapat menggugah kesadaran mahasiswa  terhadap realitas sosial. Menurutnya mahasiswa saat ini lebih banyak yang memilih bersikap pragmatis dan apatis. “Padahal kita (mahasiswa-red) adalah kaum intelektual yang sangat dinanti kontribusinya terhadap masyarakat,” ungkapnya.(Didik)

berita jogjajogja
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Kicau Riuh Kampus Hijau UGM

SSPU Tetap Jalan, Aksi Tolak Uang Pangkal Hasilkan...

Habis SSPI, Terbitlah SSPU dalam Dialog Panas Mahasiswa...

Bebani Mahasiswa dengan Biaya Mahal, UGM Bersembunyi di...

Penerapan Uang Pangkal, Neoliberalisasi Berkedok Solusi

Pedagang Kaki Lima Stasiun Wates Digusur Tanpa Dasar...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM