Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
Latest post
Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi
Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan
Kuliah Kerja Ngapusi!
Yang Mati dari Hukuman Mati
Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah
Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...
Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...
Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • Tentang Kami
    • KONTAK
    • Masthead
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Wujudkan Kedaulatan Pangan Lewat Pertanian Terpadu

Februari 18, 2013
© istimewa

© istimewa

“Jihad jangan hanya dimaknai negatif atau diasosiasikan dengan teroris, karena mewujudkan kedaulatan pangan pun berarti jihad,” ujar Prof. Dr. Ali Agus, DEA, DAA,  Dekan Fakultas Peternakan UGM. Hal itu ia sampaikan dalam Seminar bertajuk Integrated Farming in Achieving Food Sovereignty pada Sabtu (16/2). Seminar ini bertempat di Auditorium Fakultas Teknologi Pertanian UGM dan dihadiri sekitar 200 peserta. Tujuannya adalah agar mahasiswa sadar akan konsep kedaulatan pangan. Seminar ini merupakan salah satu rangkaian acara Kongres Nasional ke-18 International Association of Student in Agricultural and Related Sciences (IAAS) Indonesia.

Komite lokal IAAS Universitas Gadjah Mada mengangkat tema integrated farming atau pertanian terpadu karena dinilai sebagai sektor penting dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Konsep pertanian terpadu tidak terbatas pada bercocok tanam, tapi juga dapat diaplikasikan pada bidang peternakan. Melalui pertanian terpadu, hasil pertanian dimanfaatkan secara optimal hingga tidak ada komoditi yang terbuang. Pengelolaan pertanian terpadu tidak hanya menghasilkan satu jenis komoditi, namun juga produk sampingan lain. “Bahkan limbah pertanian pun dapat dimanfaatkan untuk kepentingan petani,” ujar Prof. Agus. Ia mencontohkan, air seni dan kotoran sapi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk sedangkan tulangnya diolah menjadi tepung. Optimalisasi sektor pertanian inilah yang akan mendorong lahirnya kedaulatan pangan.

Prof. Agus mengungkapkan bahwa mewujudkan kedaulatan pangan melalui pertanian terpadu tidak akan ada tanpa pendampingan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan tenaga ahli yang bersedia ditempatkan di daerah-daerah untuk mendampingi petani. “Kita hanya pintar perencanaan, tapi enggan berjihad langsung di lapangan. Silahkan menjadi kelompok mujahid pangan Indonesia, pelaku dan pejuang pangan,” tuturnya.

Usaha pertanian terpadu telah dilakukan oleh Adhita Sri Prabakusuma, S.P., pengusaha muda Agribisnis yang merupakan pembicara dalam seminar ini. Adhita merangkul petani di Gunung Kidul untuk membudidayakan lele. Selain menjual lele segar, kelompok taninya juga mengolah lele menjadi produk lain. “Kulit lele kami jadikan kerupuk, dagingnya diolah menjadi abon dan kepalanya juga dimanfaatkan sebagai pakan indukan,” tutur  Adhita.

Pelaksanaan pertanian terpadu tidak lepas dari kendala dan tantangan, seperti diungkapkan oleh Siti Aminah, salah satu peserta sekaligus pengusaha pertanian terpadu. Mahasiswa S1 Kedokteran Hewan ‘09 ini memberdayakan kelompok tani Desa Giri Mulyo untuk menanam sayuran organik. ”Kendala yang kami hadapi adalah persoalan distribusi dan marketing serta produksi yang belum dapat dilakukan secara massal,” terang mahasiswa yang akrab disapa Ami ini. Walaupun demikian, Ami mengatakan bahwa ia tetap optimis dengan konsep pertanian terpadu. “Saya harap petani Indonesia kedepannya bisa makmur melalui pertanian terpadu,” tuturnya. [Krisnia Rahmadany]

Administrator

See author's posts

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan

Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

Ruang Redaksi Belum Aman, AJI Ungkap Kekerasan terhadap...

Aksi Solidaritas Suara Ibu Indonesia Soroti Kekerasan Negara...

Solidaritas Serikat Buruh Taru Martani Berujung Kemenangan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • Kalyanamitra Ungkap Kekerasan Seksual dalam Pernikahan Masih Dinormalisasi

    April 27, 2026
  • Pesangon Tidak Sesuai, Buruh MSV Studio Lanjutkan Gugatan

    April 24, 2026
  • Kuliah Kerja Ngapusi!

    April 15, 2026
  • Yang Mati dari Hukuman Mati

    April 14, 2026
  • Buruh Pibee Group Menangkan Tuntutan Pelunasan Upah

    April 10, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM