Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
DIALEKTIKA

Technoperneurship: Seminar Wirausaha Berbasis Teknologi

April 18, 2012

Selasa (17/4), pukul 14.00 digelar Roadshow Seminar bertema “Technopreneurship RAMP Indonesia” di Ruang Seminar Fakultas Biologi. Pada seminar tersebut materi disampaikan oleh N. Suryana, Program Manager Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (INOTEK). Acara ini bersifat nasional yang  digelar di 11 universitas dan institut di seluruh Indonesia. Di UGM, seminar diselenggarakan atas kerjasama INOTEK, Agritech Study Club (ASC) dan Klinik Agromina Bahari (KAB).

INOTEK adalah yayasan yang bergerak di bidang inovasi pengembangan teknologi. Organisasi ini didirikan pada tanggal 17 Januari 2008 oleh Sandiaga S. Uno dan Arief Surowidjojo di Jakarta. Yayasan tersebut berupaya mencari inovasi-inovasi aplikatif serta tepat guna sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan, terlebih bagi masyarakat menengah ke bawah.

Berdasarkan masalah tersebut, roadshow seminar digelar dengan tujuan mencari inovator dan proposal-proposal baru di bidang teknologi kerakyatan. “Nantinya, inovator-inovator tersebut akan dibimbing dan dibina melalui Recognition And Mentoring Program (RAMP) Indonesia,” ujar Suryana. RAMP adalah program INOTEK yang bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Program ini memfasilitasi para inventor dan inovator dalam mengembangkan inovasi mereka sampai menjadi prototipe yang teruji.

Inventor serta inovator yang dicari tidak terbatas dari kalangan akademisi saja. Akan tetapi bagi masyarakat umum yang memiliki kemampuan dalam bidang ini juga diapresiasi. Inovasi teknologi yang dicari INOTEK dibatasi menjadi lima bidang yang disebut WEHA+, yaitu Water(air), Energy mat la(energi), Health (kesehatan), Agriculture (agrikultur), dan Other (lain-lain). “Untuk inovasi perangkat lunak, kami tidak menerima karena perkembangannya sangat cepat sehingga teknologi tersebut tidak tahan lama,” ujar Suryana.

Beberapa hasil inovasi tersebut ditampilkan dalam acara ini. Salah satunya adalah ACAS, yaitu alat pancing gurita. Alat tersebut adalah alat pancing yang menggunakan gelombang infrasonik untuk memanggil gurita. Inovasi teknologi lainnya juga diperlihatkan melalui video, diantaranya Obelt Thesher, yaitu alat perontok padi dengan sepeda. Alat ini merupakan gabungan antara  perontok padi dan sepeda sehingga mudah dipindahkan. Obelt Thesher dibuat untuk mengurangi jumlah susut padi sehingga bisa meningkatkan efisiensi.

Inovasi-inovasi tersebut adalah sebagian dari sebelas inovasi yang telah dipublikasikan. Semenjak yayasan ini didirikan, sebenarnya sudah ada tiga belas inovasi, namun dua diantaranya gugur karena biaya penggunaannya jauh lebih mahal daripada teknologi yang lama. “Ini kan inovasi, jadi harus memberikan solusi bagi permasalahan kehidupan masyarakat,” jelasnya.

Di akhir acara, Suryana mengingatkan kepada peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa UGM agar ikut menyumbangkan inovasinya. Sebelas inovasi telah dikembangkan oleh INOTEK, tapi tidak ada satu pun yang berasal dari UGM. “Kami menunggu inovasi dari teman-teman, jangan sampai kalah dengan universitas lain seperti UNDIP atau UNIBRAW,” tandasnya. [Dian Puspita, Khairul Arifin]

balairungBPPMmahasiswaperspertaniantechnopreunershipugm
1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Pemilihan Pengurus Baru KATGAMA 2015

Tokoh Nasional Ajak Lawan Korupsi

Tindak Kekerasan Berkedok Perbedaan

UUK Diprediksi Tidak Panjang Umur

Bahas Perubahan Iklim, Gandeng Masyarakat Dunia

Panggung Bebas, Seni dalam Komunitas Berbeda

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM