Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Anggaran Serampangan
Diskusi Serikat Pekerja Kampus, Soroti Ketidakjelasan Proses Etik...
Perayaan dan Perlawanan Perempuan Mahardika di Panggung Merdeka...
Kampus Kelabu bagi Perempuan
Diskusi Proyek Penulisan Sejarah Resmi, Soroti Ketiadaan Peran...
Sisi Lain Makanan Tradisional dalam Buku Sepinggan Indonesia
Warga Pesisir Semarang dalam Getir Tata Kelola Air
Kekacauan di Balik Bahan Bakar Hijau
Mitos Cah Gelanggang dan Spirit Gelanggang
Penulisan Ulang Sejarah, Upaya Pemerintah Melupakan Korban Pelanggaran...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Kondisi Pekerja UGM Tunjukkan Urgensi Pembentukan Serikat Pekerja Kampus

Juli 14, 2024

©Aiken/Bal

Pada Kamis (11-07), Komite Persiapan Serikat Pekerja UGM menyelenggarakan diskusi bertajuk “Paparan dan Diskusi Hasil Survei Kondisi Kerja di UGM”. Diskusi di Taman Sansiro Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM itu memaparkan hasil riset kondisi pekerja UGM yang diikuti 136 dosen dan 75 tenaga kependidikan (tendik). Diskusi yang dimoderatori Suci Lestari Yuana menghadirkan Muchtar Habibi selaku perwakilan Komite Persiapan Pekerja UGM dan Amalinda Savirani selaku Ketua Umum Serikat Pekerja Fisipol.

Mengawali diskusi, Muchtar memaparkan hasil riset mengenai kondisi kerja di UGM. Ia menyebutkan bahwa kontrak kerja yang mengatur hak dan kewajiban dosen maupun tendik tidak diatur dengan spesifik. “Di kontrak enggak ada kewajibannya, upah juga tidak diatur,” ujarnya. 

Terkait pendapatan dosen maupun tendik, lebih dari 60% dosen menganggap gaji yang diterima tidak sesuai dengan beban kerja, kualifikasi, dan kinerja. Hal yang sama juga dirasakan oleh 40% tendik yang gajinya ditambah Insentif Berbasis Kerja. “Tuntutan kerja banyak, tapi pendapatannya tidak begitu banyak. Sampai ada dosen yang jadi [menambah pendapatannya-red] entah sebagai konsultan, business man, blantik mobil, atau pemilik toko,” ungkapnya lebih lanjut. 

Muchtar juga menambahkan bahwa dosen merasa adanya beban kerja berlebih sehingga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan di luar pekerjaan menjadi timpang sebelah. Ia menilai bahwa hal ini semakin diperparah oleh pekerjaan yang harus dilakukan di luar lingkungan kampus. “Dosen kecenderungannya [di luar lingkungan akademik-red] mroyek,” terang Muchtar.

Tidak hanya itu, Muchtar juga mengatakan lebih dari setengah dosen UGM merasakan adanya gangguan fisik dan mental. Ia menyebut salah satu dosen kerap merasa stres dan cemas karena tidak adanya kepastian waktu pencairan honor. “Sedangkan banyak tanggungan yang harus dibayar,” lanjut Muchtar mengutip ucapan informan. 

Menanggapi Muchtar, Amalinda menyebut bahwa pekerja di sektor pendidikan tinggi berada dalam kondisi yang rentan, termasuk dosen. Menurutnya, tidak ada hubungan antara kenaikan biaya pendidikan tinggi dengan upah dosen karena telah terkunci di kontrak kerja. “Jadi, kita keren simbolnya aja, oh dosen UGM,” keluh Amalinda. 

Lebih lanjut, Amalinda menyampaikan pentingnya berserikat di UGM untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah pekerjaan para pekerja kampus. Ia melihat masing-masing pekerja tidak menganggap penting solusi secara kolektif sehingga massa sulit terbentuk. Bagi Amalinda, hal ini pula terjadi karena keterbatasan kehadiran di tengah kesibukan sebagai staf pengajar maupun tendik. “Akhirnya ngelibatin mahasiswa juga karena kita enggak punya waktu,” pungkasnya. 

Penulis: Dhony Alfian dan Felycia Devizca
Penyunting: Alfiana Rosyidah
Fotografer: Aiken Gimnastiar

1
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Serikat Pekerja Kampus, Soroti Ketidakjelasan Proses Etik...

Perayaan dan Perlawanan Perempuan Mahardika di Panggung Merdeka...

Diskusi Proyek Penulisan Sejarah Resmi, Soroti Ketiadaan Peran...

Sisi Lain Makanan Tradisional dalam Buku Sepinggan Indonesia

Penulisan Ulang Sejarah, Upaya Pemerintah Melupakan Korban Pelanggaran...

Aksi Okupasi UGM Soroti Masalah Penyempitan Ruang Kegiatan...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Anggaran Serampangan

    Agustus 28, 2025
  • Diskusi Serikat Pekerja Kampus, Soroti Ketidakjelasan Proses Etik di Kampus

    Agustus 24, 2025
  • Perayaan dan Perlawanan Perempuan Mahardika di Panggung Merdeka 100%

    Agustus 18, 2025
  • Kampus Kelabu bagi Perempuan

    Agustus 9, 2025
  • Diskusi Proyek Penulisan Sejarah Resmi, Soroti Ketiadaan Peran Masyarakat

    Juli 21, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM