Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal
Anis Farikhatin: Guru Kesehatan Reproduksi Butuh Dukungan, Bukan...
Tangan Tak Terlihat di Balik Gerakan Rakyat
Tantangan Konservasi dan Pelestarian Lingkungan dalam Diskusi Ekspedisi...
LBH Yogyakarta Ungkap Intimidasi Aparat Pasca-Aksi Agustus di...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Pendidikan Tinggi Semakin Mahal, APATIS Beri Somasi kepada Pemerintah

Juni 5, 2024

©Vigo/Bal

“Hidup rakyat Indonesia! Hidup pendidikan!” seru massa aksi “Stop Kuliah Mahal” yang dihadiri berbagai unsur masyarakat. Pada Senin (03-06), aksi digelar serentak di tujuh titik penjuru Indonesia, tepatnya di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, Riau, hingga Nusa Tenggara Barat. Di Yogyakarta, aksi dilaksanakan di depan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wilayah V. Gerakan tersebut dimotori oleh Aliansi Pendidikan Gratis (APATIS) dan didukung oleh 134 lembaga dan masih akan terus bertambah.

Aksi ini membawa somasi terbuka terkait permasalahan uang kuliah mahal yang ditujukan kepada pemerintah. Panji Mulkillah, Tim Kajian Hukum APATIS, menyampaikan bahwa somasi yang dibawa memuat total sepuluh tuntutan, dengan sembilan diantaranya sebagai penyokong tuntutan utama. “[Tuntutan-red] utamanya cabut Peraturan Menteri, Kebudayaan, Riset, Riset dan Teknologi Nomor 2 Tahun 2024,” tegasnya. 

Menurut Panji, salah satu tujuan aksi adalah memberi peringatan kepada pemangku kebijakan selaku calon tergugat. Ia menuturkan bahwa somasi tersebut khususnya ditujukan kepada Presiden Joko Widodo dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim. “Makanya, ini aksinya di kantor Kemendikbud,” jelasnya. 

Panji menegaskan pemerintah diberi jangka waktu selama 17 hari terhitung sejak aksi terlaksana untuk merespons. Ia menjelaskan, jika pemerintah tidak kunjung menindaklanjuti somasi sampai tenggat waktu yang ditetapkan, APATIS akan menempuh jalur hukum. “[Jika tidak ditindaklanjuti-red] akan diajukan gugatan ke Mahkamah Agung,” tegasnya. 

Pada aksi tersebut, berbagai organisasi kemasyarakatan dan lembaga mahasiswa menyuarakan keprihatinan serta keresahan mengenai isu mahalnya pendidikan dalam mimbar terbuka. Salah satu orator dari pihak mahasiswa menyampaikan bahwa biaya pendidikan yang mahal merupakan bentuk penindasan golongan tak mampu. “Sistem UKT adalah bentuk kolonialisme baru,” ucap mahasiswa tersebut.

Lebih lanjut, Yuliani Putri, pimpinan Persatuan Orang Tua Peduli Pendidikan (Sarang Lidi), menyatakan dukungannya terhadap aksi ini. Sebagai orang tua, ia merasakan sulitnya membiayai pendidikan tinggi anak. Yuli mengakui bahwa banyak orang tua di Sarang Lidi yang kesulitan membiayai pendidikan tinggi anaknya. “Gaji orang tua tidak hanya untuk menguliahkan satu anak, tapi untuk makan anggota keluarga yang lain, menyekolahkan adik-adiknya, dana kesehatan, dan lainnya,” tuturnya. 

Bagi Yuli, seharusnya pemerintah mengingat isi pembukaan dan pasal 31 UUD 1945 terkait kewajiban negara dan hak tiap warga negara atas pendidikan. “Terus nanti yang mau menjaga Indonesia siapa? Apakah kita mau disuruh bodoh? Supaya dijajah seperti yang dulu-dulu?” ucapnya. Ia tak habis pikir dengan pemerintah yang mempersulit aksesibilitas pendidikan dengan permasalahan biaya. 

Selama menunggu tindak lanjut pemerintah atas tuntutan yang telah dilayangkan, Panji menyatakan bahwa akan ada aksi-aksi lanjutan. Selama itu pula APATIS tetap mengimbau solidaritas dari seluruh pihak untuk turut mengawal isu ini. Pengawalan ini dapat dilakukan melalui penandatanganan petisi somasi yang berisi kajian tentang mahalnya UKT. 

Reporter: Nafiis Anshari dan Vigo Joshua
Penulis: Fanni Calista
Penyunting: Siti Fatria Pelu
Fotografer: Vigo Joshua 

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Tantangan Konservasi dan Pelestarian Lingkungan dalam Diskusi Ekspedisi...

LBH Yogyakarta Ungkap Intimidasi Aparat Pasca-Aksi Agustus di...

Diskusi dan Perilisan Zine Maba Sangaji Basuara, Tilik...

Diskusi Buku dan Budaya, Soroti Peran Sastra Melawan...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025
  • Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam Sikapi Diskriminasi

    November 24, 2025
  • Kota Batik yang Tenggelam

    November 21, 2025
  • Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal

    November 21, 2025
  • Membumikan Ilmu Bumi

    November 21, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM