Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KABARKILASREDAKSI

Antologi Darah Juang: Upaya Meneruskan Darah Juang Reformasi

November 1, 2021

©Bintang/Bal

Kamis (28-10), Paguyuban Darah Juang mengadakan peluncuran antologi puisi bertajuk “Darah Juang” yang berlangsung di Kopi Lembah, Universitas Gadjah Mada. Acara yang dipimpin oleh FX Rudy ini dihadiri sekitar 30 partisipan, dengan beberapa tokoh seperti John Tobing dan Afnan Malay. Pembacaan puisi, pembagian buku, dan menyanyi bersama merupakan bagian dari kegiatan yang diselenggarakan. Selain bertujuan untuk menyalurkan semangat dari anggota paguyuban, acara ini juga merupakan upaya anggota paguyuban untuk tetap produktif di tengah pandemi.

Acara diawali dengan pembacaan Sumpah Mahasiswa karya Afnan Malay. “Sumpah Mahasiswa menjadi karya ikonik saat itu untuk melawan orde baru,” ujar Afnan. Dia juga mengungkapkan bahwa ada karya ikonik lainnya yang berasal dari anggota paguyuban, yaitu lagu Darah Juang gubahan John Tobing yang kemudian menjadi nama dari paguyuban sekaligus menjadi judul dari antologi puisi mereka. 

Dalam proses pembuatan antologi ini, Rudy bercerita bahwa ia memicu para anggota paguyuban untuk membuat antologi dan respons yang didapatkannya luar biasa. Bahkan, menurut Rudy, mereka langsung mengirimkan karya puisinya yang bagus-bagus sehingga jadilah antologi ini. 

Menambahkan ceritanya, Rudy berkata bahwa puisi dalam antologi Darah Juang ini berisi ungkapan personal para anggota paguyuban mengenai pandemi, tetapi tidak keluar dari konteks persoalan yang diperjuangkan oleh paguyuban. Lebih lanjut, menurutnya, pandemi telah merubah tatanan yang mengharuskan setiap orang untuk tetap produktif. “Itu yang kemudian kita coba untuk terus gulirkan, terus wacanakan melalui karya, melalui karya itu yang penting, jadi tidak hanya sekedar diskusi saja tetapi harus ada bukti nyata,” ucapnya. 

Berkaitan dengan kegiatan diskusi, Afnan berpesan bahwa bagaimanapun pertemuan fisik itu tetap memiliki unsur penting dalam relasi pertemanan apalagi mahasiswa. “Interaksi fisik akan menjadi wadah bagi darah muda untuk mengasah pikiran dan saling berdiskusi dari berbagai perspektif,” lanjut Afnan. Selain itu, ia menambahkan bahwa acara ini dibuat untuk mencetak penerus yang akan melanjutkan perjuangan sebelumnya.

Kus, pembawa acara dalam kegiatan ini, mengungkapkan bahwa acara ini berhasil memberi tamparan nyata pada para pendengarnya tentang kisah para alumni yang diceritakan pernah dihajar dan dipopor. Menurutnya, acara ini bisa menjadi patokan semangat bagi anak muda seraya melanjutkan perjuangan tersebut. “Selama di negara ini ada penguasa, kita harus mengawalinya sampai titik darah kita, penguasa juga manusia,” tutur Kus. 

Menurut Kus, perbedaan zaman membawa perbedaan dalam mengawal para penguasa, para generasi muda tidak harus melakukannya dengan aksi demonstrasi seperti dulu, tetapi juga bisa dengan cara-cara lain seperti menyebarkan kabar baik agar perjuangan terus dilanjutkan. “Acara ini mengingatkan kita untuk terus berjuang entah dengan siapa pun dan cara apa pun sehingga ini menjadi sesuatu yang diingat oleh penguasa,” tambah Kus.

Laksito Lintang, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM yang datang ke acara, memberi ulasan dengan menyebut partisipan-partisipan di acara ini merupakan bajingan (supir reformasi atau aktivis) pada masanya. “Saya ingin menjadi salah satu bajingan tersebut,” tambahnya.

Penulis: Wahid Nur Kartiko, Siti Fatria Pelu, dan Selma Karamy (Magang)
Penyunting: Fauzi Ramadhan
Fotografer: Aditya Bintang (Magang)

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026
  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM