Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
Newest post
IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...
Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi
Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...
Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat
Gaboleh Pilih-Pilih Makanan
Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • WAWANCARA
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
    • INSAN WAWASAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
  • Menu Item
KILAS

Mengapresiasi Seni dalam Tali Silaturahmi

Mei 3, 2015
Sastrawan Emha Ainun Najib sedang memberi sambutan dalam Forum mBulaksumuran. Di sebelah kirinya hadir pula Aprinus Salam, sedangkan di sebelah kanannya tampak Budi Sarjono. Forum ini berlangsung di Pusat Studi Kebudayaan UGM, Kamis (30/4). ©Ibnu

Sastrawan Emha Ainun Najib sedang memberi sambutan dalam Forum mBulaksumuran. Di sebelah kirinya hadir pula Aprinus Salam, sedangkan di sebelah kanannya tampak Budi Sarjono. Forum ini berlangsung di Pusat Studi Kebudayaan UGM, Kamis (30/4). ©Ibnu

Hujan gerimis membasahi halaman Pusat Studi Kebudayaan (PSK) UGM, Kamis (30/04). Di sana terbentang tikar yang diduduki oleh penyair, budayawan, sastrawan, dan penikmat seni. Di antara mereka ada seorang penyair terkenal, Emha Ainun Nadjib atau kerap disapa Cak Nun. Tidak hanya Cak Nun, di sana juga terlihat sastrawan ternama yaitu Iman Budi Santosa dan Budi Sarjono. Mereka berkumpul untuk menghadiri sebuah acara yang bernama “Forum mBulaksumuran”. Acara ini merupakan kerjasama PSK dan Lingkar Budaya Sleman (LBS).

Forum mBulaksumuran diawali dengan sambutan dari Kepala PSK UGM, Dr. Aprinus Salam, M.Hum. Aprinus menjelaskan bahwa awalnya dia dan Budi Sarjono ingin membuat sebuah acara kumpul bersama untuk membacakan puisi dan cerpen. “Forum ini digagas untuk berkumpul, berkreasi, bersilaturahmi, dan berbagi pengalaman,” tuturnya. Aprinus menambahkan, acara ini juga bertepatan dengan hari lahir Prof. Umar Kayamsastrawan sekaligus guru besar di UGM.

Menurut Cak Nun, hal yang perlu digarisbawahi tentang Umar Kayam dalam forum ini adalah peran dan posisi beliau dalam aspek sosial budaya. Cak Nun juga mengaitkan ceritanya dengan keadaan Indonesia sekarang. Dia menyatakan bahwa bangsa Indonesia sedang berada dalam gagasan Umar Kayam mengenai perubahan-perubahan. “Saya rasa kita wajib melakukan perubahan dalam segala aspek,” jelasnya.

Setelah itu, acara beralih ke pembacaan karya sastra baik geguritan, puisi, maupun cerpen. Penampilan ini dimulai dengan pembacaan geguritan berjudul Nasibe Indonesia yang dibawakan oleh Bambang Rusinggih. Geguritan tersebut menceritakan keadaan pemerintahan di Indonesia yang tidak teratur dan sering mengalami perubahan. Hal ini tercermin dalam kutipan pendhak-pendhak ganti mentri, ganti rancangan mulangan. Artinya, bangsa Indonesia sering mengganti menteri dan rancangan kurikulum pendidikan dalam waktu yang singkat.

Penampilan karya seni dilanjutkan dengan musikalisasi puisi yang dinyanyikan oleh Rahmat. Penampilan itu diiringi dengan alunan gitar akustik. Setelah musikalisasi puisi, karya yang dibacakan adalah sebuah cerpen berjudui 1000 Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam. Pembacaan cerpen dilakukan dengan menggunakan ekspresi wajah dan suara yang berbeda pada setiap tokoh.

Setelah melewati serangkaian acara, forum ini diakhiri dengan sarasehan yang menyediakan ruang bagi semua orang untuk berdiskusi. Topik yang dibicarakan yaitu kondisi Indonesia sekarang. Pelaksanaan rangkaian acara tersebut sesuai dengan makna nama mBulaksumuran. Budi Sarjono berpendapat bahwa Bulak memiliki kesan sawah yang menjadi tempat kita bermain-main. “Saya berharap nantinya orang yang berkumpul disini bisa menjadi orang yang kreatif,” pungkasnya. [Ni Luh Putu Juli Wirawati]

Cak Nunmbulaksumuransultan
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja...

Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam...

Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal Dibalas Kekerasan Ormas...

Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Pos Terbaru

  • IWD Jogja 2026 Soroti Penindasan Perempuan Kelas Pekerja dan Kelompok Rentan

    Maret 11, 2026
  • Napas Panjang Relokasi Imbas Ambisi Proyek Sumbu Filosofi

    Maret 11, 2026
  • Diskusi LSF Ungkap Kekerasan Aparat terhadap Perempuan dalam Konflik Agraria PSN Banten

    Maret 7, 2026
  • Apakah ada Hari Esok untuk Aku Meminum Obat

    Maret 1, 2026
  • Gaboleh Pilih-Pilih Makanan

    Maret 1, 2026

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM