Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal
Anis Farikhatin: Guru Kesehatan Reproduksi Butuh Dukungan, Bukan...
Tangan Tak Terlihat di Balik Gerakan Rakyat
Tantangan Konservasi dan Pelestarian Lingkungan dalam Diskusi Ekspedisi...
LBH Yogyakarta Ungkap Intimidasi Aparat Pasca-Aksi Agustus di...

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KABARKILAS

Mahasiswa Baru Tolak KIK

Agustus 23, 2010

Pasca mengikuti Pelatihan Pembelajaran Sukses Mahasiswa Baru (PPSMB) 2010, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya (FIB) menuju Grha Sabha Pramana.Mereka berpartisipasi dalam aksi yang dibuat oleh Gerakan Anti Komersialisasi Kampus (GERTAK) (22/8). Aksi tersebut dilakukan untuk menekan pihak rektorat agar menghapuskan kebijakan Kartu Identitas Kendaraan (KIK). Semua mahasiswa baru FIB menggoreskan tandatangan sebagai tanda bahwa mahasiswa baru pun menolak kebijakan ini.

Mulyadi selaku bagian pengembangan GERTAK menyatakan bahwa mahasiswa barulah yang paling dirugikan oleh kebijakan ini. Karena itu, aksi tersebut dilakukan secara bersama agar suara seluruh mahasiswa didengar oleh para petinggi kampus. Ia juga mengatakan bahwa aksi ini akan lebih efektif dibanding dengan aksi-aksi sebelumnya. “Aksi-aksi sebelumnya muncul secara sepihak, hanya sebatas letupan-letupan kecil dan tidak melibatkan seluruh mahasiswa.” ungkapnya.

GERTAK sendiri menjelaskan bahwa ada tujuh alasan mereka menolak KIK. Alasan utama adalah mahasiswa UGM menjadi elitis karena sistem educopolis yang menjiplak universitas-universitas ternama di dunia barat. Sehingga mahasiswa UGM menjadi lebih akademis individualis dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Selain itu, kebijakan ini juga menjauhkan UGM dari masyarakat.

Para mahasiswa baru yang terlibat menyambut antusias aksi goresan tandatangan tersebut. “Dengan adanya kegiatan seperti ini, saya dan mahasiswa baru lainnya dapat berpartisipasi melawan kebijakan KIK,” ungkap Budi Santoso mahasiswa Jurusan Ilmu Kepariwisataan 2010. Seperti tak mau kalah, Imam Musayab mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia 2010 sependapat dengan Budi. “UGM adalah kampus kerakyatan, kalau hanya lewat saja harus bayar, apakah UGM tidak malu dengan Keraton yang menghibahkan tanah kepada kampus ini,” kata Imam menggebu.

Mulyadi menambahkan bahwa aksi semacam ini tidak akan terhenti sampai hari ini saja. Ia mengatakan akan ada aksi berikutnya untuk terus menolak kebijakan ini. “Tanggal 26 Agustus besok kami akan mengadakan aksi yang lebih besar lagi, masa yang terlibat juga tidak hanya dari mahasiswa baru namun dari seluruh angkatan,” tegasnya. [Aza]

fibgertakkikmahasiswa barusastra indonesiaugm
0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Tantangan Konservasi dan Pelestarian Lingkungan dalam Diskusi Ekspedisi...

LBH Yogyakarta Ungkap Intimidasi Aparat Pasca-Aksi Agustus di...

Diskusi dan Perilisan Zine Maba Sangaji Basuara, Tilik...

Diskusi Buku dan Budaya, Soroti Peran Sastra Melawan...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025
  • Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam Sikapi Diskriminasi

    November 24, 2025
  • Kota Batik yang Tenggelam

    November 21, 2025
  • Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal

    November 21, 2025
  • Membumikan Ilmu Bumi

    November 21, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM