Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Diskusi Film DEMO(k)RAS(i) Ungkap Ketidakadilan Iklim oleh Pemerintah

September 20, 2025

©Huda/Bal

Social Research Center (SOREC) bersama Yayasan Madani Berkelanjutan dan Climate Reality Indonesia menyelenggarakan nonton bareng dan diskusi publik yang bertajuk “Kemana Demokrasi?” di Auditorium Fisipol UGM. Diskusi ini menyoroti ketidakadilan iklim dan kelalaian pemerintah dalam agenda pembangunan melalui film bertajuk “DEMO(k)RAS(i)” yang disutradarai oleh Ahsania Aghneta. Diskusi yang diselenggarakan pada Rabu (17/08) ini dipimpin oleh Gregorius Ragil, sekretaris SOREC, sebagai moderator. Turut hadir dalam diskusi tersebut Arifah Handayani, Arami Kasih, dan Andreas Widyanta sebagai panelis. 

Pada bagian pertama, film ini memperlihatkan keadaan masyarakat di perkotaan yang terdampak polusi akibat perubahan iklim. Andreas selaku ketua SOREC menjelaskan bahwa krisis iklim tidak hanya soal data dan statistik, melainkan juga pengalaman personal yang menimbulkan kecemasan mendalam pada individu. “Saya harus mengatakan bahwa film ini terlahir dari representasi krisis sang sutradara itu sendiri, yaitu adalah eco-anxiety,” jelasnya.

Tak hanya masyarakat perkotaan,  beberapa tempat di pesisir pantai utara turut terdampak perubahan iklim. Aghneta menyoroti peran  pemerintah yang justru memperparah keadaan dengan membangun proyek besar dengan skala yang tidak masuk akal. Ia mencontohkan kasus di Demak yang sebagian besar daratannya telah terendam banjir rob secara permanen. “Demak itu sudah tinggal 20%, itu banjir yang tidak bisa surut lagi, ga kayak di Jakarta, kaya di Bali, tanah mereka [Demak – red] udah hilang,” ujarnya.

Arifah selaku perwakilan dari Climate Reality Indonesia menambahkan bahwa permasalahan  iklim bukan hanya persoalan lingkungan semata, tetapi berkaitan langsung dengan masyarakat luas. Ia menyoroti krisis iklim bukan hal yang abstrak, melainkan dirasakan langsung oleh kelompok-kelompok rentan yang justru minim kontribusinya terhadap terciptanya krisis iklim. “Ini bukan hanya tentang es kutub mencair, ini berkaitan juga sama teman-teman disabilitas, nelayan, sama masyarakat yang sangat luas,” tukas Arifah.

Menambahkan Aghneta soal kekeliruan pemerintah, Andreas menyatakan bahwa terdapat keberpihakan yang terlihat dalam perusakan lingkungan oleh pemerintah. Ia menerangkan bahwa pemerintah juga mengabaikan keluhan masyarakat demi kepentingan segelintir pihak.  “Pemerintah kita hari ini tidak pernah hadir sendirian, mereka selalu hadir bersama oligarki,” tegasnya. 

Di akhir diskusi, Aghneta menyoroti kurangnya transparansi mengenai Nationally Determined Contributions (NDC) Indonesia dalam Paris Agreement. Menurutnya, masih sangat sedikit masyarakat yang mengetahui tentang ini. Ia merasa, dalam hal ini pemerintah sengaja tidak melibatkan masyarakat untuk menagih janji yang diberikan. “Kebangetan itu sampai kita, rakyat sendiri tidak tau, kalau misalnya kita mengobral janji, tidak cuma ke rakyatnya, tapi keluar sana [mancanegara – red] juga,” tegas Aghneta.

Penulis: Athallah Adinata
Penyunting: Annisa Dwi Nurhidayati
Fotografer: Misbakhul Huda

0
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan...

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Forum Kamisan Daring Perluas Jejaring Perlawanan Terhadap Pertambangan Energi Hijau Panas Bumi

    Februari 16, 2026
  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026
  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM