Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KILAS

Masyarakat Hadapi berbagai Tantangan dalam Diseminasi Transisi Energi

November 7, 2023

©Parama/Bal

Jumat (03-11), 350.org Indonesia bersama Climate Rangers Jogja menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Menuju Energi Bersih yang Adil: Menciptakan Transisi Tanpa Penindasan”. Diskusi ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan Power Up yang dilaksanakan sejak 29 Oktober hingga 4 November di berbagai kota di Indonesia. Diskusi yang berlangsung secara daring tersebut bertujuan untuk mengingatkan urgensi revolusi energi terbarukan di tengah desakan perubahan iklim. Nova Ruth, seorang seniman sekaligus penggagas Arka Kinari; Bambang Muryanto, jurnalis The Jakarta Post; dan Silsilia Nurmala, Pimpinan Tim 350.org Indonesia turut hadir dalam diskusi ini. 

Diskusi dibuka dengan video profil Arka Kinari sebagai aksi kampanye kesadaran lingkungan yang digagas Nova. Ia menjelaskan bahwa Arka Kinari merupakan sebuah kapal layar yang membawa pesan-pesan perubahan iklim melalui seni. Melalui Arka Kinari, Nova mencoba mengubah pola pikir yang awalnya sebagai korban menjadi sosok yang mengambil peran dalam perubahan. “Kita sudah lihat sendiri kehancuran dunia di sekitar kita. Oleh karena itu, kita harus segera beraksi,” tegasnya. 

Bermula dari keresahannya akan lingkungan yang kerap terasa tak nyaman, Nova bersama pasangannya, Grey Filastine, menggagas Arka Kinari pada 2019. Ia menjelaskan bahwa sebagai seorang seniman, seni menjadi barometer sebuah perubahan sosial. Karya menurutnya menjadi satu-satunya media bagi seniman untuk mengekspresikan keresahannya. “Kami sebagai musisi ingin turut serta dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang sudah ada hari ini,” tambah Nova. 

Di sisi lain, Bambang menyoroti sulitnya penyebaran informasi mengenai isu-isu lingkungan. Ia melihat isu yang tergolong baru dan kerap bersinggungan dengan bahasa ilmiah menjadi salah satu tantangan akan penyebaran informasi isu lingkungan. Menurut Bambang, isu-isu tersebut masih bersifat elitis sehingga diperlukan upaya-upaya yang lebih serius untuk mewacanakannya. “Ada jarak antara isu lingkungan dengan masyarakat,” jelasnya. 

Lebih lanjut, Bambang berpendapat bahwa penyebab terciptanya jarak antara isu lingkungan dengan masyarakat berkaitan dengan peran media massa yang belum konsisten dalam menyuarakannya. Dari kacamata Bambang, berita terkait isu-isu lingkungan hanya bertahan dalam waktu singkat di masyarakat sebelum akhirnya tergerus oleh isu-isu yang lain. “Media massa hanya menulis di momen-momen tertentu seperti komitmen KTT G20 sebelum akhirnya lepas, terlebih lagi mendekati tahun Pemilu,” pungkas Bambang.

Perjuangan diseminasi transisi energi juga ikut diwartakan Silsilia. Dalam sesinya, ia membagikan semboyan Pass The Mic to The Most Impacted sebagai bentuk perhatiannya terhadap kelompok-kelompok yang rentan terdampak dalam transisi energi. Menurutnya, kelompok-kelompok tersebut juga haruslah diberi ruang untuk bersuara mengenai kondisi mereka. “Yang pegang mic harusnya adalah mereka yang mengalami langsung,” ucap Silsilia. 

Dengan pemberian ruang-ruang bicara, Silsilia berharap isu-isu ketidakadilan yang acap kali terlupakan dalam transisi energi dapat teratasi. Dalam transisi energi, menurutnya, tak boleh ada kelompok-kelompok yang dikorbankan, terutama kelompok-kelompok rentan seperti masyarakat adat. “No one is left behind. Tidak boleh ada yang ketinggalan di belakang, semua dari kita adalah bagian penting yang harus dicarikan solusinya,” pungkas Silsilia.

Penulis: Aghli Maula, Fitri Nurita, dan Riendy Tri Putra
Penyunting: Rais Aulia
Ilustrator: Parama Bisatya

2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual...

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Pesantren Bumi Cendekia Bagikan Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual di Pesantren Lewat Diskusi “Memutus Mata Rantai Kekerasan Seksual di Pesantren”

    Januari 28, 2026
  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM