Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KILASMagangREDAKSI

BUMN Caplok Tanah Adat, Warga Pantai Raja Tuntut Keadilan

Oktober 30, 2022

©Sony/Bal

Kamis (27-10), sekitar 40 masyarakat adat Desa Pantai Raja, Kampar, Riau melakukan lawatan ke Jakarta dalam rangka menyuarakan tuntutan pengembalian tanah adat Pantai Raja yang kini dikuasai oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V. Bersamaan atas lawatan tersebut, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengadakan konferensi pers bertajuk “Kembalikan Tanah Adat Pantai Raja: BUMN PT Perkebunan Nusantara Berhenti Rampas Tanah Rakyat!”. Beberapa narasumber hadir dalam konferensi pers ini, mulai dari Gusdianto dan Sarimah, perwakilan Masyarakat Adat Pantai Raja, Kampar Riau; Okto Yugo Setiyo, perwakilan dari Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) Riau; serta Boy Jerry Even Sembiring, Direktur Eksekutif (WALHI) Riau.

Pratiwi Febry selaku moderator mengawali konferensi dengan mengungkapkan bahwa konflik masyarakat adat dan PTPN V ternyata sudah terjadi selama lebih dari 38 tahun sejak 1984. Kenyataan ini membuat Gustianto mengatakan bahwa ia sudah lelah dan jengkel sehingga rela datang jauh-jauh dari Riau ke Jakarta. “Kami mau 150  hektar lahan karet yang punya sejarah historis tersebut. Karena di situlah kuburan leluhur kami. Kami tidak mau dijanjikan cari lahan lagi, kami hanya mau dikembalikan,”tuturnya.

Melanjutkan Gustianto, Sarimah mengatakan bahwa masyarakat sudah berkali-kali berusaha mengajukan kasus ini ke pemerintah, tetapi pemerintah justru abai dan bahkan mengkriminalisasi masyarakat. “Pernah suatu ketika masyarakat bawa brondol minyak sawit 15 kilogram malah ditangkap polisi,” imbuhnya. 

Mengenai penanganan yang buruk dari pemerintah, Okto mengatakan masalah perampasan tanah rakyat dari tahun 1999 hingga kesepakatan-kesepakatan pada tahun 2019 tidak pernah diindahkan oleh PTPN V. Tindakan ini justru berlawanan dengan instruksi dari Presiden. “Padahal Jokowi pernah menghimbau agar tidak menggunakan hukum untuk menjerat rakyat kecil, tetapi dalam praktiknya ternyata pemerintah abai,” tambahnya. Okto menyampaikan sampai saat ini tidak ada respon dari Kementerian BUMN terhadap masalah ini.

Sependapat dengan Okto, Boy mengatakan jika dilihat dari prosesnya, yang bandel adalah BUMN. Ia menambahkan PTPN pada 1984 mengaku menguasai 150 hektar tanah masyarakat dan sekarang bertambah menjadi 1013 hektar. “Seharusnya Gubernur dan Bupati Kampar ikut serta karena ini menyangkut masalah tanah rampasan dari rakyat,” jelasnya.

Sebagai penutup, Pratiwi mengingatkan bahwa konflik-konflik agraria seperti ini tidak hanya terjadi di Riau, tetapi juga banyak wilayah Indonesia, salah satunya ada di Makassar PTPN XIV. Ia melihat permasalahan masyarakat dengan BUMN menjadi masalah yang tak pernah selesai hingga saat ini. “Kami melihat program reforma agraria yang dikoar-koarkan  pemerintah ini adalah bentuk penyelewengan reforma agraria itu sendiri. Kami mempertanyakan peran pemerintah di sini,” pungkasnya.

Penulis: Anindya Verawati, Annisa Luthfia Widya Kusuma, dan Cikal Pasee Uria Timur (Magang)
Penyunting: Ilham Maulana
Fotografer: Allief Sony Ramdhan Aktriadi (Magang)

4
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM