Balairungpress
  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
Newest post
Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...
LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...
Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif
Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...
Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...
Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...
Kota Batik yang Tenggelam
Titah AW: Jurnalisme Bisa Jadi Kanal Pengetahuan Lokal
Membumikan Ilmu Bumi
Kuasa Kolonial Atas Pangan Lokal

Balairungpress

  • REDAKSI
    • KILAS
    • ALMAMATER
    • LAPORAN UTAMA
    • APRESIASI
    • INSAN WAWASAN
  • NALAR
    • WAWASAN
    • KAJIAN
  • REHAT
    • ARSIP
    • BUKU
    • FILM
    • OPINI
    • SASTRA
  • BINGKAI
    • ANALEKTA
    • INFOGRAFIS
    • KOMIK
    • PERISTIWA
    • SKETSA
  • PIPMI
    • Direktori
    • Suplemen
    • PUBLIKASI
  • ENEN
  • IDID
KABARKILASREDAKSI

Krisis Kebebasan Akademik dalam Feodalisme Kampus

Februari 1, 2021

©Anas/Bal

Jumat (29-01), Wadah Aspirasi Mahasiswa (WAHAM) mengadakan diskusi dan bedah buku yang berjudul “Merebut Kembali Ruang Akademik.” Diskusi ini diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting. Dalam diskusi tersebut, hadir penulis dari buku tersebut yaitu Ahmad Shalahuddin. Diskusi ini secara khusus membahas mengenai terbatasnya ruang akademik akibat feodalisme kampus. 

Dalam buku tersebut, Ahmad berpendapat bahwa feodalisme dalam institusi kampus membuatnya sangat mudah dibajak oleh kepentingan korporasi dan penguasa. Lebih lanjut, ia menuturkan feodalisme kampus hanya akan menghasilkan kaum intelektual pengasong, yaitu kaum intelektual yang menghamba pada penguasa dan korporasi. “Kampus yang seharusnya menjadi ruang bebas justru dicederai oleh pihak internal kampus itu sendiri,” terangnya.

Ahmad mengatakan bahwa masih ada intelektual pengasong yang banyak berkeliaran di kampus. Ia menambahkan bahwa hal tersebut disebabkan oleh mengakarnya jeratan-jeratan feodal di kampus secara struktural. Menurutnya, ada banyak sekali mentalitas yang harus diubah oleh masyarakat khususnya mahasiswa dan kampus. “Jangan sampai kampus membatasi banyak hal dan merenggut kebebasan yang ada dalam kepala,” tandasnya.

Ahmad kemudian mengkritik peranan Majelis Wali Amanat (MWA). Ia menegaskan bahwa MWA sangat rawan disusupi oleh pihak luar, karena MWA adalah forum tertinggi di perguruan tinggi yang memegang peran strategis dalam hal kebijakan kampus. Lebih lanjut, ia mengatakan bentuk campur tangan negara tampak nyata dengan adanya politik bagi-bagi gelar doktor kehormatan. “Kalau misalnya kampus sudah mulai bagi-bagi gelar doktor kehormatan, artinya mulai ada obral-obral kekuasaan,” imbuhnya.

Ahmad juga menyoroti banyaknya pembubaran diskusi yang berkaitan dengan komunisme, LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender), Syiah dan sebagainya. Menurutnya, sebagai lingkungan akademis, kampus tidak boleh dikooptasi oleh kepentingan apapun di luar kepentingan akademis.  Ia menambahkan bahwa kampus perlu menjamin adanya kebebasan dalam ruang-ruang berpikir. “Kampus tidak boleh dikekang dengan hal-hal yang sifatnya tabu dan sakral, jadi kalau ada sesuatu yang dianggap tabu seharusnya didiskusikan bukan malah dibungkam,” cetusnya.   

Salah seorang peserta diskusi, Riyan, mahasiswa Universitas Pancasila, menyebut bahwa mahasiswa harus adil dalam menentukan ukuran kebebasan akademik. Ia kemudian mempertanyakan stigma progresif bagi mahasiswa yang tidak berbicara mengenai hak sosial budaya dan kesetaraan. “Setiap mahasiswa harus meletakkan kebebasan akademik pada konteks dan bidang studi yang tepat,” tegasnya.

Penulis: Akbar Bagus Nugroho
Penyunting: Naufal Ridhwan Aly
Fotografer: Anas Fitra

2
Facebook Twitter Google + Pinterest

Artikel Lainnya

Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di...

LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di...

Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya...

Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua...

Diskusi Pendidikan dan Demokrasi, Ungkap Gagalnya Pendidikan dalam...

Berikan Komentar Batal Membalas

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pos Terbaru

  • Diskusi Buku “Pembangunan Untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami” Soroti Dampak Pembangunan Bagi Ruang Hidup Perempuan

    Desember 25, 2025
  • LPM Himmah UII Ungkap Ketimpangan Pendidikan Dasar di DIY melalui Pameran “Melihat Sekolahku”

    Desember 18, 2025
  • Diskusi Perempuan Adat Kritik Jerat Paksaan Industri Ekstraktif

    Desember 10, 2025
  • Muat Candaan Seksis, Buku Gadjah Mada Bercanda Karya Heri Santoso Tuai Kritik Mahasiswa

    Desember 5, 2025
  • Tilik Relasi Kolonial di Papua dalam Diskusi Papua Bukan Tanah Kosong

    November 24, 2025

Jurnal Balairung Vol. 2 No. 2 (2020)

Infografis

Moral Tanpa Tuhan

Sampah Kota Ditopang Swadaya Warga

Berebut Gunungkidul

Yu Par, Legenda Kantin bonbin

Menyambut Coming Out Age dengan Berubah Menjadi Panda

Hubungi Kami

Facebook Twitter Instagram Pinterest

Ads

Footer Logo
  • TENTANG KAMI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • AWAK
  • KONTAK
  • KONTRIBUSI

©2022 BPPM BALAIRUNG UGM